Gulungan yang Tersimpan
21.53 | Author: Forum Pena Pesantren


Oleh: Abdurrahman

Gesekan angin pada dedaunan terdengar samar di antara burung-burung yang berkicau di antara ranting dan dahan. Burung-burung itu bergerak lincah seakan tiada musuh yang mengintai. Ternyata sebaliknya, seekor ular piton menunggu di batang pohon siap memangsa.
“Weekk...weekk...” bunyi kicau burung berubah menjadi jerit kesakitan di kala ular piton telah memangsa salah seorang dari burung tersebut.
Aku hanya terdiam membisu melihat kejadian itu. Bagiku rasa sakit dan saling menyakiti adalah hal yang biasa di dunia ini.  Aku sendiri sering dipalak oleh teman sekelasku.
“Ada apa denganmu, Hasan?”  tegur ibu guru membuyarkan lamunanku sambil memerhatikan ular piton lewat jendela sekolah.
Aku gugup. “Maaf, Bu. Saya melihat ular besar di atas pohon dekat jendela sekolah kita,” kataku jujur.
“Kenapa kamu memperhatikan di luar sana? Apakah kamu sudah paham tentang pelajaran yang Ibu jelaskan tadi?” katanya sedikit melotot yang kontan membuat mukaku mengkerut pucat seperti kaca retak yang tak beraturan.

“Insya Allah, Bu.” Terpaksa aku berbohong, karena kalau tidak pasti aku disuruh berdiri di depan kelas dengan kaki diangkat, tangan kiri memegang buku IPA, tangan kanan menulis di papan tulis dan menerangkan layaknya seorang guru. Kalau hukuman ini tidak dilaksanankan aku yakin hal selanjutnya yang terjadi adalah aku harus rela hati menyapu sekeliling sekolah. Maklum, guruku yang satu ini memang terkenal killer di kalangan murid-murid.
“Bagus, kalau begitu jangan kau ulangi perbuatan ini.”
“San..San..” kata teman perempuanku sambil mencolek pundakku. Aku berbalik. Ia lalu menyerahkan sepucuk surat kepadaku
“Ini untuk siapa?” tanyaku dengan suara pelan.
“Untukmu, dari Padli,” katanya membuat hatiku berdetak kencang, karena surat itu ditulis oleh Padli, orang yang paling ditakuti di sekolah. Padli adalah siswa yang sering memalak siapa pun yang lewat di sekitar kantin, kalau tidak diberi sebesar dua ribu rupiah maka akan ditonjok olehnya di bagian perut sampai menjerit kesakitan.
Aku membuka surat itu dengan tangan bergetar, seakan ada makhluk halus di dalam surat itu.
Kudengar kau dapat uang beasiswa sampai lulus SMA sebesar 5 juta rupiah. Kalau tidak menyerahkan uang itu kepadaku, kau akan mati.
Ternyata berupa surat ancaman karena aku mendapatkan beasiswa sampai aku duduk di kelas XI dan mendapatkan penghargaan dari gubernur sebagai anak teladan dari semua sekolah di kotaku tinggal.
“Ting...ting...ting...”
Bel istirahat telah berbunyi, semua anak-anak keluar kelas dengan riang gembira. Sedangkan aku takut untuk keluar dari kelas karena kulihat Padli keluar untuk beraksi mendapatkan uang haram hasil memalak. Bayangkan saja, 1 orang Rp.2000, dikalikan dengan jumlah siswa yang mencapai 500 orang, apa itu tidak cukup? Gerutuku dalam hati.
Seandainya Padli tidak bisa karate pasti babak belur dipukuli teman-teman yang telah dipalaknya. Kakak Padli adalah preman di Ramayana, sering memalak angkot kalau penumpang penuh dan kakak yang pertama sering keluar masuk penjara karena ketahuan mencuri .
“Hasan, kenapa kamu tidak keluar?” Ternyata itu suara ibu guru yang masih sibuk membereskan berkas-berkas ulangan
“Maaf, Bu. Saya masih malas keluar.”
“Malas? Kalau begitu lebih baik tolong ibu membawa buku paket ke kantor. Nanti Ibu menyusul.”
“ Baik, Bu.” Aku mengikuti langkahnya dari belakang sambil berharap tidak bertemu Padli dan teman-teman se-gengnya. Kalau bertemu, bisa-bisa aku babak belur dipukuli. “Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di kantor.” Dengan hati lega aku meletakkan buku-buku itu di rak khusus.
Kulangkahkan kaki menuju perpustakaan, tiba-tiba kurasakan seseorang menendang dari arah belakang yang mengakibatkan badanku terasa remuk.
“Akhirnya aku bisa menemukanmu, Hasan.” Ternyata salah satu teman Padli yang tidak aku ketahui namanya telah mengintaiku sejak tadi
“Cepat lepaskan aku!” teriakku histeris membuat seluruh murid yang sedang membaca terkejut dan memandangku kasihan. Tapi mereka kembali membaca buku dan menganggap tidak pernah mengetahui kejadian ini, karena menolongku adalah masalah bagi mereka.
“Teriaklah sekeras-kerasnya, tidak ada yang akan menolongmu. Dasar tolol!” katanya dengan nada kasar. “Cepat jalan!” perintahnya sambil menendang bokongku.

***

Ternyata orang ini membawaku ke hutan angker dekat sekolah. Di sana sudah menunggu Padli dan gengnya. Terlihat pohon-pohon besar di sana-sini. Seumur hidup aku tidak berani masuk ke dalam hutan dan baru kali ini aku merasakan bagaimana rasanya berada didalam hutan. Aku bergidik membayangkan bahwa aku akan mati di tempat kotor ini.
“Cepat kau berdiri di sini!” katanya sambil mengikat badanku di sebuah pohon besar.
Ya Tuhan, lindungilah hamba-Mu yang sangat lemah ini bagaimanapun caranya.
“Hahahahaha... Terimakasih Roy kau mau menolongku mendapatkan Hasan bin Maun bin Uang,” kata Padli dengan bercanda membuktikan dia sangat bahagia sambil mendekat kearahku.
BBUUKK… BUUUKK….
Pukulan dan tendangan tak terelakkan menghampiri perut, badan dan mukaku. Karena tonjokan di mata membuat penglihatanku menjadi berkunang-kunang, kulihat teman-teman Padli menjadi banyak, yang mulanya lima menjadi sepuluh.
“Bau apa ini?” tanya teman-teman Padli
“Mana aku tau,” kata Padli mengelakkan pertanyaan teman-temannya. Lama-kelamaan bau itu semakin menusuk hidung, membuat teman-teman Padli ingin muntah.
“Kamu siapa?” tanya Padli pada seorang kakek yang tiba-tiba datang. Badannya bungkuk dengan pakaian compang-camping, muka semrawut saking keriputnya, mata melotot seperti setan yang baru keluar dari liang lahat, ditambah bau busuk seperti orang yang tidak mandi selama satu tahun.
“SSSEEEEETTTAAAAAAANNNN...........!!!!!!!!!!!” teriak teman-teman Padli sambil berlari terbirit-birit meninggalkan bosnya bersama aku dan kakek misterius.
“Ingat, besok hari Minggu kutunggu kau di rumah kosong tempat nongkrong teman-temanku dan jangan lupa bawa uang beasiswa itu, kalau tidak kau akan benar-benar mati!” kata Padli mengancam.
Kakek misterius itu menghampiriku lalu melepaskan tali yang mengikat badanku.
“Kau ikut ke rumahku,” ajak kakek kepadaku. Tersirat sedikit keraguan dalam hatiku untuk menerima ajakannya
“Maaf, Kek. Aku ingin kembali ke sekolah,” tolakku lembut agar kakek tidak sakit hati.
“Tidak mungkin kau sekolah dengan kondisi babak belur begini,” kata kakek sambil menggandeng tanganku berjalan menuju rumahnya.
“Jauh tidak, Kek?”
“Tidak, lihat itu!”
Aku tak percaya melihat keadaan rumah kakek yang hanya sebuah gubuk tanpa pintu. Aku membayangkan kalau ada binatang buas, bisa-bisa kakek akan mati. Aku jadi simpati kepadanya.
“Silakan masuk.”
Untuk kedua kalinya aku terkejut melihat ruang tidur yang hanya karpet biasa dengan lantai tanah. Aku pun duduk di pojok ruangan bersama Kakek.
“Wahai cucuku, mengapa anak-anak tadi memukulimu?”
Lalu kuceritakanlah kejadian tadi dengan sedetail-detailnya.
“Oh... kalau begitu akan kuajari kau bela diri, tapi dengan tiga syarat yang harus kau taati. Yang pertama, jangan berzina, kedua jangan mengambil hak orang lain dan yang ketiga jangan durhaka kepada orangtua. Kalau melanggar kau akan sama seperti kakek yang berbau busuk walaupun setiap hari mandi.”
Aku jadi bingung untuk menyetujui atau tidak.
“Baiklah, Kek. Aku setuju dengan persyaratan tersebut,” kataku membuat kakek tertawa pelan.
Kakek itu kemudain mengambil sebuah cangkul dan menggali tanah, aku melihat kakek itu mengambil gulungan yang terbuat dari kulit kijang.
“Pelajarilah gulungan tersebut dalam sehari dengan keyakinan bahwa besok kau mampu menghadapi musuh walau jumlahnya banyak.”
“Baik Kek,” kataku bersemangat kemudian membuka gulungan itu.
Di sana aku melihat gambar orang yang berjumlah 99 sedang mempraktekkan bela diri; 33 tangkisan, 33 pukulan dan sabitan, 33 tendangan. Di bawahnya tertulis amalan yang harus dihapal, yaitu Asmaul Husna yang berjumlah 99.

***

Pagi yang cerah saat burung-burung berkicau riang seakan mendukungku untuk bisa melawan teman-teman Padli. Semalaman aku tidak bisa tidur demi menguasai jurus-jurus yang diberikan oleh Kakek yang kuanggap dia sebagai guru misterius.
Kubawa uang beasiswaku untuk memancing Padli dan kawan-kawan. Lalu aku bersepeda menuju rumah kosong yang dikatakan Padli kemarin. Kulihat segerombolan teman-teman Padli telah menunggu di sana. Ada yang memakai anting dengan membawa balok, rantai, toya dan samurai. Ada juga yang berambut merah, teman-teman kakaknya. Jumlah semuanya kira-kira seratus orang, membuat aku bersemangat untuk menghadapinya.
“Kepung!” kata Padli memerintahkan teman-temannya.
Deg.. deg.. deg..
Hatiku mulai gugup, mana bisa aku mengalahkan semua orang ini.
“Seraaannggg....!”
Hhaaaiitt... hhaaiiiittt... plakk... ddeeess... ddeeess...
Terdengar bunyi pukulan, tamparan dan tendangan mengenai teman-teman Padli.
Ting.. ting.. ting..
Untung aku sempat mengambil toya dari tangan salah satu teman kakak Padli, kalau tidak aku bisa mati terkena sayatan samurai.
Hiiaaaaattt... haa... haa... haaa...
Aku mengamuk, membuat teman-teman Padli berlari ketakutan. Dan kini hanya tertinggal aku dan 3 bersaudara.
“Ampun Hasan, aku tidak akan lagi mengganggumu. Aku terpaksa memalak dan kakakku terpaksa mencuri karena ingin mengumpulkan uang untuk menyembuhkan ibuku. Semua cara telah kami coba, mulai dari meminjam uang ke tetangga dan keluarga tapi mereka juga tidak memiliki uang. Itu semua membuat kami terpaksa melakukan tindakan yang diharamkan oleh agama ini. Biaya rumah sakit tidak sedikit, makanya kami mengumpulkan uang dengan cara ini. Biaya pengobatan ibuku sekitar 50 juta, kami sudah mengumpulkan uang sebanyak 40 juta dan menunggu uang darimu. Semua hasilku memalak dan hasil curian kakakku sudah kucatat di buku supaya aku bisa mengganti dengan uang halal hasil jerih payah kami. Hanya kaulah harapan kami untuk menentukan hidup ibuku,” kata Padli menjelaskan, membuat hatiku terharu dan tak sadar menitikkan air mata.
Aku memeluk Padli seraya menyerahkan uang di saku celanaku.
“Ambil saja uang ini, tidak usah diganti karena aku ikhlas menolongmu.”
Aku jadi berpikir inikah sebabnya kakek tersebut menyuruhku menghapal isi gulungan tersebut, karena di situ ada kata ‘Ar Rahman’ yang artinya Maha Kasih Sayang dan aku tidak boleh suuzon atau buruk sangka terhadap teman sendiri.
“Cepatlah kalian ke rumah sakit!” kataku.[ ]
__________________________________________________________________


Abdurrahman

Sidin ngini dikiau Beliau buhannya ai. Beliau lahir di Banjarmasin, 23 Oktober 1994. Wayahini beliau kelas 3 Tsanawiyah. Mun handak bailang ka rumah beliau ni, datangi ja ka Jl. Ujung Benteng, Rt 12, Mantuil, Banjarmasin Selatan. Tapi kadada jua pang urangnya di rumah, beliau ni bapatak di asrama Zaid ja. Handak nyaman, telponi ja gin dulu: 0878 1501 5275 (pina banyak banar wayahini santri bahape). Fb haram jar, tapi sidin baulah jua sakalinya: th3_r4hm4n@yahoo.com (ngalih banar pulang dibaca alamatnya).

This entry was posted on 21.53 and is filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: