Oleh: M. Ansyar
“Es kero, es wadai… Es kero, es wadai…”
Inal mulai jenuh meneriakkna kalimat itu sendirian. Dibiarkannya panas matahari menyengat kulit tipis dan tubuh kurusnya yang hanya dibalut kaos kumal. Peluhnya berlelehan. Klakson dari mobil dan motor saling meningkahi. Ia berdiri di samping jalan sambil terus gelisah, berharap adiknya datang menemaninya berjualan seperti dahulu, tapi mungkinkah Anil datang setelah kehilangan semangat hidupnya sejak hari itu…
Ini adalah SMA favorit tempatnya anak orang kaya bersekolah. Kemiskinan adalah hal asing di sekolah ini. Sebuah keberuntungan bagi Inal dan Anil dapat sekolah di sini karena mendapat beasiswa dari Pemerintah Provinsi atas nilai UN mereka.
Tapi benarkah itu sebuah keberuntungan? Mereka pun kadang meragukannya. Seperti hari ini, lihatlah, tanpa ada alamat sebelumnya tiba-tiba saja SMA favorit itu geger. Entah siapa yang memprovokasi, murid-murid langsung menyemut di lapangan basket. Puluhan lembar selebaran dihamburkan oleh beberapa siswa. Dan yang mereka tak habis pikir adalah di selebaran itu terpampang wajah Inal dan Anil yang sedang berjualan es di SPBU!
Baca lanjutannya......
Oleh: M. Ansyar
Kemilau Cahaya Hari
Yang kulihat dari masa depanku hanyalah sebuah musim dingin
Di sana...
Takkan lagi ada kilauan cahaya jingga di hari yang memanja
Di sana...
Takkan ada lagi harapan dan doa yang dititipkan pada bentangan pagi
Semuanya begitu sepi....
sunyi....
sunyi....
sunyi.....
dan sunyi....
Aku tak bisa berbuat banyak
hanya berharap,
esok hari akan ada !
Aku sadar diriku
hanya sebutir buih di lautan
yang bisa lenyap kapan saja
begitu angin mengguncang ombak
Namun
Doa ini takkan kusimpan
Harapan ini takkan hilang;
Bukan hanya semusim di hari esok
Tetapi musim semi yang memekar
Menghapus segala resah!
Kemilau cahaya hari....
10-02-2010
Baca lanjutannya......
Oleh: Muhammad Ansyar
“Imagination is more important than knowledge” – Albert Einstein
FPP adalah sebuah organisasi kepenulisan bagi santri Pondok Pesantren Al Falah Putera. Didirikan tanggal 20 Agustus 2007 oleh M. Noor (saat ini kuliah di STAN) dan Zian Armie Wahyufi (saat ini kuliah di STIKES Muhammadiyah) ketika mereka masih kelas 3 Tsanawiyah. Cukup banyak santri yang antusias bergabung di organisasi ini sejak awal didirikannya. FPP waktu itu diketuai langsung oleh M. Noor.
Ketika selesai kelas 1 Aliyah (hendak naik ke kelas 2 Aliyah), M. Noor pindah sekolah ke SMAN 1 Martapura, otomatis semua urusan FPP dipangku oleh Zian hingga ia tamat dari Ponpes Al Falah. Saat kepengurusan Zian inilah FPP banyak melakukan kemajuan, seperti penerbitan majalah LITERASI tiap 2 bulan, mengadakan seminar yang diisi oleh sastrawan Kal-Sel yang sudah kawakan, menyebarkan virus menulis pada anak-anak SD di desa, serta tidak ketinggalan acara wisata atau sekadar makan-makan bersama.
Baca lanjutannya......
“Imagination is more important than knowledge” – Albert Einstein
FPP adalah sebuah organisasi kepenulisan bagi santri Pondok Pesantren Al Falah Putera. Didirikan tanggal 20 Agustus 2007 oleh M. Noor (saat ini kuliah di STAN) dan Zian Armie Wahyufi (saat ini kuliah di STIKES Muhammadiyah) ketika mereka masih kelas 3 Tsanawiyah. Cukup banyak santri yang antusias bergabung di organisasi ini sejak awal didirikannya. FPP waktu itu diketuai langsung oleh M. Noor.
Ketika selesai kelas 1 Aliyah (hendak naik ke kelas 2 Aliyah), M. Noor pindah sekolah ke SMAN 1 Martapura, otomatis semua urusan FPP dipangku oleh Zian hingga ia tamat dari Ponpes Al Falah. Saat kepengurusan Zian inilah FPP banyak melakukan kemajuan, seperti penerbitan majalah LITERASI tiap 2 bulan, mengadakan seminar yang diisi oleh sastrawan Kal-Sel yang sudah kawakan, menyebarkan virus menulis pada anak-anak SD di desa, serta tidak ketinggalan acara wisata atau sekadar makan-makan bersama.
Baca lanjutannya......
Oleh: M. Ansyar
“Kamu tidak usah jadi pedagang, pegawai negeri, camat, bupati, dokter, atau apapun! Ayah hanya ingin satu dari kamu, jadilah manusia yang alim dan mengamalkan ilmunya!” ucap Ayah, membuat seluruh isi dadaku bagai disetrum.
“Kalau kamu jadi orang alim, dunia akan datang sendiri, Dam!” Ibu juga ikut menambahkan.
“Tapi, SMP… “ belum selesai mengucapkan Ayah langsung memotong kalimatku.
“Tidak ada SMP!” tolak Ayah mentah-mentah. “Pesantren jauh lebih baik dari SMP kampung kita ini!”
Jelas sudah aku kalah.
“Mau, kan?” tanya Ibu sedikit memaksa.
Aku terpaksa mengangguk. Beberapa hari kemudian aku mendapati diriku berdiri menatap sebuah tugu biru putih yang sudah tua. Mengingat begitu banyak tempat ini mengambil dariku. Kebebasan, teman-teman, keluarga, semuanya kian jauh meninggalkan aku sendiri di dunia yang tak peduli. Dunia membosankan tanpa HP, TV, PS, game online! Dunia menyebalkan dengan segala aturan yang terus mengekangku. Aku merasa bagai orang asing di tengah tawa banyak orang. Namun keadaan yang memaksa membuatku tak bisa menolak untuk terus menjalaninya.
Perlahan aku mendapatkan pengganti teman-temanku yang hilang. Dan aku pun mulai menyebut pesantren ini sebagai penjara kalbu. Penjara yang mengurung hatiku dalam berbagai keadaan.
***
Baca lanjutannya......
Oleh: Ansyar FPP
Kau genggam tanganku ketika pagi
Dan kulerai begitu mentari menepi
Aku menyimpang dan terkapar tak pasti
Semu kenangan kita mengudara bagai elegi
Kita teman dalam hampa
Serta metafora bahagia tanpa jeda
Kita gulma yang indah
Dalam pelangi, semesta, musim
Kita safi tanpa katastrofa
Bening. Bagai embun di dedaunan pagi
Aku pergi
Tanpa warna di hatimu
Maka tenanglah….
Akan kujadikan engkau cinta
Seperti cinta Samia pada Sabana
Dan jadilah engkau rindu
Rindu seindah safir nan biru
Sebab kita safi dalam penjara,
yang suci, sesuci telaga surga.
Ruang mimpi, Rabu 19 Mei 2010
Baca lanjutannya......
Kau genggam tanganku ketika pagi
Dan kulerai begitu mentari menepi
Aku menyimpang dan terkapar tak pasti
Semu kenangan kita mengudara bagai elegi
Kita teman dalam hampa
Serta metafora bahagia tanpa jeda
Kita gulma yang indah
Dalam pelangi, semesta, musim
Kita safi tanpa katastrofa
Bening. Bagai embun di dedaunan pagi
Aku pergi
Tanpa warna di hatimu
Maka tenanglah….
Akan kujadikan engkau cinta
Seperti cinta Samia pada Sabana
Dan jadilah engkau rindu
Rindu seindah safir nan biru
Sebab kita safi dalam penjara,
yang suci, sesuci telaga surga.
Ruang mimpi, Rabu 19 Mei 2010
Baca lanjutannya......

Oleh: Ansyar FPP
“Eh Pi, kenapa ya ayahmu tidak lagi ke sini?” tanya Ifit seolah tahu apa yang menjadi batang pikirku saat ini.
Fuuh...
“Entahlah Fit, aku juga nggak tau,” ucapku sambil manatap kosong ke langit. Kulihat bulan tertutup awan, bintang-bintang tidak terlalu tampak malam ini, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Aku sering bertanya-tanya, apakah malam seperti ini sebuah portal dimensi baru yang bisa kumasuki. Aku ingin lari saja dari hidupku, mungkin kelak dimensi malam akan membawaku menghilang jauh dari dunia yang penuh duka ini.
“Sabar ya Pi, mungkin ayah kamu masih sibuk kerja.” Akbar mencoba menghiburku. Aku hanya tersenyum kecut mendengarnya. Kalaupun Ayah sibuk kerja pastinya sesekali akan menjengukku. Lah ini, sudah tiga kali orang tua Dani datang, ayah dan ibuku tak pernah datang juga. Gread!! Tapi Allah memang maha adil. Di saat seperti ini masih saja ada dua orang sahabat yang setia menemani dan mendengarkan isi hatiku.
“Iya Pi, sabar ya...!” ucap Ifit sambil mengelus bahuku.
“Terimakasih Bar, Fit, kalian baik sekali,” ucapku menatap mereka berdua.
*****
“Panggilan kepada santri yang bernama Muhammad Alpiannoor Bin Haji Mahli, berasal dari Amuntai, agar bisa menuju ruang tunggu karena ada tamu!” Suara dari mic itu melengking menyebut namaku. Aku berlonjak kegirangan dan langsung menuju ke ruang tunggu, tempat biasanya tamu-tamu menunggu.
Kulihat cuma ada amangku di ruang tunggu. Aku kecewa. Langsung kutanyakan di mana Ayah. Katanya, Ayah tidak bisa datang karena sangat sibuk. Hmmm, mungkin aku bisa memakluminya.
Setelah menyerahkan uang untuk keperluanku, Amang berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ingin pulang. Aku mengikutinya. Tiba-tiba beliau berpaling dan kembali duduk.
“Kenapa Mang?” tanyaku keheranan.
“Amang rasa tidak ada gunanya menyembunyikan ini semua darimu.” Amang mengambil napas dan melanjutkan bicaranya. “Sebenarnya, ayahmu sudah melakukan poligami!”
“Hah...?!” jeritku tak percaya. “Benarkah itu Mang?”
“Benar...” ucap beliau mengangguk. Aku geram. Lalu Amang menceritakan semuanya, mulai dari awal cerita mengenal cewek ganjen, sampai akhirnya menikahinya. Aku yakin Ayah pasti kena pelet. Bagaimana mungkin, masa baru tiga kali bertemu Ayah sudah mengajak cewek itu nikah?
“Coba kamu ajak bicara ayahmu dari hati ke hati. Kasihan ibumu hampir stres menghadapinya. Apalagi ibumu baru saja melahirkan.” jelas Amang sabar.
Pikiranku melayang terbang ke rumah. Di dalam benakku kulihat Ibu tersimpuh meneteskan air mata sambil menggendong Lia, adik kecilku nan malang. Sepeninggal Ayah ke istri mudanya. Mama menangis, hatiku terasa retak. Sakit sekali!
*****
“Pi, kenapa sih kamu akhir-akhir ini seperti tidak semangat hidup saja, padahal kan kemarin baru datang tamu?” tanya Akbar padaku.
“Iya ni, kanapa sih?” Ifit menimpali.
“Bar, Fit, kalian mau tidak nolongin aku?”
“Nolongin apa?” ucap mereka hampir bersamaan.
“Izinkan aku ke Ustadz. Aku ingin pulang!”
“Hah?! Kenapa?”
“Ah, tidak usah banyak tanya! Mau tidak?
“Oke, oke, mana kartu izinnya?”
“Nih!” ucapku sambil menyerahkan kartu izin pada Akbar.
“Fit, ayo berangkat! haha...” Dasar Akbar, tidak tahu teman sedih masih saja ngakak.
“Oy, tunggu, aku ganti baju dulu!” teriak Ifit karena Akbar sudah pergi lebih dulu. Aku tersenyum melihat tingkah mereka itu.
*****
“Apa-apaan ini, Bu?” ucapku sambil menahan sesak di dada. Kulihat baju Ibu berhamburan. Sepertinya tadi ada pertengkaran. Rupanya begini sambutan atas kedatanganku. Ah, apa tidak ada yang lebih buruk lagi?!
“Tanya ayahmu!” jawab Ibu kesal, air matanya menetes.
Aku masih berdiri mematung. hatiku terasa dikuliti. Sakit...!
“Ah...!” teriakku membanting pintu.
Brak!!!!
Aku masuk ke kamar dan mengamuk sejadi-jadinya.
“Sialan! Ayah jahat!” teriakku sembari meninju lemari sekuat tenaga.
Nuansa Kalbu
Malam menerawang
Gelap yang mengekang
Terdengar gemuruh
Langit yang galau
Gerimis berderu
Kejora yang kelabu
kapankah kabut ini berakhir?
Hati ini menelan kehampaan
Dimanakah bunga-bunga yang menyisakan butir-butir kehidupan?
*****
Untuk Ayah, Ibu, dan semuanya.
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Kusematkan do’a di setiap butiran kata surat ini, semoga dengan tak adanya aku di sisi kalian keluarga kita bisa seperti sedia kala. Amin...
Ayah dan Ibu tercinta, maafkan bila selama ini aku telah meyalahkan harta yang kalian titipkan untukku. Ampuni bila selama ini aku telah mengkhianati amanah yang kalian letakkan di pundakku karena sungguh anakmu ini tak pernah luput dari salah dan dosa.
Ayah dan Ibu tercinta, kuharap dengan matinya aku kalian bisa sadar bahwa semua yang kalian lakukan itu telah menoreh luka yang teramat dalam. Hidupku tidak ada artinya lagi. Semoga kalian bisa sadar.
Alpiannor
Aku melesat dengan motorku secepat mungkin. Mataku tak bisa melihat dengan jelas karena air mata yang sedari tadi terus menetes dari kedua mataku. Aku sudah tak peduli lagi akan seberapa besarnya dosa bunuh diri. Aku telah muak dengan hidupku.
Beberapa meter di depanku jurang telah menghadang. Aku mulai bimbang.
“ASTAGFIRULLAH....!!!”
Kuinjak rem sekuat tenaga. Namun sial, motorku terlalu cepat, dan aku terlambat. Tubuhku melayang. Hatiku terasa penuh dosa.
*****
“Alpi, Alpi, kau sadar Pi?!” Suara Ibu terdengar samar.
“Alpi anakku, maafkan ayah Nak!” Terdengar rintihan Ayah dalam isak tangis.
Kucoba membuka mata. Yang terlihat hanya gelap, tapi perlahan-lahan berwarna. Ayah, Ibu, Kak Lisa, Adikku Lia, selang infus, tembok berwarna putih.
Aku tersenyum. Ternyata aku belum mati. “Yah, ini permintaanku yang harus Ayah turuti, uhuk...” kata-kataku tidak selesai karena tenggorokanku terasa sangat mencekik.
Kak Lisa segera memberiku air putih. Aku pun melanjutkan ucapanku.
“Ceraikan istri muda Ayah itu!”
“Sudah Pi, Ayah sudah sadar bahwa kalian adalah harta Ayah yang paling berharga....” Tutur Ayah penuh air mata.
Bahagia langsung membelai hatiku. Aku tersenyum. Kurasakan melihat bulan yang purnama, ditemani ribuan bintang yang berkilauan. Ah, dimensi malam...[]
Oleh: Anshor FPP
Aku santri
Yang terus menyalami kedalaman ilmu
Tak pernah letih mencari ridho Ilahi
Tak pernah lelah berjalan di atas hamparan sayap malaikat
Aku santri
Yang terus mengetuk pintu langit
Berharap pintu surga akan terbuka
Berharap menjadi penghuni firdaus
Aku santri
Yang terus pahami hati
Tak ingin terhenti oleh cinta si cantik nan manis
Tak akan terbuai oleh nafsu birahi
Aku santri
Yang terus terangi jalan kegelapan
Ku kan tunjukkan sabilal muhtadin
Berharap mampu memberi manfaat
Ku kan menjadi rembulan di malam gelap
Yang kan terangi gelap hati al insan
Ku kan menjadi yang terbaik
Aku santri
Yang takkan bersedih hati
Walaupun celaan membakar palung hati
Walaupun tombak makian menembus jantung
Walaupun dunia akan menghujatku
Aku bahagia menjadi santri
Ku kan selalu tersenyum, hingga usai kehidupan
Akulah santri, meskipun tak selamanya
Baca lanjutannya......
Aku santri
Yang terus menyalami kedalaman ilmu
Tak pernah letih mencari ridho Ilahi
Tak pernah lelah berjalan di atas hamparan sayap malaikat
Aku santri
Yang terus mengetuk pintu langit
Berharap pintu surga akan terbuka
Berharap menjadi penghuni firdaus
Aku santri
Yang terus pahami hati
Tak ingin terhenti oleh cinta si cantik nan manis
Tak akan terbuai oleh nafsu birahi
Aku santri
Yang terus terangi jalan kegelapan
Ku kan tunjukkan sabilal muhtadin
Berharap mampu memberi manfaat
Ku kan menjadi rembulan di malam gelap
Yang kan terangi gelap hati al insan
Ku kan menjadi yang terbaik
Aku santri
Yang takkan bersedih hati
Walaupun celaan membakar palung hati
Walaupun tombak makian menembus jantung
Walaupun dunia akan menghujatku
Aku bahagia menjadi santri
Ku kan selalu tersenyum, hingga usai kehidupan
Akulah santri, meskipun tak selamanya
Oleh: Anshor FPP
http://anc4yimuet.blogspot.com
Sejak awal aku memang punya minat yang besar dalam hal tulis-menulis. Berawal dari membaca novel cinta My Heart, aku pun berkeinginan menciptakan sebuah novel cinta. Tapi sayang, sampai sekarang belum ada satu novel pun yang berhasil kuliris. Aku kekurangan ilmu olah bahasa, juga ilmu-ilmu pendorong lainnya yang bisa membantuku untuk menjadi seorang novelis. Aku terhenti.
Sampai kudengar di pesantrenku ini ada sebuah forum pembelajaran kepenulisan. Hatiku terpanggil untuk bergabung. Tapi belum jelas apa nama forum itu, juga dengan siapa aku bisa mengajukan diri untuk bergabung.
Aku terus mencari informasi. Semua teman-teman sudah kutanya. Tapi ternyata mereka sama sekali tak tahu menahu tentang forum itu. Ya wajar saja, waktu itu kami kan baru hendak naik ke kelas dua Tsanawiyah jadi masih belum terlalu terbiasa bergaul di pesantren ini. Apalagi aku yang orangnya terkesan cuek. Jadi susah untuk akrab dengan orang lain. Dan setelah mencari hampir setengah tahun lamanya, tepatnya tiga bulan tiga mingguan barang kali, akhirnya kutemukan juga apa yang kucari itu. Siang itu, kulihat temanku Aziz sedang asyik mencorat-coret bukunya. Aku jadi penasaran apa yang sebenarnya dia coret. Dan ternyata dia sedang menulis cerpen. Hah,cerpen..?! Iya, cerpen!
Saat kutanya untuk apa dia nulis cerpen, dia menjawab bahwa itu adalah tugas dari FPP. Oh ternyata nama Forum itu FPP. Aku langsung menanyakan banyak hal. Mulai dari apa FPP itu sebenarnya, apa saja kegiatannya, siapa pendirinya, ketuanya, dan pastinya tentang bagaimana caranya untuk bergabung di sana. Aziz bilang, sebenarnya aku bisa saja langsung ikut dalam pertemuan FPP yang diadakan malam itu dan langsung resmi menjadi anggota tanpa perlu mendaftar macam-macam. Tapi aku menolaknya, kurasa itu kurang berkesan. Kupinta Aziz menyampaikan niatku untuk bergabung kepada Zian selaku ketua dan pembimbing saat itu. Terpaksalah aku minta tolong kepada Aziz, karena dia memang seniorku jadinya lebih banyak tau tentang pesantren ini daripada aku.
Singkat cerita, sejak itu aku pun aktif dalam FPP. Dan setelah dua bulan aku bergabung, nama FPP sudah menyebar ke seantero pesantren. Ini semua adalah buah dari kejeniusan sang pembimbing FPP, ZIAN ARMIE WAHYUFI. Dapat dilihat di mading pesantren, setiap edisinya diisi oleh karya anak-anak FPP. Ditambah lagi dengan embel-embel FPP di belakang nama pencipta karya itu makin mengokohkan bahwa FPP telah berhasil menanamkan bibit-bibit penulis yang kelak mungkin bisa menjadi penulis nomor wahid Indonesia. Itu mungkin saja terjadi kalau melihat semangat sang pembimbing yang menggebu.
Sekarang FPP telah mampu menerbitkan majalah yang sepadan dengan majalah sastra luar. Namun kayaknya sang pembimbing akan merubah total FPP, yang asalnya adalah tempat pembelajaran kepenulisan menjadi sebuah komunitas penulis yang di dalamnya hanya ada orang yang benar-benar suka menulis. Menjadikan menulis sebagai keindahan, bukan suatu beban yang melelahkan.
Baca lanjutannya......
http://anc4yimuet.blogspot.com
Sejak awal aku memang punya minat yang besar dalam hal tulis-menulis. Berawal dari membaca novel cinta My Heart, aku pun berkeinginan menciptakan sebuah novel cinta. Tapi sayang, sampai sekarang belum ada satu novel pun yang berhasil kuliris. Aku kekurangan ilmu olah bahasa, juga ilmu-ilmu pendorong lainnya yang bisa membantuku untuk menjadi seorang novelis. Aku terhenti.
Sampai kudengar di pesantrenku ini ada sebuah forum pembelajaran kepenulisan. Hatiku terpanggil untuk bergabung. Tapi belum jelas apa nama forum itu, juga dengan siapa aku bisa mengajukan diri untuk bergabung.
Aku terus mencari informasi. Semua teman-teman sudah kutanya. Tapi ternyata mereka sama sekali tak tahu menahu tentang forum itu. Ya wajar saja, waktu itu kami kan baru hendak naik ke kelas dua Tsanawiyah jadi masih belum terlalu terbiasa bergaul di pesantren ini. Apalagi aku yang orangnya terkesan cuek. Jadi susah untuk akrab dengan orang lain. Dan setelah mencari hampir setengah tahun lamanya, tepatnya tiga bulan tiga mingguan barang kali, akhirnya kutemukan juga apa yang kucari itu. Siang itu, kulihat temanku Aziz sedang asyik mencorat-coret bukunya. Aku jadi penasaran apa yang sebenarnya dia coret. Dan ternyata dia sedang menulis cerpen. Hah,cerpen..?! Iya, cerpen!
Saat kutanya untuk apa dia nulis cerpen, dia menjawab bahwa itu adalah tugas dari FPP. Oh ternyata nama Forum itu FPP. Aku langsung menanyakan banyak hal. Mulai dari apa FPP itu sebenarnya, apa saja kegiatannya, siapa pendirinya, ketuanya, dan pastinya tentang bagaimana caranya untuk bergabung di sana. Aziz bilang, sebenarnya aku bisa saja langsung ikut dalam pertemuan FPP yang diadakan malam itu dan langsung resmi menjadi anggota tanpa perlu mendaftar macam-macam. Tapi aku menolaknya, kurasa itu kurang berkesan. Kupinta Aziz menyampaikan niatku untuk bergabung kepada Zian selaku ketua dan pembimbing saat itu. Terpaksalah aku minta tolong kepada Aziz, karena dia memang seniorku jadinya lebih banyak tau tentang pesantren ini daripada aku.
Singkat cerita, sejak itu aku pun aktif dalam FPP. Dan setelah dua bulan aku bergabung, nama FPP sudah menyebar ke seantero pesantren. Ini semua adalah buah dari kejeniusan sang pembimbing FPP, ZIAN ARMIE WAHYUFI. Dapat dilihat di mading pesantren, setiap edisinya diisi oleh karya anak-anak FPP. Ditambah lagi dengan embel-embel FPP di belakang nama pencipta karya itu makin mengokohkan bahwa FPP telah berhasil menanamkan bibit-bibit penulis yang kelak mungkin bisa menjadi penulis nomor wahid Indonesia. Itu mungkin saja terjadi kalau melihat semangat sang pembimbing yang menggebu.
Sekarang FPP telah mampu menerbitkan majalah yang sepadan dengan majalah sastra luar. Namun kayaknya sang pembimbing akan merubah total FPP, yang asalnya adalah tempat pembelajaran kepenulisan menjadi sebuah komunitas penulis yang di dalamnya hanya ada orang yang benar-benar suka menulis. Menjadikan menulis sebagai keindahan, bukan suatu beban yang melelahkan.


