Santri dan Martabak
19.22 | Author: Forum Pena Pesantren
santri dan martabak - forum pena pesantren
Oleh: M. Zaini Abrar

Hujan begitu deras menyapa bumi, membuat malam semakin dingin. Sebagian besar orang yang tadi mengikuti pengajian terpaksa tidak bisa pulang dan bertahan di teras mesjid. Angin yang deras semakin menyurutkan niat mereka untuk kembali ke rumah masing-masing.
“Dingin banget malam ini ya…,” keluh salah satu di antara mereka.
Di dalam mesjid, tampak Mujib tengah bersandar di salah satu tiang. Ia asik mengulang-ulang pelajaran yang diajarkan di pengajian tadi. Matanya terfokus pada lembaran “kitab kuning” di tangannya. Disebut kitab kuning karena kertasnya memang berwarna kuning agak kecoklatan. Yang menjadi ciri khas kitab kuning adalah tulisan-tulisan di dalamnya yang menggunakan bahasa Arab tanpa harakat, sehingga diperlukan ilmu gramatikal Arab untuk bisa membaca dan memahaminya yang disebut dengan ilmu Nahu.
Ia membaca sebuah hadist Nabi yang artinya kurang lebih seperti ini: “Barang siapa yang mengerjakan kerjaan suatu golongan maka ia termasuk dalam golongan tersebut.” 
Baca lanjutannya......
Menggapai Langit
22.05 | Author: Forum Pena Pesantren

Oleh: M. Zaini

Angin deras membuat daun yang berada di telapak tanganku pergi entah akan ke mana. Aku tak tahu. Yang jelas aku di sini, tersandar di bawah pohon sambil menunggu seseorang.
“Lebih baik memanjat pohon dari pada duduk di sini,” bathinku. Seraya memanjat pohon, banyak semut merah yang berlalu lalang. Aku berhati-hati agar tidak mengganggu mereka, namun akhirnya saat aku sampai di sebuah dahan kurasakan sakit yang menyengat di belakang leherku.
“Aawww..!” teriakku, sambil meraba-raba leher dan ternyata seekor semut merah. Semut merah itu lantas kuletakkan ke dahan. Sambil menikmati hembusan angin, aku teringat kembali kepada Rani. Dulu ia tunanganku dan tinggal selangkah lagi kami akan menuju kursi pelaminan.
“Kayaknya kisah cinta kita sampai di sini, Zai,” ujarnya padaku di suatu malam.
“Memangnya kenapa?” jawabku berusaha tenang, meski dalam hati perasaan berkecamuk tak karuan.
“Menurutku sia-sia, tidak ada artinya,” ucapnya blak-blakkan.
Baca lanjutannya......