Teror Kucing
19.52 | Author: Forum Pena Pesantren
teror kucing - forum pena pesantren
Oleh: Abdurrahman

Manusia itu diciptakan paling sempurna dari makhluk lainnya. Kata-kata itu terus kumasukan ke dalam hati demi menenangkan jiwa dan pikiranku yang masih kalut. Sudah beberapa hari ini ketenanganku dirampas paksa oleh makhluk-makhluk itu. Sesuatu yang sangat kuperlukan karena tak lama lagi aku akan mengikuti kejuaraan pencak silat mewakili pesantrenku.
Jam di dinding telah menunjukkan pukul dua belas, namun di tengah malam yang dingin ini, walaupun aku sudah berada dalam selimut dan merebahkan diri di kasur yang empuk, mataku tak juga mau dipejamkan. Entah mengapa, setiap hembusan angin menerpa dedaunan bagaikan sederet langkah monster-monster berkaki empat dengan bulu-bulu tebal dan taring yang tajam dalam imajinasiku.
Kembali kuhela napas, kupandang seisi asrama Zaid Bin Tsabit, tempat tinggalku sekarang. Suasana sunyi. Terasa mencekam di tengah malam ini. Hembusan napas terasa mengelilingiku dan mata-mata kecil seakan bermain-main melihat kegelisahanku sekarang. Otakku mulai berputar-putar, mencari cara mengakhiri teror ini.
Baca lanjutannya......
Gulungan yang Tersimpan
21.53 | Author: Forum Pena Pesantren

Oleh: Abdurrahman

Gesekan angin pada dedaunan terdengar samar di antara burung-burung yang berkicau di antara ranting dan dahan. Burung-burung itu bergerak lincah seakan tiada musuh yang mengintai. Ternyata sebaliknya, seekor ular piton menunggu di batang pohon siap memangsa.
“Weekk...weekk...” bunyi kicau burung berubah menjadi jerit kesakitan di kala ular piton telah memangsa salah seorang dari burung tersebut.
Aku hanya terdiam membisu melihat kejadian itu. Bagiku rasa sakit dan saling menyakiti adalah hal yang biasa di dunia ini.  Aku sendiri sering dipalak oleh teman sekelasku.
“Ada apa denganmu, Hasan?”  tegur ibu guru membuyarkan lamunanku sambil memerhatikan ular piton lewat jendela sekolah.
Aku gugup. “Maaf, Bu. Saya melihat ular besar di atas pohon dekat jendela sekolah kita,” kataku jujur.
“Kenapa kamu memperhatikan di luar sana? Apakah kamu sudah paham tentang pelajaran yang Ibu jelaskan tadi?” katanya sedikit melotot yang kontan membuat mukaku mengkerut pucat seperti kaca retak yang tak beraturan.
Baca lanjutannya......