Contoh Dialog
05.44 | Author: Forum Pena Pesantren
1. “Kamu merasa punya teman bernama Sarimuka Ratugonggong nggak? Dia nunggu di depan tuh,” lapor Bibi Maryam.
“Ratugonggong?” Tanya Qori masih dengan mata redup. “Raja gukguk kali, Bi?”
“Apa bedanya? Toh kedua-duanya bisa bikin kita lari terbirit-birit.”
“Beda dong, Bi. Kalo Rajagukguk itu orang Batak,” kata Qori sambil memasang baju kaos warna biru kesukaannya, karena memang cuma itu baju kaos yang dia punya.

2. Dan obrolan dengan Siska mulai berkembang. “Aku punya kakak, perempuan. Namanya Arini,” papar Siska dalam perjalanan pulang malam itu.
“Kenapa dia tidak ikut?’
Gadis itu nyengir, dengan cengiran yang sulit diterjemahkan. “Dia nggak begitu suka acara beginian. Pas gue mau ngikut undian aja, dia nggak setuju. Alasannya sih macam-macam. Gue nggak begitu paham. Tapi, itu hak dia.”
“Kok sinis begitu?”
“Sinis? Apakah kalimat gue terkesan begitu? Wah, lu salah paham. Lu mesti belajar tentang bagaimana kakak gue membahasakan perhatian.”


Baca lanjutannya......
Contoh Narasi
05.41 | Author: Forum Pena Pesantren
1. Melepas kebosanan, Rebiya mendendangkan sebuah lagu. Lagu kesayangannya saat ia masih kanak-kanak. Sederhana namun membuatnya merasa bersemangat. Ia membayangkan dirinya dulu menyanyikan lagu yang sama di atas panggung dengan mengenakan baju berwarna-warni. Pada saat perayaan panen besar. Rebiya tersenyum.

Matanya kemudian menyapu daratan di pinggir sungai, juga tetumbuhan hijau yang mirip sepeti pacar air.

2. Gadis itu keluar dari keramaian orang-orang di bandara Syamsudin Noor, mencari tempat yang agak sepi dekat pelataran parkir. Ia menyandarkan tas jinjingnya di dinding kemudian mendudukinya. Lalu ia mulai memasang mata mencari Armie.

3. Sudah sebulan Ilham menolak ajakan saya ke kantin. Awalnya saya memang tidak peduli. Mau menghabiskan waku istirahat ke perpustakaan, tidur, ngobrol, terserah dia. Tapi…

4. Aku membeli makanan di toko, menyeberang jalan, menyusuri rel kereta api, berbelok ke jalan antara rumah-rumah yang menurutku kurang terurus, lalu ….

5. Namun kehidupan berkata lain. Waktu berjalan terus, zaman berganti. Ia mesti terusir. Mau tidak mau ia harus tercerabut dari tanah yang dicintainya. Tercerai berai dari komunitasnya. Menghancurkan impiannya. Yah, adik bungsunya telah menjual tanah warisan leluhur itu pada seorang cukong! Ia dan seluruh keluarganya mesti pergi ke daerah pinggiran, tempat yang masih bisa menerima mereka. Meninggalkan sejuta kenangan yang telah tertanam disana. Sebuah pengorbanan yang harus dilakukannya demi sebuah metropolitan.
Luka ini masih membekas dalam. Mengapa mesti terusir dari tanah sendiri, padahal ia ingin menghabiskan sisa umurnya di tempat itu?


Baca lanjutannya......
Contoh Deskripsi
05.39 | Author: Forum Pena Pesantren
1. Tiada perubahan yang kutemukan. Hanya wajah segar hijau hutan pedalaman Kalimantan. Barisan pohon-pohon yang dibelah jalan setapak menuju perkampungan. Helaian daun kering yang hampir menutupi permukaannya. Di ujung sana, burung-burung bercicit bersahutan, bertengger dan terbang di dahan dan ranting pohon Tengkawang. Sebatang pohon tinggi dengan daun yang lebar dan buah besar bersayap yang menjadi santapan hewan-hewan hutan.

Sungai berarus deras meluncurkan airnya di sela bebatuan. Gemericik arusnya meningkahi gesekan dedaunan yang dibelai oleh angin utara. Menciptakan sebuah keharmonisan irama yang meramaikan suasana hutan ini.
Sinar matahari kembali menyapa ketika kakiku menapaki padang berumput yang luas. Sebagai pertanda kampung yang telah lama kutinggalkan sudah semakin dekat. Dan di padang ini pula dulu aku dan teman-temanku menggembalakan hewan peliharaan kami.


2. Bulan terpahat sempurna di bentangan angkasa raya. Kemilau sinarnya memudarkan kerlip bintang yang mengintip malu-malu di balik sepotong awan. Malam yang datang berkunjung, membawa sisi gelapnya untuk merengkuh bumi, tak kuasa menghalangi cahaya purnama.
Halte itu semakin sepi. Pedagang asongan yang siang tadi ramai menawarkan dagangannya sudah menghilang satu persatu. Demikian juga orang-orang kantoran yang sore tadi tampak berjubel, sudah tak ada lagi. Mereka sudah menghilang ditelan bus kota yang datang dan pergi, bergerak terseok-seok ke tempat tujuan masing-masing.

3. Malam lewat, berganti pagi. Matahari seperti layang-layang dipentang menantang angin: semakin meniggi. Satu persatu, wajah mengantuk keluar dari pos, terhuyung, berjalan ke rumah masing-masing. Sebagian terlelap di dipan kamar, sebagian harus memenuhi tuntutan menggarap ladang, atau menggiring ternak ke punggung gunung. Melewati sisi sungai yang meliuk di batas luar kampung, menatap sejenak gerumbul semak.


Baca lanjutannya......