Oleh: Muhammad Ansyar
“Imagination is more important than knowledge” – Albert Einstein
FPP adalah sebuah organisasi kepenulisan bagi santri Pondok Pesantren Al Falah Putera. Didirikan tanggal 20 Agustus 2007 oleh M. Noor (saat ini kuliah di STAN) dan Zian Armie Wahyufi (saat ini kuliah di STIKES Muhammadiyah) ketika mereka masih kelas 3 Tsanawiyah. Cukup banyak santri yang antusias bergabung di organisasi ini sejak awal didirikannya. FPP waktu itu diketuai langsung oleh M. Noor.
Ketika selesai kelas 1 Aliyah (hendak naik ke kelas 2 Aliyah), M. Noor pindah sekolah ke SMAN 1 Martapura, otomatis semua urusan FPP dipangku oleh Zian hingga ia tamat dari Ponpes Al Falah. Saat kepengurusan Zian inilah FPP banyak melakukan kemajuan, seperti penerbitan majalah LITERASI tiap 2 bulan, mengadakan seminar yang diisi oleh sastrawan Kal-Sel yang sudah kawakan, menyebarkan virus menulis pada anak-anak SD di desa, serta tidak ketinggalan acara wisata atau sekadar makan-makan bersama.
Baca lanjutannya......
Oleh: Zian Armie Wahyufi
“Nanang ke Palestina?” “Mau apa dia ke sana?” “Apakah kuitannya mengijinkan?” Ah, aku bosan terus ditanya soal ini!
Setiap hari, di mana saja, di kost, di kampus, di kampung, selalu ada saja yang menanyakan hal itu. Seolah pembicaraan ini tak pernah dingin, seolah akulah yang paling tahu tentang Nanang. Seolah aku yang harus bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan Nanang!
Memang, awalnya aku dan Nanang satu kost. Kami berasal dari kampung yang sama, juga tamat dari pesantren yang sama. Bisa dibilang Nanang adalah teman selamanya, sejak masih kecil sampai kuliah. Dari kecil dia dikenal anak yang pintar dan cerdas, selalu juara satu di kelas. Aku sendiri selalu berada di bawahnya. Aku bersyukur punya teman sepertinya, dia tidak pelit dengan ilmu. Banyak hal yang aku tahu berkat dia.
Aku masih ingat, semua ini berawal sejak tujuh bulan lalu, bulan Maret. Aku lupa tanggal berapa, yang pasti itu terjadi pada hari Kamis, karena aku ingat hari itu ada mata kuliah Ushul Fiqih, dosennya Pak Khairul, dosen paling sangar!
Baca lanjutannya......
Oleh: Ahmad Kamaluddin
Aku masih menunggu Arif di samping tembok ujung pesantren. Semak belukar berdiri tinggi melebihi kepalaku. Matahari tampak sangat tua. Sebentar lagi adzan maghrib. Akh, jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Arif. Kakiku sudah penat berdiri, dan puluhan nyamuk sudah berusaha memangsaku.
Kresek kresek...
Suara derap langkah datang mendekat. Hatiku lega, penantian ini akan segera berakhir.
Kresek kresek kresek...
Suara itu sepertinya bukan cuma langkah satu orang. Sorotan lampu senter lalu lalang di semak belukar. Aku khawatir, ini bukan langkah Arif. Aku mulai waspada, ambil ancang-ancang, bersiap jika terjadi sesuatu. Aku mulai membayangkan sesuatu yang mengerikan terjadi. Dalam keadaan seperti ini, rasa takut, khawatir dan cemas seakan-akan menjelma menjadi hantu yang mengerikan. Ya, menjelma sesosok hantu yang selama ini diceritakan orang-orang meski aku sendiri tak pernah bertemu dengan fenomena ghaib semacam itu.
Kresek kresek...
Langkah itu terdengar semakin dekat. Sekujur tubuhku lemas. Aku berusaha merunduk menyembunyikan tubuhku di antara ilalang. Kulilitkan sorban di wajahku. Tapi aku masih berharap ini langkah Arif. Mataku terus mengawasi. Lampu senter seperti pistol-pistol yang pernah kutonton di film. Pistol itu mengeluarkan sinar yang akan meneropong titik sasaran menjadi bulatan berwarna merah. Ya. Gerak cahaya senter itu seperti sedang mencari sasaran tembak. Saat aku ingin memastikan, aku terkejut luar biasa.
“Tangkap! Santri...!!!”
Sial. Suara Ustadz Fuad! Kakiku berputar kencang, menembus semak belukar dan menjauh dari tembok. Meninggalkan Ustadz Fuad bersama orang-orang yang bersama beliau, mungkin anggota keamanan OSIS.
***
Baca lanjutannya......
Oleh: M. Zaini
Angin deras membuat daun yang berada di telapak tanganku pergi entah akan ke mana. Aku tak tahu. Yang jelas aku di sini, tersandar di bawah pohon sambil menunggu seseorang.
“Lebih baik memanjat pohon dari pada duduk di sini,” bathinku. Seraya memanjat pohon, banyak semut merah yang berlalu lalang. Aku berhati-hati agar tidak mengganggu mereka, namun akhirnya saat aku sampai di sebuah dahan kurasakan sakit yang menyengat di belakang leherku.
“Aawww..!” teriakku, sambil meraba-raba leher dan ternyata seekor semut merah. Semut merah itu lantas kuletakkan ke dahan. Sambil menikmati hembusan angin, aku teringat kembali kepada Rani. Dulu ia tunanganku dan tinggal selangkah lagi kami akan menuju kursi pelaminan.
“Kayaknya kisah cinta kita sampai di sini, Zai,” ujarnya padaku di suatu malam.
“Memangnya kenapa?” jawabku berusaha tenang, meski dalam hati perasaan berkecamuk tak karuan.
“Menurutku sia-sia, tidak ada artinya,” ucapnya blak-blakkan.
Baca lanjutannya......
Oleh: Farid Ma’ruf
“Terimakasih, Mas!” ucapku bersama sepercik senyum tulus pada pembeli martabak terakhirku hari ini.
Jingga di ufuk sana perlahan lenyap, pertanda malam mulai menampakkan wajah pekatnya. Awan menutupi bulan. Gemintang pun turut bersembunyi di balik selimut hitamnya. Udara mendingin. Sepertinya hujan pun akan turun.
Alhamdulillah, martabakku kini habis terjual. Membuat kantongku sedikit menebal. Aku pun bergegas membereskan gerobak martabak milikku, bersiap pulang. Badan ini amat lelah rasanya.
“Duluan, No!” seruku pada Pono, penjual terang bulan yang memarkir gerobaknya tak jauh dari gerobakku. Ia hanya membalas dengan senyuman, nampaknya sedang sibuk melayani pembeli.
Kudorong gerobakku menyusuri pinggiran jalan raya yang masih ramai ini, karena malam memang belum matang seutuhnya. Sementara deduri dingin malam semakin menusuk-merasuk ke dalam tulang. Kurasakan gerimis mengembun. Kuharap hujan memberiku waktu untuk sampai di rumah terlebih dahulu.
Di setiap ayunan kaki, sesekali kulirik kaca gerobak martabakku ini. Di sana terpampang tulisan: “MARTABAK LISA”. Wajah istriku pun seketika menari-nari di ujung mata. Lisa, ya, itu nama istriku. Istri yang kunikahi enam bulan lalu. Dan syukurlah, tempo itu cukup bagiku untuk menumbuhkan rasa cinta kepadanya, nama martabak itu adalah salah satu buktinya. Dan yang kutahu, Lisa pun demikian mencintaiku. Semoga.
Baca lanjutannya......
Oleh: Arief Rahman Heriansyah
Musim gugur akan segera berakhir. Udara pada musim ini membuat banyak penduduk menggigil setiap harinya. Pohon citrus di halaman rumah besar itu pun hanya tinggal sedikit yang berwarna merah tua. Rumah itu bertingkat dua. Di sebuah jendela besar lantai atas, seorang gadis kecil masih terpaku mamandangi kepergian ayahnya. Dengan seragam militer lengkap dengan senjata, ayahnya baru saja keluar dari pintu gerbang rumah yang terlampau besar bagi penduduk sekitar. Ada beberapa serdadu mengiringi langkah Ayah gadis kecil itu. Ketika ayahnya hendak masuk ke mobil, para serdadu itu kemudian memberikan hormat lalu mereka ikut masuk ke dalam mobil. Saat mobil yang hanya dimiliki para tentara itu mulai melaju, gadis kecil di jendela itu semakin murung, pipinya merona kemerahan. Dipeluknya erat boneka panda besar hadiah ulang tahunnya yang ke delapan tahun. Hatinya kembali dingin, sedingin cuaca sekarang ini. Khadija, seorang pelayan di rumah besar ini tampak sedang membersihkan debu-debu di dinding rumah yang berarsitektur klasik dan tampak berkelas.
Baca lanjutannya......
Oleh: Radiannor
Sejak kau tinggalkan, Ibu. Di sini aku selalu kesunyian dan merasa sepi.
Dahulu kau selalu ada di sampingku, bahkan memanjakanku. Tapi sekarang semua keindahan dan kebahagiaan itu hilang. Aku tinggal sendiri, Ibu. Ayah kini tinggal bersama penggantimu.
“Jalan-jalan yuk, Neza,” Onen, pacarku mengirim SMS.
Kusapu air mata dengan tisu putih. Aku beranjak dari kamar dan menuju depan rumah untuk menunggu Onen, pacarku itu, setelah aku menyetujuinya untuk dijemput. Sebuah mobil BMW mewah berwarna hitam kemudian berhenti tepat di depan rumahku. Onen turun. Kacamatanya hitamnya serasi dengan mobil mewahnya. Rambut panjangnya yang seperti orang Korea menambah dia percaya diri, dan wajahnya yang putih dan tampan itu, selalu membuat aku cinta dan sayang padanya.
“Gimana, bisa sekarang kita jalannya?” Dia menatapku sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk dan memblasa senyumnya.
Ibu, aku titip dulu rumahmu ini pada Tuhan, aku akan pergi bersama pacarku dulu untuk menghilangkan kesdihan ini. Doakan aku ya, Ibu!
“Kok diam aja? Ngomong dong...!” Tangan Onen memegang tanganku.
“Nanti wajahmu yang cantik dan seksi ini berubah jadi jelek lho kalo kamu terus-terusan diam,” lanjutnya sambil melepas tanganku. Selang beberapa menit, dia bicara lagi.“Yah, nggak ngomong juga. Aku ngerti kok, mungkin keergian ibumu tiga hari lalu masih membuatmu terpukul dan sedih, sampai-sampai sekarang kamu tidak mau ngomong sama sekali. Baiklah, aku bisa mengerti, tapi nanti besok-besok ngomong ya, Sayang...!” Tangannya kembali memegang tanganku, sambil menatap wajahku sesekali. Aku hanya diam dan tersenyum sedikit lalu kami pun segera berangkat. Pacarku menghentikan mobil BMW-nya di depan Hotel Banjarmasin Internasional.
“Ayo sayang, keluar! Kita sudah sampai. Kamu pasti akan bahagia di sini.”
Dua minggu ini aku pacaran dengan Onel. Ini pertama kalinya aku dibawa ke hotel. Dia ingin membahagiakanku dalam lamunan kesedihan, tapi kenapa harus di tempat seperti ini?
***
Baca lanjutannya......
Oleh: M. Syarwani
Aku tinggal di sebuah desa yang tidak terlalu maju, namun juga tidak tertinggal. Tahun ini, aku ingin bisa merayakan tahun baru dengan teman-temanku di kampung.
“Malam ini kita merayakan tahun baru di mana?” tanya Maulana, temanku yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku.
“Kenapa kamu tanya begitu?” tanya Malik yang bingung dengan pertanyaan Maulana.
“Bukankah bulan depan Muhammad pindah ke kampung lain,” jelas Maulana kepada teman-teman yang lain.
“Benar kamu bulan ini pindah, Mad?” Abdurrahman mencoba memastikan langsung dariku yang duduk di sampingnya. Rupanya dia juga belum tahu.
“Iya, bapakku pindah tugas ke Ujung Baru,” jelasku pada teman-teman.
“Oke deh, kalo gitu kita ke Banjarbaru saja!” usul Hasan tiba-tiba.
“Betul juga, biasanya kalau tahun baru kota Banjarbaru selalu ramai, apalagi di lapangan Murdjani,” kata Abdurrahman membenarkan.
“Setelah shalat magrib kita berangkat ke sana, bagaimana?” usul Malik.
“Oke, tapi aku mau minta izin dulu sama orangtua,” jawabku.
“Iya, oke, lagipula aku belum pernah ke apangan Murdjani,” kata Hasan membuat kami heran.
“Kamu belum pernah ke lapangan Murdjani, San?” Abdurrahman seolah tak percaya.
“Iya, makanya aku mau ke sana, hehe…”
***
Baca lanjutannya......
Oleh: Abdurrahman
Gesekan angin pada dedaunan terdengar samar di antara burung-burung yang berkicau di antara ranting dan dahan. Burung-burung itu bergerak lincah seakan tiada musuh yang mengintai. Ternyata sebaliknya, seekor ular piton menunggu di batang pohon siap memangsa.
“Weekk...weekk...” bunyi kicau burung berubah menjadi jerit kesakitan di kala ular piton telah memangsa salah seorang dari burung tersebut.
Aku hanya terdiam membisu melihat kejadian itu. Bagiku rasa sakit dan saling menyakiti adalah hal yang biasa di dunia ini. Aku sendiri sering dipalak oleh teman sekelasku.
“Ada apa denganmu, Hasan?” tegur ibu guru membuyarkan lamunanku sambil memerhatikan ular piton lewat jendela sekolah.
Aku gugup. “Maaf, Bu. Saya melihat ular besar di atas pohon dekat jendela sekolah kita,” kataku jujur.
“Kenapa kamu memperhatikan di luar sana? Apakah kamu sudah paham tentang pelajaran yang Ibu jelaskan tadi?” katanya sedikit melotot yang kontan membuat mukaku mengkerut pucat seperti kaca retak yang tak beraturan.
Baca lanjutannya......
Oleh: M. Ansyar
“Kamu tidak usah jadi pedagang, pegawai negeri, camat, bupati, dokter, atau apapun! Ayah hanya ingin satu dari kamu, jadilah manusia yang alim dan mengamalkan ilmunya!” ucap Ayah, membuat seluruh isi dadaku bagai disetrum.
“Kalau kamu jadi orang alim, dunia akan datang sendiri, Dam!” Ibu juga ikut menambahkan.
“Tapi, SMP… “ belum selesai mengucapkan Ayah langsung memotong kalimatku.
“Tidak ada SMP!” tolak Ayah mentah-mentah. “Pesantren jauh lebih baik dari SMP kampung kita ini!”
Jelas sudah aku kalah.
“Mau, kan?” tanya Ibu sedikit memaksa.
Aku terpaksa mengangguk. Beberapa hari kemudian aku mendapati diriku berdiri menatap sebuah tugu biru putih yang sudah tua. Mengingat begitu banyak tempat ini mengambil dariku. Kebebasan, teman-teman, keluarga, semuanya kian jauh meninggalkan aku sendiri di dunia yang tak peduli. Dunia membosankan tanpa HP, TV, PS, game online! Dunia menyebalkan dengan segala aturan yang terus mengekangku. Aku merasa bagai orang asing di tengah tawa banyak orang. Namun keadaan yang memaksa membuatku tak bisa menolak untuk terus menjalaninya.
Perlahan aku mendapatkan pengganti teman-temanku yang hilang. Dan aku pun mulai menyebut pesantren ini sebagai penjara kalbu. Penjara yang mengurung hatiku dalam berbagai keadaan.
***
Baca lanjutannya......
Oleh: M. Nuril Azmi Badali
“Martapura, Martapura!!!”
Jalanan memanas. Debu beterbangan di sana-sini. Sopir angkot hijau terus saja mencari penumpang, mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan keluarga. Di atas sana, matahari seolah menjilat-jilat.
Bapakku juga seorang sopir angkot. Itulah pekerjaan yang dilakoninya setiap hari demi menghidupi keluarga, termasuk membiayai aku yang tengah kuliah. Ia rela menarik angkot jurusan Banjarbaru-Martapura mulai pagi menyingsing hingga sore menjemput. Bapak memang tidak pernah sekolah ke jenjang lebih tinggi. Katanya, Nenek dan Kakek tak ada biaya menyekolahkannya saat itu. Tapi Bapak tidak ingin kalau aku nanti seperti dia. Makanya ia mati-matian membanting tulang.
Usai shalat isya berjamaah, kami sekeluarga makan malam. Aku mempunyai satu orang adik bernama Leni.
“Benar sebentar lagi kamu wisuda, Fan?” tanya Ayah.
“Benar, Pak,” jawabku.
“Apa masih ada yang harus dibayar? Kalau ada bilang saja, Bapak akan mengusahakannya,” tekad Bapak agar aku bisa jadi sarjana sudah sangat kuat. Semua itu tak lain karena semua harapannya ada padaku. Ia ingin agar aku nantinya mendapat pekerjaan yang layak. Ibu memandangiku sambil melahap nasinya.
“Tidak ada Pak. Kalaupun ada, Irfan pasti akan bilang,” jawabku pasti.
***
Baca lanjutannya......
Judul : Tembok Suci
Kategori: Kumpulan Cerpen
Penulis : Zian Armie Wahyufi, M. Ansyar, M. N. A. Badali, Arief Rahman Heriansyah, A. Kamaluddin, Abdurrahman, M. Syarwani, Zaini Abrar, Farid Ma’ruf, Radiannor
Penerbit : Mingguraya Press
Harga : Rp.25.000,-
Pemesanan: Zian (0852 4861 3969)
Endorsement:
Salut! Sudah seharusnya tradisi menulis daan mempublikasikan karya ke dalam bentuk buku mulai digencarkan. Jangan takut untuk berproses. Ini merupakan bukti konkrit dari sebuah kreatifitas untuk melangkah ke arah yang jauh lebih baik dari hari kemarin. Sebagai pendatang baru di dunia sastra, karya-karya di dalam buku ini telah memberikan nuansa baru penulisan cerpen yang bertemakan islami di Kalsel. Senang sekali membacanya. (Arsyad Indradi, Sastrawan)
Cerita di dalam kumpulan cerpen ini cukup asyik. Para penulis berusaha menangkap lokalitas dunia pesantren dari sudut pandang seorang santri. Ada haru, lucu, juga bahagia usai membaca karya para penulis kumpulan cerpen "Tembok Suci" ini. Selain dunia pesantren dan agama, tema-tema sosial juga menjadi lahan garapan para penulis. Inilah yang menjadikan buku ini penuh warna dan asyik untuk dibaca. (Harie Insani Putra, Cerpenis)
Alhamdulillah, hanya itu yang bisa kami ucapkan atas terbitnya buku ini. Buku yang Anda pegang ini adalah buku kumpulan cerpen pertama karya anak-anak anggota Forum Pena Pesantren (FPP). Semoga saja berikutnya kami bisa kembali menerbitkan buku.
Luapan terimakasih yang tak terhingga untuk Mas Harie dan Kak Zian yang telah sudi meluangkan waktu dan tenaganya hanya demi penerbitan buku ini. Juga terimakasih yang berlimpah kepada semua pihak yang telah membantu proses penerbitannya.
Tembok suci – yang diambil dari judul salah satu cerpen yang ada dalam buku kumpulan cerpen ini, adalah istilah kami para santri Pondok Pesantren Al Falah Banjarbaru untuk tembok yang membatasi sekeliling pondok pesantren kami dari dunia luar yang “kasar”, tembok yang konon dulu sang pendiri pesantren ini bilang bahwa barang siapa yang melompatinya (keluar tanpa izin) sama saja dengan melangkahi kepala beliau (akan kualat!), tembok yang punya jutaan kisah (kenakalan, ketegangan, kesedihan, kebahagiaan, kekonyolan, persahabatan) bagi kami semua yang pernah merasakan tinggal di pesantren ini.
Selamat membaca dan selamat memasuki Tembok Suci kami!
Baca lanjutannya......
Salut! Sudah seharusnya tradisi menulis daan mempublikasikan karya ke dalam bentuk buku mulai digencarkan. Jangan takut untuk berproses. Ini merupakan bukti konkrit dari sebuah kreatifitas untuk melangkah ke arah yang jauh lebih baik dari hari kemarin. Sebagai pendatang baru di dunia sastra, karya-karya di dalam buku ini telah memberikan nuansa baru penulisan cerpen yang bertemakan islami di Kalsel. Senang sekali membacanya. (Arsyad Indradi, Sastrawan)
Cerita di dalam kumpulan cerpen ini cukup asyik. Para penulis berusaha menangkap lokalitas dunia pesantren dari sudut pandang seorang santri. Ada haru, lucu, juga bahagia usai membaca karya para penulis kumpulan cerpen "Tembok Suci" ini. Selain dunia pesantren dan agama, tema-tema sosial juga menjadi lahan garapan para penulis. Inilah yang menjadikan buku ini penuh warna dan asyik untuk dibaca. (Harie Insani Putra, Cerpenis)
Pengantar Forum Pena Pesantren
Alhamdulillah, hanya itu yang bisa kami ucapkan atas terbitnya buku ini. Buku yang Anda pegang ini adalah buku kumpulan cerpen pertama karya anak-anak anggota Forum Pena Pesantren (FPP). Semoga saja berikutnya kami bisa kembali menerbitkan buku.
Luapan terimakasih yang tak terhingga untuk Mas Harie dan Kak Zian yang telah sudi meluangkan waktu dan tenaganya hanya demi penerbitan buku ini. Juga terimakasih yang berlimpah kepada semua pihak yang telah membantu proses penerbitannya.
Tembok suci – yang diambil dari judul salah satu cerpen yang ada dalam buku kumpulan cerpen ini, adalah istilah kami para santri Pondok Pesantren Al Falah Banjarbaru untuk tembok yang membatasi sekeliling pondok pesantren kami dari dunia luar yang “kasar”, tembok yang konon dulu sang pendiri pesantren ini bilang bahwa barang siapa yang melompatinya (keluar tanpa izin) sama saja dengan melangkahi kepala beliau (akan kualat!), tembok yang punya jutaan kisah (kenakalan, ketegangan, kesedihan, kebahagiaan, kekonyolan, persahabatan) bagi kami semua yang pernah merasakan tinggal di pesantren ini.
Selamat membaca dan selamat memasuki Tembok Suci kami!











