Literasi 2
22.33 | Author: Forum Pena Pesantren

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, akhirnya Literasi bisa kembali terbit, meskipun terlambat. Ngomong-ngomong, pelajaran baru sudah dimulai kembali. Berarti, kepala kita pun kembali dihadapkan dengan hal-hal yang melelahkan dan memeras otak. Karena itulah, kami pun kali ini muncul dengan suasana yang lebih fresh lagi. Semoga otak kita juga bisa ikut fresh...
Banyak komentar yang masuk ke meja redaksi. Dan keluhan yang paling banyak kami temukan ialah: Literasi tidak ada komiknya! Maka sekali lagi kami jelaskan, untuk sementara kami fokus menghadirkan hal-hal yang berkaitan dengan dunia sastra atau tulis-menulis. Komik, mana ada hubungannya. Tapi kami tentunya masih sangat memerlukan komentar, kritik dan saran dari sekalian pembaca demi kemajuan majalah ini.


Karena berbagai saran pula, kami menghilangkan rubrik Syair, menambah jumlah puisi, memperkecil ukuran font agar isinya lebih banyak dan padat, mengurangi halaman menjadi 20 halaman, serta mengurangi harga. Namun tentu saja, kualitas selalu kami perhatikan. Dan itu merupakan patokan mutlak majalah ini. Semoga saja, dengan perubahan-perubahan ini majalah Literasi bisa menjangkau kalangan yang lebih banyak serta bisa menambah kecintaan kita terhadap membaca dan menulis.
Mungkin itu saja dulu dari kami. Selamat membaca.

Redaksi
http://forumpenapesantren.tk
fppalfalah@gmail.com

Baca lanjutannya......
Mental
22.32 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Kamal FPP

Mungkin Anda berminat menjadi seorang penulis setelah membaca majalah Literasi edisi pertama? Di rubrik ini, akan kami ulas sedikit tentang pemula.
Penyakit penulis pemula ialah, takut tulisannya tidak baik, nggak nyambung, tidak direspon positif oleh pembaca dll. Sebenarnya hal tersebut wajar saja. Kalau baru belajar, mana mungkin langsung jadi bagus, kecuali orang-orang tertentu. Penyakit ini kebiasaan dapat melemahkan mental para pemula, apalagi kalau mendapat kritikan pedas. Baik tentang kesalahan kaidah, diksi, alur cerita dan sebagainya.


Bang EWA (Ersis Warmansyah Abbas) mengatakan sebuah peribahasa, "Kalau takut dilanda ombak, jangan membuat rumah di pinggir pantai. Kalau takut dicaci, disalahpahami, dibenci, atau diancam, jangan permah mimpi jadi penulis". Berarti, seorang penulis ialah seorang yang tidak takut akan apapun, baik dihina atau dicemooh orang lain.
Jika Anda masih takut, mintalah kritik atau saran tentang tulisan Anda pada penulis senior yang bisa memotivasi Anda dalam menulis. Karena, motivasi sangat diperlukan bagi penulis pemula seperti sangat diperlukannya makanan bagi manusia.
Jangan takut, kuatkan mental, dan tulislah semua yang ada di otak atau khayalan Anda. Salah? Wajar saja. Karena banyak penemuan di dunia bermula dari kesalahan.
Menulis dengan gembira. Menulis itu menyenangkan, tidak menakutkan.[]

Baca lanjutannya......
Aku ke Warnet
22.31 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh : Syarief FPP


http://snowearl.blogspot.com

Berawal dari ajakan teman seasrama yang bernama Subhan untuk pergi ke warnet buat main game online, sampai akhirnya bisa punya blog dengan bantuan teman yang bernama Anshory sesama anak FPP.
Ya, begitulah cerita singkatnya kenapa aku sampai bisa punya blog yang kamu liat sekarang.


Di Pon-Pes kami, semua santri yang mukim di pondok mendapat jatah untuk pulang ke rumah sebulan sekali selama satu hari [ bagi yang rumahnya dekat dengan pondok ], sedangkan aku mendapat jatah dua hari [ karena rumahku jauh di Batulicin ]. Eh, nggak mungkinkan aku pulang pergi ke Batulicin hanya dalam waktu dua hari ???. Tapi, kalo dipikir-pikir sayang juga khan kalo libur sekolah selama dua hari disia-siakan gitu aja. So, jadilah warnet sebagai tempat pelarianku untuk membuang rasa bosan setelah belajar sebulan penuh.
Di warnet, ternyata juga banyak santri AL-FATRA yang senasib denganku. Sampai-sampai hanya santri AL-FATRA yang memenuhi wanret. Awalnya sih, ke warnet itu biasa-biasa aja, tapi lama kelamaan jadi tergila-gila [ketagihan bro!!!]
Kalo udah di depan komputer tuh, bawaannya mau maen game mulu. Makanya dua bulan yang lewat isi blogku cuman puisi. Dan juga aku masih belum paham secara detail gimana caranya mempercantik blog.
So, kalo udah baca postingan ini, tinggalin komentar yaa!! Supaya aku juga bisa jalan-jalan ke blog kamu!!!


Baca lanjutannya......
Imazahra
22.31 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Syarief FPP


Imazahra, adalah nama pena dari Fatimah binti Chairi. Perempuan kelahiran Mekah, 6 Juni 1978 ini mengawali karier kepenulisannya dengan blog.
"Awalnya rajin ngeblog demi membunuh sepi saja. Saat itu sekitar 2004, aku terpisah dan harus menjalani long distance love (LDL) dengan suamiku, lama-lama keranjingan menulis," kata Ima.


Selain menulis, dia juga sering diundang sebagai instruktur dan fasilitator aneka workshop kepenulisan dan leadership di dalam dan luar negri.
Buku-bukunya kini juga sudah ikut mejeng di etalase toko buku, di antaranya Long Distance Love, One Gigabyte of Love, dan Perempuan, Cita dan Cinta.
Menurut Ima, blog bagi dirinya adalah diary. Blog menemaninya saat menempuh pendidikan Master di Leeds University Inggris, setelah menerima beasiswa dari International Fellowship Program (IFP) Ford Foundation.
Hasil coretannya itu ternyata mengantarkannya ke beberapa karya populer. Ada juga karyanya yang berjudul Al Hamsanah yang Kukenal, dan Dari Cerpen, Ruang Maya hingga Dunia Nyata. Karya-karyanya itu menambah keberaniannya menyusun buku berjudul Long Distance Love bersama teman-temannya. Buku ini mengangkat pengalaman hidupnya di dunia nyata orang-orang yang hidup berjauhan dari pasangan.
Kabarnya, buku ini menjadi best seller di sejumlah toko buku di Jakarta. Sebeluymnya, buah karyanya itu sebagian telah dipublikasikan di blognya juga dimuat di beberapa buku antologi. Kisah perjalanannya ke sejumlah negara tidak jarang muncul di halaman majalah terkemuka seperti Annida dan Femina.
Nah, teman-teman, setelah membaca tentang Imazahra di atas, adakah terlintas di benak kalian untuk juga terjun di dunia menulis? Kalau ada, ikutlah di organisasi kepenulisan atau beli majalah ini setiap bulan dan mempelajarinya. Hehe... []Syarief


Baca lanjutannya......
Long Distance Love
22.29 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Syarief FPP


Lautan dan langit yang membiru, seorang lelaki yang berdiri di ujung dermaga seakan menatap ke seberang lautan dan ke balik deretan pegunungan, seta langkahnya yang seolah terhenti, membuat penampilan muka "Long Distance Love" mampu memetik dawai hati. Apalagi ketika membaca penggalan kalimat: Mozaik Kehidupan Seperti Apa yang Kau Jalani Sekarang, Saat ASku Tak di Sisimu, Sayang?
Ya, buku ini memang berisi kumpulan kisah nyata dari pasangan yang hidup terpisah kota, pulau, bahkan benua dan lautan.


Cerita pertama berjudul "Tahun-Tahun Mengeja Jarak", yang mana merupakan kisah dari penggagas buku ini (Imazahra). Terus terang, tidak ada alasan untuk tidak menitikan air mata saat membaca kisah ini.
Kepingan berikutnya ialah kisah dari para sahabat sang penggagas yang juga mengalami long distance love (LDL). Awalnya terbersit dugaan bahwa setiap cerita akan menyajikan irama yang sama. Nyatanya, sungguh di luar dugaan, buku ini bercerita dalam irama dan nada yang berbeda-beda. Sehingga bukan hanya air mata yang merintik turun, namun juga derai tawa dan kehangatan.
Dan memang begitulah seharusnya kumpulan kisah nyata ditulis, memperlihatkan keragaman, bukan keseragaman.[]


Baca lanjutannya......
Redup Cahayaku
22.29 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Farid FPP

Di mana...
Di mana cahaya itu
Cahaya yang dulu...
Menyinari umat
Memicu rahmat
Kini dia telah meredup
Tinggallah bayang-bayang semu
Tanpa arti
Tangan-tangan lalim itu telah menyirnakan segalanya
Huh!!!
Kuharap...
Cahaya itu kan kembali
'Tuk terangi relung-relung batin senyapku
Selamanya
Andai itu mungkin




Baca lanjutannya......
Kehilangan
22.29 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Ilham FPP

Aku kehilanganmu
Atau kau kehilanganku
Entahlah...
Biarkan uang menjawabnya

Sungguh tak punya maksud
Campakkanmu di bentangan kawat
Apa itu angin ribut
Bisa juga tangan kualat
Yang ciptakan jarak antara kau dan aku

Untuk apa gusar?
Meskipun lima potong
Telah tiada

Biarlah kau yang lima potong berlalu
Rp. 21.000,- telah menjawab
Apakah aku atau kau yang kehilangan

Jawaban itu
Telah melekat di punggungku



Baca lanjutannya......
Malam Dalam
22.28 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Zian FPP

Aku ingin mengakhiri apa saja
Juga kata-kata yang tak kunjung reda
Hanya dalam malam ini
Sebelum rembulan membawa kabar dari sunyi




Baca lanjutannya......
Aku Ingin Tidur
22.27 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Zian FPP

Apa yang tertinggal darimu
selain jalan aspal yang semakin berpasir
serta atap kamarku yang bertambah bocor?
Sesudah isya ini
tak ingin lagi kubaca semua


Menghanyutkanmu dari mimpi
Telah membulat dalam dada
Menghentak kata yang merajam
Meski, pagi tadi wajahmu kembali menyeruak
Hingga perih
Belum juga membawa angin
Angin yang menyesak di sekujur tubuh
Angin yang melemparku sebelum aku shalat subuh!



Baca lanjutannya......
Impian Tak Tertuju
22.27 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Imam FPP

Cahaya redup
Terlihat di penghujung gedung
Pintu yang menganga
Yang siap menjerat

Di dalam
Tak terdengar suara
Kecuali sedikit
Tapi terkadang
Gaduh tak bersemangat

Diriku termenung
Hatiku dingin membeku
Terpaku memandang
Orang-oang yang memimpikan
Impian tak tertuju



Baca lanjutannya......
Yang Tak Boleh Merdeka
22.25 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Kamal FPP

Apakah negri ini sudah merdeka? tentu Anda menjawab "ya". Bung Karno, 64 tahun yang lalu, telah memproklamasikan kemerdekaan ini, dengan bayaran darah yang dikeluarkan pejuang-pejuang kita, dengan tangisan nenek-nenek kita yang kehilangan anggota keluarga dan dengan hati yang membara melihat harta benda mereka dirampas.


Tapi ada satu yang tak akan mereka merdekakan, yaitu nafsu. Sedangkan realitanya banyak di antara kita yang memerdeka-kan nafsunya di hari kemerdekaan. Dengan bercampur antara pria dan wanita di saat diadakan lomba, mengadakan bermacam-macam lomba hingga tidak shalat zuhur dan ashar, mengadakan hiburan berupa konser, dll. Apakah semua itu termasuk dari definisi syukur pada Allah atas kemerdekaan yang kita terima?
Sudah berapa kali Anda merayakan kemerdekaan, dan apakah Anda merayakannya dengan tidak memerdekakan nafsu?[]


Baca lanjutannya......
Haflah Rajabiyah: Menyuguhkan Kreasi
22.24 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Ithay FPP

(Sambil mencoba-coba baju hadiah dari lomba baca puisi dan drama islami)
Dimulai dengan seorang staf yang berlagak layaknya pembawa berita. Berita pertama yang dibacakannya ialah tentang bagaimana kerja keras para staf IKPPF 09/10 dalam mengerjakan panggung. Cuplikan video untuk berita pertama tersebut masih biasa, yakni saat para staf sedang membuat panggung.


Berita kedua mulai menarik. Yaitu berita bahwa Bush, mantan presiden Amerika Serikat dan Osama Bin Laden memberikan dukungan atas acara Haflah Rajabiyah yang mereka gelar. Videonya ialah video asli Bush ketika sedang bepidato, namun suaranya diganti menjadi Bahasa Banjar, begitu pula dengan Osama Bin Laden.
Berita-berita selanjutnya lebih seru lagi, bahkan ada berita bahwa sang MC untuk acara pembukaan ingin diculik.
Ya, begitulah video yang diputar saat sebelum acara pembukaan Haflah Rajabiyah di Pondok Pesantren Al Falah Putera dimulai. Tentu saja, video yang berdurasi tujuh menit tersebut serta merta mengundang gelak tawa dari para penonton, tidak terkecuali para Ustadz yang menghadirinya.
Memang sangat tepat sekali selogan panitia Haflah Rajabiyah tahun ini: We Want to Change. Dari awal saja sudah banyak sekali yang berbeda. Lomba-lomba yang diadakan pun juga banyak perubahan.
"Di bidang seni ada tambahan lomba yaitu lomba cerpen dan cergam. Sedangkan di bidang panggung juga ada tambahan, yaitu baturai pantun dan madihin," demikian terang ketua panitia, Fadilah Arsyad.
Banyak lagi perubahan-perubahan lain. Dan yang paling terasa ialah waktunya yang mana pada tahun-tahun sebelumnya satu bulan penuh, namun kini hanya dua minggu (17/7 - 31/7). Untuk mengakali waktu yang cuma diberikan sedikit itu, maka sore pun acara panggung juga digelar.
Terus terang saya sendiri salut dengan para staf IKPPF 09/10 yang meskipun dengan berbagai kendala masih mampu mengadakan acara ini dengan sukses. Hal ini tentunya juga menjadi cambuk bagi kami (2 aliyah) untuk bisa mengadakan acara yang juga tak kalah bagus di tahun berikutnya.[]


Baca lanjutannya......
Kuis
22.23 | Author: Forum Pena Pesantren
1. Apa alamat e-mail dan alamat blog FPP?
2. Siapa ketua FPP saat ini?
3. Sebutkan salah satu situs yang menyediakan jasa pembuatan blog secara gratis!
4. Apa saja yang Anda ketahui tentang tulis-menulis?
5. Sebutkan tiga judul buku karya Imazahra!

Ketentuan:
- Jawaban ditulis pada selembar kertas;
- Menempelkan kupon yang telah disediakan;
- Mencantumkan nama, kelas, dan asrama (untuk santri Al Falah) atau nama, sekolah, dan nomor HP (untuk yang bukan santri Al Falah);
- Jawaban dikirim ke asrama Thalhah pada saudara Aziz;
- Jawaban dikirim paling lambat tanggal 16 Agustus 2009;
- Tiga orang pemenang akan mendapatkan hadiah menarik dari kami.



Baca lanjutannya......
Struktur Organisasi
22.22 | Author: Forum Pena Pesantren
Berhubung ketua FPP, Agung Saputra Aritanto melanjutkan sekolahnya di MAN 2 Banjarmasin, maka terjadi perubahan struktur organisasi, yaitu sebagai berikut:

Pengasuh PP Al-Falah Putera:
Ust. KH. Abdurrahman

Kabid Kesiswaan:
Ust. Abd. Manan R.

Ketua IKPPF:
Saddam Nor Hidayah

Ketua Minat dan Bakat:
M. Azmi

Pembimbing FPP:
Zian Armie W.

Ketua FPP:
Arief Rahman

Wakil Ketua FPP:
Kamaluddin

Sekretaris:
Nuril Irvansyah

Bendahara:
M. Ilham

Anggota FPP

Baca lanjutannya......
Inbox
22.20 | Author: Forum Pena Pesantren
Sedikit kritik. Kok ngggak ada komiknya ya?
Khairi, Babussalam, 2 Tsanawiyah.

Makasih kritiknya. Namun perlu kamu ketahui, majalah ini khusus menghadirkan hal-hal yang berhubungan dengan sastra. Karena itulah, komik tidak ada dalam majalah ini. Sudah saatnya kan kita tidak lagi kekanak-kanakan?


Literasi yang cakep, aku punya usul ni. Gimana kalau isinya lebih tebal lagi, soalnya cepat sekali habis membacanya.
Budiman, Thalhah, 3 tsanawiyah

Sebenarnya, kami memang ingin mempertebal isinya. Tapi itu tentunya akan menambah biaya, otomatis harga majalah ini pun jadi lebih mahal, sedangkan yang ini saja sudah termasuk mahal. Jadi, jumlah hala-man justru kami kurangi dan harganya pun jadi lebih murah. Namun kamu tenang saja, supaya membaca-nya tidak cepat habis, maka isinya kami perbanyak de-ngan cara memperkecil ukuran huruf. Insya Allah, Literasi kali ini lebih padat lagi. Gimana?



Hallo para redaksi majalah Literasi, aku mau usul nih, gimana kalo yang naskahnya dimuat dikasih bingkisan.
Majid, Malik 6, 2 Aliyah B

Aha, tentu saja. Karena itu, buatlah tulisan sebaik mungkin dan kirim ke redaksi. Kalau memang layak muat, maka kami akan memuatnya dan kamu pun pasti mendapat bingkisan (royalti).



Seeep! Selain tampilannya yang oke, isinya juga ba-gus. Banyak pelajaran yang saya dapat. Saya mau nyumbang saran nih, kalo bisa, Literasi juga ada kuisnya, kayak majalah Iflah gitu.
Suhaimi, Malik 12, 1 Aliyah C

Saran yang bagus, dan itu sudah kami wujudkan di edisi kedua ini. Buka aja halaman 19.




Baca lanjutannya......
Aku, Terlambat dan Disanksi
22.20 | Author: Forum Pena Pesantren

(Cerpen ini pernah dimuat di harian Banjamasin Post Dengan Judul “Selalu Diimpit Waktu”)

Oleh: Zian FPP

Hidup di pesantren membuatku selalu berkutat dengan waktu.
“Teeeeeetttttt... teeeeeeetttttttt....”
Tu kan, bel tanda waktu istirahat berakhir sudah berbunyi, sementara aku masih mencuci pakaian di kolam.
“Sadikin !!! Lajui....!!!”



Nah, itu pasti suara ketua asramaku. Tapi apa boleh buat. Tanggung. Tinggal dua lembar lagi.
Selesai mencuci pakaian, aku mandi dulu. Menjemur cuciannya nanti saja. Tak ada waktu lagi.
Aku masuk lewat pintu belakang asrama dengan anduk melilit dari pusar sampai lutut dan tangan membawa perkakas mandi.
Tak kuhiraukan pandangan geram ketua asramaku yang sedang menunggu di pintu depan, siap untuk mengunci pintu. Kukunci pintu belakang lalu segera memasang seragam dan mengambil kitab.
Dengan tergesa-gesa, aku berlari keluar asrama. Kubiarkan kancing bajuku yang masih belum terpasang.
“Imbah magrib ikam badiri di Mushalla !” sanksi Ka Armi, ketua asramaku yang bawel itu.
“Hah, napa ka?” Aku protes.
“Tiwas ikam balalambat tarus! Urang habisan sudah tahulah!!”
Yah, begitulah hari-hariku di pesantren ini kujalani. Terus diimpit oleh waktu. Aku, terlambat, dan disanksi, adalah tiga hal yang tidak bisa dipisahkan.
*****
Di kelas tadi aku mengantuk sekali, namun selalu kutahan, sebab aku duduk di depan. Tidur di hadapan Ustadz yang sedang mengajar tentu saja adalah penghinaan. Dan aku tidak ingin menerima ganjaran atas melakukan penghinaan tersebut.
Maka tak ayal, begitu waktu pulang tiba, aku langsung berlari ke asrama dan menjatuhkan tubuhku yang kurus ini di atas kasur. Meskipun menurut teman-temanku kasurku ini sangat amat bau, tapi aku tak pernah merasakannya. Bagiku, kasur ini adalah surga!
Waktu zuhur memang telah tiba dan azan zuhur sebentar lagi mengalun, namun qamatnya masih lama. 20 menit, paling tidak. Waktu yang lumayan cukup untuk memuaskan kantukku.
*****
“Sadikin! Lakasi bangun, qamat sudah!” sayup-sayup kudengar Ka Armi membangunkanku.
Aku terjaga dari tidur. Tidak perlu panik. Aku hanya perlu meraih sajadah, berlari ke kolam wudhu, berwudhu, lalu masuk ke Mushalla. Sudah biasa.
Asramaku tidak jauh dengan Mushalla, sehingga hanya dalam beberapa menit aku sudah mengangkat takbir di Mushalla, dan tanpa masbuk!
*****
“Assala... mu ‘alaikum warahmatulla...h...”
Suara dari mic itu adalah suara pertama yang kudengar saat aku bangun dari tidur siang. Dan sesuatu yang pertama kulihat adalah wajah Zainuddin, staf keamanan yang sedang kontrol.
Aku bangkit. Kulihat jam dinding yang tergantung di atas pintu. Oh, tidak! Aku tidak shalat ashar berjama’ah! []


Baca lanjutannya......
Gerimis Penyesalan
22.19 | Author: Forum Pena Pesantren
(Cerpen ini pernah dimuat di harian Banjarmasin Post dengan judul “Aku Bukan Gay”)

Oleh : Ithay FPP

Di pojok sana, tepatnya bangku di bawah pohon beringin halaman sekolah, masih kulihat kau sedang bercanda dengan anak lainnya. Ah..., naluriku turut senang jika melihat senyum itu mengembang di bibirmu. Andai saja senyum itu untukku. Andaikan kau tahu, bahwa aku merindukan saat-saat seperti itu. Saat kita masih akrab sebagai sahabat. Bagaikan bulan dan bintang yang bercanda di tirai langit malam, tapi sudah musnah diterpa sinar sang surya cakrawala.
Tak bisa kupungkiri, aku masih memaku memerhatikanmu dari jauh. Kubiarkan saja bulir-bulir bening berjatuhan dari mataku, ah...
****





“Maaf, Kevin... aku tak bisa lagi berteman denganmu,” kau berkata gugup sambil menunduk kaku.
“Kenapa, Yan? Apa aku ada berbuat salah denganmu?”
“Bu... bukan begitu... Aku cuma tak ingin jadi bahan olokan teman-teman saja. Aku tak ingin di permalukan...”
Aku tersentak. Ingin menangis rasanya, jika aku tidak keburu sadar bahwa aku ini laki-laki.
“Tapi aku tak seperti yang mereka katakan, Yan. Mereka pembohong. Semuanya fitnah!” elakku sambil menahan air mata yang berebut ingin keluar menelusuri pipi.
“Mungkin mereka mau menghancurkan persahabatan kita, Yan. Asal kau tahu saja, aku ini normal!”
Mataku makin memerah. Kubiarkan air mataku mengalir perlahan. Kulihat sosok di depanku terpaku menunduk. Ya, ia satu-satunya orang yang mengerti akan keadaanku selama ini. Satu-satunya orang yang bisa menganggapku sebagai teman. Tapi sekarang...
“Maaf...” Akhirnya terlontar juga suara dari mulutnya.
“A...aku tak bermaksud menyakiti hatimu, Vin.”
“Lalu mengapa kau selalu menjauh dariku akhir-akhir ini dariku, Yan? Apa kau tak ingin bersahabat lagi denganku? Jangan sampai persahabatan kita pecah. Aku mohon... Jawab yan!?”
Suaraku makin meninggi. Air mataku makin menjadi. Aku tak tahu lagi, masih bisakah persahabat ini terselamatkan.
“Kevin, aku tahu bahwa yang dikatakan teman-teman tentangmu itu tidak benar. Tapi yang jelas, aku tak ingin dipermalukan! Ma’afkan jika selama kita berteman aku banyak berbuat salah. Selamat tinggal....”
Lirih kau berucap. Seakan menggores luka di hatiku. Perih. Beginikah keputusan yang telah kau ambil, Yan? Sungguh, terlalu sakit bagiku.
Sekarang sosok itu melangkah menjauh meninggalkanku yang berdiri sendiri. Terpaku tanpa suara. Air mataku masih saja mengalir, bahkan semakin deras. Kuseka air mataku dengan sapu tangan yang selalu tersedia di saku celanaku.
Ini semua pasti ada sangkut pautnya dengan si Dihar, gumamku. Dihar bangsat! Isakku tak bisa ditahan. Tangisku kembali pecah.
****
Entah kenapa aku dilahirkan dengan fisik yang tak sama dengan laki-laki pada umumnya. Sikap serta perilakuku cenderung kewanitaan dan tubuhku gemulai. Kulitku putih, bahkan bisa dibilang sangat putih. Begiu pula dengan wajahku. Saking mulusnya sampai-sampai satu jerawat pun enggan menodai. Dilengkapi dengan sepasang mata yang bening dan sipit seperti orang China, karena memang ibuku mempunyai silsilah dari negri tirai bambu itu.
Aku sangat sering ditaksir cewek-cewek di sekolah. Bahkan sebagian berani menembak aku secara terang-terangan. Ironisnya tak ada satu cewek pun yang aku terima. Semuanya kutolak secara halus dengan alasan aku belum siap pacaran. Padahal bukannya aku tidak siap pacaran, melainkan karena ada pesan dari ibuku yang tak pernah kulupa. Katanya, sebagai orang yang taat beragama tidak boleh pacaran. Sebaiknya menikah dulu baru pacaran.
Tapi semua kelebihan yang kumiliki sangat menyiksa. Aku dibilang orang mirip cewek. Bahkan yang lebih parahnya lagi aku dibilang tidak normal! Perihal ini dikuatkan karena persahabatanku dengan Ryan. Mungkin mereka bertanya-tanya kenapa aku cuma mau berteman dengan Ryan saja? Kuyakini, karena cuma dialah satu-satunya murid di SMA ini yang mengerti akan keadaanku. Satu-satunya orang yang bisa menerimaku sebagai teman.
Tapi kenyataannya... Aku sangat tertekan. Tersiksa malah. Andai orangtuaku tahu bagaimana menderitanya nasib anak semata wayangnya ini. Tidak! Aku tidak akan pernah mengadu pada mereka sekali pun. Aku tidak mau dicap sebagai anak yang cengeng, yang hidupnya selalu bergantung pada orang tua.
Namun, pantaskah aku menyalahkan Sang Pencipta karena telah memberikan karunia-Nya untukku meskipun dipandang miring oleh orang banyak? Padahal aku cuma mau meyakinkan pada mereka, bahwa aku anak yang normal. Ya Allah... Tolong katakan pada mereka, aku laki-laki yang normal. AKU BUKAN GAY!!!
****
Di kelas aku duduk di pojok paling belakang. Sendiri. Semuanya menjauh dariku. Tak seperti dulu, ada Ryan menemani di sampingku. Kini ia pindah ke bangku lain. Sekarang tak ada lagi yang mau menyapa maupun bicara denganku. Bahkan untuk sekadar menanyakan pelajaran pun. Sumpah, kelas ini bagai neraka bagiku. Terasa jenuh dan membosankan!
Aku tertekan, tersiksa. Bahkan yang lebih parahnya lagi aku di kucilkan!
Sering ketika aku sedang lewat di hadapan teman-teman, mereka berbisik tidak karuan, setelah itu mereka tertawa cekikikan sambil sesekali menoleh kepadaku dengan pandangan yang aneh. Tentu saja aku lewat dengan tergesa-gesa sambil menunduk malu. Puas kalian mempermalukanku?
****
“Ryan Effendi”
Kau naik ke panggung saat namamu dipanggil Pak Kepsek di acara kenaikan kelas. Ya, tahun ini kau kembali meraih prestasi juara kelas. Sungguh, aku sangat beruntung bisa berteman dengan orangsehebat kamu, Yan. Semua mata di auditorium ini tertuju padamu, tak terkecuali aku.
Saat kau menerima penghargaan yang diserahkan oleh Bu Ima, kau sekilas menoleh kepadaku yang duduk di bangku pojok. Ah, aku jadi salah tingkah. Entah kenapa, hatiku berbunga-bunga. Kucoba untuk tersenyum manis kepadamu. Tapi... kau tidak membalas senyumku. Sama sekali tak menggubris, malah langsung membuang muka. Aku kecewa, sangat kecewa.
Itu kejadian satu jam lalu. Sekarang kulihat kau sedang santai di kantin bersama Dihar dan kawan-kawannya. Kalian sesekali tertawa, entah apa yang kau bicarakan dengan mereka. Namun, tampak jelas dari wajahmu menyiratkan kau sangat senang hari ini. Tentu saja, kau barusan meraih prestasi juara kelas berturut-turut.
Kuberanikan diri untuk menyapamu. Aku hanya ingin mengucapkan selamat kepadamu atas prestasi yang baru kau raih, itu saja. Serta mengobati kerinduan karena sudah tiga hari ini kita tak bertegur sapa.
Aku melangkah perlahan menuju tempat duduk kalian. Tentu saja dengan senyum manis yang selalu menjadi khasku.
"Ryan..."
Sesaat kau menoleh kepadaku. Begitu juga Dihar dan ketiga temannya. Tampak di wajahmu ada goresan tak bersahabat.
"Selamat ya..."
Kata itu terlontar dari mulutku dengan perlahan. Aku segera menjauh dari tempat duduk kalian. Biarlah kau tak menjawab atas sapaanku tadi, yang penting aku sudah menyampaikan kata "selamat" padamu. Tapi hanya beberapa langkah aku menjauh, terdengar Dihar mengoceh.
"Eh, Yan! Lu masih aja ya berteman dengan orang yang nggak normal itu?!"
Aku segera berpaling. Kulihat ketiga temannya tertawa cekikikan. Sedangkan kau cuma diam saja. Tanpa ekspresi.
"Ingat Yan, dia itu nggak normal. Dia itu gay!"
Telingaku panas mendengar ocehan Dihar barusan. Bergegas aku menuju ke arah kalian. Aku selalu tak tahan bila difitnah dan diperolok berlebihan. Mataku mulai memerah.
"Dihar!”
Tanganku menghantam meja tepat di hadapan Dihar. Ia sedikit kaget, tapi dengan cepat menyembunyikan rasa kagetnya, berusaha untuk menguasai keadaan.
"Heh, berani juga nih cewek!" Dihar meledekku.
"Camkan baik-baik, Har.Aku ini tak seperti yang kau katakan. Aku laki-laki. Aku bukan gay!"
"Apa? Lu yakin?! Buktinya lu selalu nolak bila ditembak cewek. Apa itu bisa dikatakan normal?!"
"Bukannya aku nolak. Tapi aku cuma ingat pesan ibuku, kalau aku tak boleh pacaran..."
"Alaah... Dasar anak mami! Bilang aja lu sukanya cuma ame cowok. Ryan aja loer taksir! Apa nggak aneh, tuh?!"
"Kamu berengsek Dihar. Gara-gara kau Ryan tak mau lagi berteman denganku. Dasar bajingan!"
Jika saja tak ada Tuhan, hendak kubunuh saja Dihar berengsek ini. Kuseka air mataku yang sudah bercucuran dari tadi.
"Hey, lihat! Si bencong nangis. Emangnya lu kira ini tempat apa, hah?! Udah, sana...sana... Muak gue ngeliat muka lu!"
"Bangsat..."
"Heh, lu punya telinga nggak? Gue bilang pergi, ya pergi! Lu budeg ya?!"
Brugh...
Satu tamparan tepat sasaran mengenai pipi kananku. Aku terpelanting sejauh dua meter dari tempat duduk mereka. Agh...sumpah! Sakit sekali rasanya.
Aku masih duduk tersungkur sambil memegang pipi kananku yang lebam. Tentu saja sambil meringis kesakitan.
Dihar masih berdiri memamerkan tangannya yang kekar sambil dikepal. Dia tersenyum sinis dengan ujung bibir yang mencuat ke atas.
Kulihat ketiga temannya semakin tertawa keras. Sedangkan kau, Yan, kenapa kau tak membelaku? Kenapa?
Semua mata di kantin kini cuma tertuju padaku. Tak ada perlawanan. Pada dasarnya aku memang takut berkelahi. Apalagi bila berhadapan dengan si Dihar, preman sekolah ini. Suasana hening sesaat.
"Ngapain lu tetap di sini, hah?! Gue hitung sampe tiga, kalo elu tetap di sini, jangan salahkan gue bila muka lu yang mulus itu hancur!!!"
Semua orang di kantin kini menertawakanku. Kenapa aku selemah ini, padahal aku laki-laki!
Aku berjalan gontai meninggalkan kantin sambil memegang pipi kananku yang masih berdenyut.Kusempatkan menoleh padamu. Kau hanya memandang nanar kepadaku. Tidak lebih.
****
Langit sore ini begitu gelap. Masih menyisakan gerimis di luar sana yang enggan untuk berhenti membasahi bumi. Kau letakkan seikat bunga kenanga di batu nisan yang berdiri kokoh di atas tempat terakhirku.
Ya, sejak kejadian di kantin tempo lalu, aku absen di kelas. Bukan tanpa alasan aku tak hadir, melainkan penyakit actasisce yang kuidap sejak lahir kambuh lagi. Sudah stadium tiga. Sungguh hal yang sangat mengejutkan bagi orang tuaku, terutama ibuku. Aku masih ingat di kala ibuku tiap malam menangis tersedu-sedu, memikirkan nasib putra semata wayangnya nyaris di ujung tanduk. Beliau berusaha keras memperjuangkan nyawa anaknya agar bisa terselamatkan. Perih sekali.
Dua minggu lamanya aku sekarat tak sadarkan diri. Begitu pula lamanya aku tidak masuk sekolah. Satu sekolah geger. Ryan, kaulah yang paling panik dan gelisah atas peristiwa yang menimpaku ini. Tapi herannya kenapa kau tak kunjung menjengukku, Yan? Kenapa? Padahal aku begitu mengharapkan kedatanganmu. Uh, walaupun kau akhirnya datang, tapi sudah kunyatakan terlambat! Dunia kita sudah berbeda. Kau masih mempunyai masa depan, impian dan segenap cita. Sedangkan aku... Tuhan telah membuat keputusan untukku.
Kau masih berdiri di hadapan makamku dengan pandangan yang sulit untuk diungkapkan. Tiba-tiba satu bulir bening menetes tepat mengenai gundukan merah di atas pusaraku. Matamu berkaca-kaca, namun secepatnya kau menyekanya. Tapi aku dapat merasakan air mata penyesalan itu.
"Maaf..."
Kau berkata lirih sambil sesenggukan. Cuma itu sajakah kata yang dapat kau lontarkan kepadaku, Yan? Ah, aku tak mengerti maksud dari isi hatimu.
Cukup sudah semua penderitaan yang kualami. Tapi aku tak tahu bagaimana dengan perasaanmu saat ini. Apakah penyesalan terus menikammu yang dirundung perasaan berdosa? Cuma kau yang bisa merenungkannya. Bagiku, sungguh penyesalan yang tiada berarti.
Gerimis di luar sana berubah jadi hujan yang sangat lebat. Mungkin dapat menjadi saksi bisu atas penyesalanmu saat ini, Yan.

Penjara Suci, 11 Juni 2009

Baca lanjutannya......
Curahan Hati Sang Penjual Koran
22.18 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh : Farid FPP

Tiada hari tanpa keringat mengucur deras dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tiada hari tanpa debu-debu berebut masuk ke dalam tenggorokan menyesakkan dada. Tiada hari tanpa teriakan, “Pak, koran, Pak...! Bu, koran, Bu...! Koran....koran....!”


Yah, biarlah, ini sudah suratan takdir dari-Nya. Apa mau dikata, beginilah keadaanku. Sampai sekarang masih begini!
Kalau lampu merah menyala, para pengendara pengguna jalan yang menaati tata tertib lalu lintas mulai menghentikan laju kendaraannya. Saat itu pulalah aku bangkit dari khayalku di atas trotoar ini dan membawa tumpukan koran yang tak kunjung laku sedari tadi untuk ditawarkan.
Duh, ada yang mau beli nggak sih..., gumamku kesal saat lampu merah sedikit lagi akan berganti kuning sedangkan orang-orang tak ada yang menghiraukan koran-koranku. Tapi akhirnya, di seberang jalan kulihat seorang sopir angkot dengan handuk kecil di lehernya memanggilku dengan isyarat tangannya. Tak ayal, aku pun bergegas mendekatinya. Alhamdulillah....
Azan zuhur berkumandang, seperti biasa, kusempatkan untuk shalat berjamaah di mesjid terdekat. Tapi ada satu pemandangan yang membuatku terhenti dan merenung, tepat di hadapanku sebuah kotak sumbangan yang terlihat kusam penuh debu masih berdiri memaku dengan selembar uang kertas seribu rupiah di dalamnya. Aku masih ingat saat kemarin aku yang memasukkannya. Kuraba ke dalam sakuku, kutemukan uang, tapi kali ini cuma sekeping uang logam lima ratus rupiah. Segera kumasukkan karena iqamat mulai terdengar.[]


Baca lanjutannya......
Kelabu di Matanya Episode 2
22.17 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Kamal FPP

Kedatangan Karim disambut dengan suka cita oleh para anggota Pemuda Mujahid (PM). Mereka menyangkanya telah tertangkap oleh pemerintah. Karim menyunggingkan senyumnya yang berhiaskan rona terpaksa. Senyum itu mendapat tempat khusus di perasaan Jahir Khalid, sang panglima PM. Ia membaca senyum itu, senyum yang menampakkan suatu kegalauan hati di relung-relung jiwa Karim. Ia tahu, ancaman pemerintah takkan menggalaukan hatinya. Hanya rindulah yang membuat air matanya menetes.
“Ada apa Karim? Ceritakan saja padaku!”
“Sudah, tak ada apa-apa.”
*****




Kiram datang ke rumahnya. Tak ada sambutan, sunyi senyap tak ada bunyi gerakan. Ia mulai membuka pintu, terlihat di hadapannya ibunya yang sedang duduk seperti tak merasakan kehadirannya. Beliau cuma mengarahkan sorot matanya ke foto yang dipegangnya.
“Bu, ini Kiram,” kata Kiram memulai percakapan.
Ibunya terkejut ketika baru menyadari bahwa Kiram ada di hadapannya. Ia rangkul anak lelakinya itu dengan erat sambil menangis berirama hati yang menduka. Prof. Asraf keluar kamar dan ikut berpelukan dengan mereka. Prof. Asraf dan DR. Musyarrafah menampakkan ketidakberdayaannya di hadapan Kiram, mereka memandangnya dengan tatapan yang mengisyaratkan kamulah harapan kami.
“Aku akan berusaha mencarinya, tenang saja,” kata Kiram meyakinkan keduanya.
*****
Seperti biasa, setelah mengajar fiqih di halaqah yang ada di rumahnya, Kiram bertasbih memuja Rabbnya, Tuhannya yang tak pernah bosan menemaninya di kala ia menjalani pahit dan getir lika-liku jalan hidupnya. Sama seperti Kiram, Prof. Asraf dan DR. Musyarrafah sedang bermunajat, mengeluh pada Allah tentang Karim yang tak ada lagi kabar keberadaannya. Mereka tak berputus asa, walau tetangga dan sahabat mereka telah menasehati.
“Sudahlah, relakan saja ia untuk Allah...”
Nama Hakim Abdah semakin memburuk saja di kalangan warga negaranya sendiri, tapi semakin terangkat di luar negri. Pembangunan fasilitas di Pantai Malkan hampir selesai, dan turis-turis asing mulai menjadikan tempat-tempat wisata di sekitarnya sebagai tujuan utama untuk berpesta ria, karena natal akan tiba beberapa hari lagi.
Dua tahun sudah Kiram tak melihat Karim di matanya, semenjak kejadian di Kabsyir be Hotel. Selama itulah ia terus mencari informasi tentangnya, baik dari Jendral Qosim, Yunus, sampai dari anggota PM yang tertangkap. Semuanya nihil, tak ada yang bisa menyalakan secercah harapn yang menggembirakan dari mulut mereka. Dan selama dua tahun itulah, Kiram telah membangun rumah tangga yang dilengkapi seorang anak laki-laki.
Harapan Nyonya Musyarrafah pada Kiram tampaknya membuahkan hasil. Rumahnya sekarang tiap pagi selalu diisi penuh oleh murid-murid Kiram. Tapi ada satu yang disayangkan Kiram darinya, ia takkan mau untuk melepaskan pakaian hitamnya sampai Kiram kembali lagi padanya. Beberapa psikiater telah banyak melakukan penyembuhan, mereka tahu obatnya dan memberitahukannya pada Kiram, tapi obatnya terlalu sulit.
“Obatnya cuma satu Pak, datangkan adik Bapak, Karim,” kata psikiater tersebut.
“Itu sangat sulit, adakah cara yang lain?”
“Cuma itu, tak ada yang lain.”
*****
Musim panas telah berlalu, namun hati Kiram tidak berubah. Hati yang selalu menyimpan setumpuk rintihan, lalu memendamnya dengan sejuta harapan. Harapan yang memantul dari dawai hatinya menuju pendengaran Tuhan, satu-satunya yang selalu ada untuknya. Jiwanya bergelora nista penuh asa akan kehadiran seseorang yang ia harapkan selalu batang tubuhnya, canda tawanya, hingga senyum manis di pipinya.
Ia duduk di pelataran rumahnya, rumah yang merekam betapa indahnya masa kecil bersama Karim.
Dari kejauhan, terlihat Yunus datang menujunya dengan tergesak-gesak. Jika Yunus mendatangi rumahnya, Kiram merasakan sesuatu yang berbeda, hati yang ingin berburu membawa matanya untuk mencari Karim, karena Yunus selalu memberi kabar apabila ada berita atau informasi tentang Karim. Yunus memarkir sandalnya dan mulai berkata.
“Lihat ini,” Yunus menyerahkan selembar foto.
“Di mana tempat ini?”
“Bagian utara Kota Kabsyir.”
*****
Dengan kecepatan tinggi, Kiram mulai memacu mobilnya. Utara kota Kabsyir tidaklah dekat, tapi akan terasa dekat jika dibandingkan nanti ia akan bertemu saudaranya tercinta. Di foto yang diperlihatkan Yunus tadi tampak sebuah gubuk dikelilingi beberapa pria berlilitkan sorban di wajah, dan di antaranya terdapat pemilik mata adiknya, Karim. Sepertinya itu markas anggota PM.
Lukisan-lukisan alam silih berganti dengan cepat di luar kaca mobil Kiram. 100 kilometer perjam sudah hal biasa bagi Kiram dalam menggelindingkan roda mobilnya. Melewati pepohonan yang rindang, sedikit menenangkan hati Kiram yang sedang gelisah bermandikan rindu yang mendalam. Rindu akan sebuah obat yang sangat dinanti ibunya untuk menghilangkan sakitnya selama ini. Dan rindu akan sebuah magnet yang akan mengembalikan keceriaan rumahnya yang telah hilang.
Jalan semakin sepi, hanya mobil Kiram yang sedang memutar roda. Kecepatan pun semakin meniggi, 150 Km/jam.
“Tut... tut...” HP-nya menerima panggilan, rupanya sang ibu sudah tak sabar menerima kabar darinya.
“Bagaimana, apakah kau sudah menemui adikmu?”
“Belum, Bu. Sabar dan berdoalah!” Brakk...
“Allah.............”
“Kiram....!? Ada apa?”
HP itu melayang ke udara ketika mobil Kiram menabrak truk yang sedang berhenti. Kepala Kiram mulai meneteskan darah dan ia pun tak sadar lagi. Anggota PM yang ada di markas yang cuma berjarak 50 meter dari mobil Kiram langsung menuju asal suara tabrakan itu. Ternyata truk mereka ditabrak sebuah mobil. Beberapa di antara mereka langsung mengevakuasi pengendara mobil itu.
“Allahu akbar.”
Sebuah teriakan keluar dari mulut Karim setelah melihat pengendara itu ternyata kakaknya dan kini sedang bermandikan darah.


Bersambung...


Baca lanjutannya......
Mudahnya Bikin Blog
22.15 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Zian FPP

Saat ini, banyak penyedia layanan pembuatan blog secara gratis. Di antaranya ialah blogger.com, wordpress.com, multiply.com, livejournal.com, dan friendster.com. Nah, sekarang kita akan membahas bagaimana caranya membuat blog dengan blogger.com. Karena, dari sekian banyak jasa pembuatan blog, blogger.com-lah yang paling mudah. Oke, langsung saja.
1. Buka dulu blogger.com
2. Klik tombol yang bertuliskan “BUAT BLOG”
3. Setelah itu, Anda akan dihadapkan pada tiga tahap. Tahap pertama ialah membuat account/akun Google, sebab blogger.com juga merupakan salah satu produknya mbah Google.
Dalam tahap pertama itu, Anda diminta untuk mengisi: alamat e-mail sebanyak dua kali, password sebanyak dua kali (minimal 8 karakter), nama yang akan ditampilkan, dan huruf-huruf verifikasi (ketik huruf-huruf yang tertera pada gambar).
Jangan lupa pula memberi centang pada “Penerimaan Persyaratan”.
Ket: E-mail dan password akan selalu digunakan saat Anda ingin log in di blogger.com, karena itu, gunakan-lah password yang sukar ditebak orang lain namun mudah untuk Anda ingat.
Kalau semua sudah Anda isi, klik tombol "LANJUTKAN" yang ada di bawah.



4. Tahap kedua, Anda diminta mengisi data blog Anda: judul blog dan alamat blog yang diinginkan (http://xxxxxxx.blogspot.com).
Klik tombol "LANJUTKAN" untuk melanjutkan pada tahap berikutnya.
5. Tahap terakhir, Anda tinggal memilih template untuk blog Anda.
Jangan khawatir, Anda nanti bisa menggantinya dengan template lain yang lebih keren yang disediakan oleh pihak ketiga. Untuk sementara, pilih apa yang ada saja dulu.
6. Sekarang, blog Anda telah selesai dibuat. Untuk mulai memposting, klik tulisan “Mulai Blogging”.
7. Pada kolom Judul, isi judul dari tulisan Anda. Sedangkan tulisan Anda, ketik pada kotak besar di bawahnya.
Bila sudah, klik tombol "Terbitkan Entri", maka tulisan Anda pun telah terposting di blog Anda.
Untuk melihat bagaimana hasilnya, klik tulisan "Lihat Blog".

Mudah kan? Selamat menjadi seorang blogger! []Zian


Daftar Istilah:
Account : Akun, Keanggotaan
Password : Kode rahasia
Log in : Masuk (Anda tidak akan bisa mengutak-atik blog Anda tanpa terlebih dahulu masuk)
Template : Tampilan, Tema
Entri : Postingan, Tulisan


Kesalahan Yang Sering Terjadi Saat Pembuatan Blog:
1. Alamat e-mail yang pertama dan dan yang kedua tidak sama
2. Password yang pertama dan yang kedua tidak sama.
3. Password kurang dari 8 karakter.
4. Huruf yang Anda masukkan dalam verifikasi tidak sama dengan huruf yang tertera pada gambar.
5. Lupa memberi tanda centang pada “Penerimaan Persyaratan”.
6. Alamat blog yang Anda masukkan kurang dari 5 karakter.
7. Alamat blog yang Anda masukkan sudah dipakai oleh orang lain.
8. Memasukkan karakter yang tidak diizinkan dalam alamat, seperti spasi, titik (.), koma (,), tanda tanya (?), strip bawah(_) dll. (Karakter yang dibolehkan hanyalah huruf, angka dan tanda kurang/strip (-))


Baca lanjutannya......