Nasibmu, Lampu Jalanan
19.29 | Author: Forum Pena Pesantren
nasibmu lampu jalanan - forum pena pesantren
Oleh: Imam Budiman

Samarinda, 18:30 Wita
Berkali-kali aku mengerjapkan mata, yang dapat kutangkap dari penglihatanku saat ini hanyalah bayangan lalu lalang kendaraan bermotor yang tak pernah peduli. Pandanganku masih kabur. Bukan karena mataku minus, ini memang sudah menjadi rutinitasku setiap harinya untuk menjalankan tugas beratku di mana para ayah yang baik harus pulang ke rumah, kembali menemui anak isteri mereka setelah seharian penuh berjibaku dengan pekerjaan yang kian menumpuk. Sedangkan aku? Jangan harap. Di saat manusia mulai mengakhiri aktivitasnya, di saat seperti itulah aku harus bekerja.
Sekarang, kumohon kau diam. Jangan membicarakan apapun tentang diriku. Dan jangan menunututku dengan macam-macam dulu. Menanyakan hal yang menurutku tidak penting bahkan tidak masuk akal. Dan barang tentu aku akan terbahak menertawakan dengan kegilaanmu itu, dengan menanyakan di mana aku lahir, bagaimana keadaan keluargaku sekarang ,parahnya lagi jika kau juga menanyakan anakku ada berapa. Maka kau sudah dapat divonis bahwa kewarasanmu sudah tidak lagi berjalan pada tempatnya. Dan tidak pula kau masih dalam batasan yang sewajarnya. Kau sudah gila Kawan!
Baca lanjutannya......
Puisi-puisi Imam Budiman
22.31 | Author: Forum Pena Pesantren

Oleh: Imam Budiman

Puisimu


Ini rangkaian tak bermakna
Tiap hurufnya tak memberi mustika yang indah
Tapi, jika kau titi perlahan jembatan hidup
Kau akan mengerti…

Dan saat ini kau tlah sampai di hari bahagia
Dengarlah bisik doaku
Yang kupanjatkan di setiap helaian nafasku
Ku slalu berdoa pada Ilahi
Semoga kau dapat menepati hidup di awal barumu
-amin!-

Lukislah lembaran kartonmu
Yang sewarna  dengan jalan Tuhanmu
Di hari jadimu ini kuucapkan:
“HAPPY BIRTHDAY”
(lain kali jangan sertakan bahasa yang kurang kusenangi)

Sobat…
Semoga kau dapat menggapai cita dan cinta tanpa
harus lupa pada Sang Pencipta

23 Desember 2008
(Surat ulang tahunku yang ke-14)

Baca lanjutannya......
Rasa Kebersamaan
23.53 | Author: Forum Pena Pesantren
Semut, ya! Mungkin kita semua tentunya sudah tahu benar dengan makhluk kecil yang satu ini. Makhluk melata yang dapat kita temukan pada pohon-pohon mangga yang buahnya mulai meranum, di pasir-pasir lembab serta pada benda yang rasanya manis seperti gula misalnya. Namun, hanya sebatas itukah kita memandang pada kawanan semut dan para sahabat-sahabatnya? Bukankah masih banyak lagi yang dapat kita ambil pelajaran dari makhluk Tuhan tersebut?

Baiklah, mari kita ambil satu contoh yang paling menonjol dari para kawanan semut. Pada suatu ketika seekor capung malang tergeletak mati di atas tanah. Pada saat itu pula, dengan sigap kawanan semut akan menyerbunya, satu persatu dari mereka akan berdatangan mencari sedikit celah agar dapat mengangkat bersama beban tubuh sang capung yang jauh lebih besar dari tubuh semut-semut kecil itu. Hingga akhirnya mereka dapat membawa si capung malang ke dalam sarang mereka untuk perbekalan hidup selama berhari-hari.
Lalu, apa yang dapat kita simpulkan dari peristiwa tersebut? Secara tidak langsung, rasa kebersamaan dan saling bantu-membantulah yang akan kita dapati andai kita mau berpikir sejenak untuk mengambil pelajaran dari para kawanan semut. Seolah-olah mereka telah memberikan pelajaran yang amat berharga bagi kita, manusia, agar dapat berperilaku seperti mereka.
Sekarang, semua kembali pada diri kita masing-masing. Sampai di manakah rasa kebersamaan yang kita miliki sat ini? Apakah rasa kebersamaan kita akan terkalahkan oleh makhluk sekecil semut yang tak dibekali akal?[] Budiman


Baca lanjutannya......