5 Oktober
20.51 | Author: Forum Pena Pesantren
Photobucket

Oleh: Syarief FPP
Aku heran melihatnya. Akhir-akhir ini dia menjadi pendiam. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu. Ada keinginan untuk menanyakan langsung kepadanya. Namun, langsung kuurungkan niatku itu karena aku takut mengganggunya.
Ia sedih! Ya, bisa kupastikan itu karena aku melihatnya menangis di sudut kamar. Apa yang ia tangisi? Entahlah. Kulihat ia memegang sebuah foto. Foto ibu kami. Aku pun semakin penasaran. Kudekati dia.
“Syafiq, kamu kenapa?”
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, yang kudengar hanya tangisan.
“Syafiq, tolong ceritakan apa yang membuatmu sedih.” Kucoba lagi membujuknya untuk bicara, tapi kali ini pertanyaanku membuat tangisannya lebih memilukan.
Aku putus asa. Kutinggalkan dia sendiri di kamarnya. Kulihat ia masih memandangi foto itu.
“Ah, biarlah ini berlalu dengan sendirinya,” batinku.
*****

Selesai makan malam aku pergi ke kamarnya. Kurasa dia sudah mau bercerita. Saat membuka pintu kamarnya, yang kurasakan hanya kesunyian yang menyelimuti. Di atas meja sana tergeletak piring yang sebelumnya kuberikan untuk makan malamnya. Piring itu kosong. Syukurlah, berarti dia sudah mau makan.
Kulihat dia tidur di atas ranjangnya sambil memegangi foto ibu. Aku terharu melihatnya. Di sampingnya tergeletak sebuah kalender. Kuamati kalender itu dalam-dalam. Ternyata ada tanggal yang dilingkari dengan spidol merah. Lima Oktober, tujuh hari yang lalu. Kucoba memutar ulang kembali ingatanku. Dan ingatanku terhenti pada hari kematian ibu tiga tahun lalu. Ya! Itu hari kematian ibu.
Aku juga teringat bahwa yang diderita saudara kembarku ini terjadi setiap tahun menjelang hari kematian ibu. Dan sekarang adalah tahun ketiga. Sampai sekarang aku masih belum tahu pasti misteri apa yang bersembunyi di balik jubah kesedihan miliknya.
*****
Pagi ini begitu sepi, sama seperti biasanya. Itu kurasakan karena yang tinggal di rumah besar ini hanya kami berdua. Tanpa pembantu, dan tanpa orangtua.
Kami adalah saudara kembar. Syafiq adalah kakakku dan aku adalah adiknya. Ayah meninggal lima belas tahun yang lalu, tepat saat umur kami lima tahun. Dan ibu menyusul dua belas tahun sesudahnya, tiga tahun yang lalu. Dulunya rumah ini dipenuhi oleh paman-pamanku. Namun, setelah mereka semua sudah berkeluarga, mereka berpencar dan memiliki rumah masing-masing. Dan setelah ibu meninggal, harta warisan seluruhnya jatuh ke tangan kami berdua. Kami pun tumbuh menjadi orang yang kaya dan mandiri.
Setamat SMA aku kuliah di fakultas ekonomi. Sedangkan Syafiq, dia lebih memilih berhenti sekolah dan memilih untuk menjadi penulis. Aku kagum dengan Syafiq, dan aku yakin suatu hari nanti Syafiq bisa menjadi penulis ternama. Keyakinanku itu menjadi lebih kuat setelah novel dan antologi puisinya beredar di pasaran. Karena di novel dan antologi puisi karangannya terpampang fotonya, banyak di antara teman-temanku mengira aku penulisnya. Bahkan ada yang sampai meminta tanda tanganku. Aku pun mengabulkannya, itu pun setelah mendapat izin dari Syafiq.
Syafiq turun dari tangga. Pakaiannya rapi. Senyumnya melebar melihatku yang memandanginya dari tadi. Aku heran dibuatnya. Pikiranku melayang mencoba menerka-nerka apa gerangan yang terjadi. Dia duduk di meja makan, tepat di sampingku. Senyumnya masih mengembang.
“Ada apa, Rafiq?” Dia membuka pembicaraan.
“Ah, nggak ada apa-apa kok,’ jawabku bohong.
“Bener? Aku lihat dari tadi kamu memandangiku terus. Apa ada yang salah?”
“Hmmm… Aku cuma heran kenapa kemaren kakak sedih,” jawabku lagi, namun kali ini aku tidak bohong.
“Ooooh, masalah kemarin ya?” Kemarin itu aku sedih karena setiap kali menjelang hari kematian ibu aku selalu teringat masa-masa ibu masih hidup. Aku treringat dengan masakan ibu, dengan cara ibu tertawa, dengan bagaimana dia menyiram mawar-mawarnya, dan…semuanya!” dia mencoba menjelaskan. Air matanya jatuh.
Aku mengangguk tanda mengerti. Tapi aku masih heran, hanya karena teringat masa-masa saat ibu masih hidup dapat membuatnya menangis tujuh hari berturut-turut tanpa henti. Ah, aku bingung.
“Aku mau jalan-jalan, mungkin saja bisa dapat inspirasi baru, ini kan hari Minggu.” Dia berdiri seraya menyapu air matanya dan bergegas menuju garasi tempat Vespanya bertengger.
Rafiq langsung tancap gas dengan Vespa kesayanganya. Ya, Vespa. Dia lebih suka Vespa bututnya ketimbang mobil yang kubelikan sebulan yang lalu. Dia selalu bilang bahwa vespa itu adalah separuh hidupnya. Ah, masa bodoh.
Suara vespanya itu mengecil dan akhirnya hilang. Hatiku tergerak untuk mencari tahu apa sebenarnya yang membuat Rafiq sedih. Kunaiki tangga yang menjadi jalan untuk menuju kamarnya. Aku berdiri di depan pintu dan kuraih gagangnya. Ah, tidak terkunci. Aku masuk perlahan. Kulempar pandanganku keseluruh isi kamarnya. Di sudutnya ada komputer yang masih hidup. Kudekati komputer itu, di depanya ada kertas kumal yang mungkin umurnya sudah belasan tahun. Ada banyak tulisan yang ditulis dengan pena yang berbeda. Tulisan pertama ditulis dengan pensil, yang kedua ditulis dengan pulpen tinta hitam dan yang terakhir ditulis dengan pulpen tinta biru. Aku berharap kertas ini ada sangkut pautnya dengan kesedihan kakakku:
Kamis, 16 Oktober 2008
Beberapa hari ini aku merasakan hal yang aneh. Mulai dari suara-suara yang menyebut-nyebut waktu kematianku sampai mimpi-mimpi yang membuat tidurku tidak nyenyak lagi. Entah itu benar atau tidak, yang penting aku sudah sholat taubat dan mengqodho sholat-sholatku yang bolong. Seandainya itu terjadi juga, aku siap. Dan kamu tahu? Hari yang disebut-sebut sebagai hari kematianku adalah hari ini.
Hari Kamis tanggal 16 Oktober 2008. Aku juga mendapat firasat bahwa orang pertama yang membaca tulisan ini akan meninggal tanggal 5 Oktober 2020. Ha ha haha!!!
–Abd. Karim-

Glek. Aku meneguk liurku. Abd.Karim adalah ayahku. Berarti yang menulis tulisan pertama adalah ayahku. Kulanjutkan membaca kertas itu:
Senin, 5 Oktober 2020
Beberapa hari lalu kau menemukan kertas ini diberkas-berkas lama milik suamiku. Awalya aku tidak percaya sama sekali, tapi lama-lama aku mulai percaya karena aku merasa hal yang sama dengan suamiku. Yah, seandainya hari ini memang hari kematianku, aku rela saja. O ya, aku juga mendapat pertanda bahwa orang pertama yang membaca tulisanku ini akan meninggal tanggal 12 Oktober 2023.
–Nurul Huda-
Astaghfirullah, aku mulai takut, Nurul Huda adalah ibuku. Aku tersentak. 12 Oktober 2023 itu hari ini. Kuberanikan membaca tulisan berikutnya.
*****
12 Oktober 2023 Kamis pagi
Ah, aku yakin yang pertama membaca tulisan ini adalaha adikku, Rafiq. Iya kan? Ha ha ha
Fiq, mungkin sekarang kamu mencari-cari apa penyebab kesedihanku. Kamu sekarang sudah mendapatkannya. Mungkin kertas ini bisa menjelaskan semuanya. Asal kamu tahu saja, semenjak kematian ibu, aku merasakan apa yang dirasakan oleh ayah dan ibu. Sungguh, sangat tidak enak!!!
Bayangkan, kemanapun aku pergi aku selalu melihat angka dua belas. Baru keluar rumah, sudah kulihat nomor rumah kita yang angkanya dua belas. Ketika ingin pergi dari rumah kusempatkan menghitung mawar-mawar milik ibu yang jumlahnya dua belas. Bahkan, nomor polisi Vespaku pun ada angka dua belas: B 1223 N Hahaha….
Apa kamu percaya bahwa manusia bisa mengetahui hari kematiannya? Mungkinkah ini yang namanya pertanda? Selamat, Rafiq !!! Kamu mendapatkan semuanya….
*****
Hah? Aku tersentak. Kepalaku terasa berat. Kusandarkan badanku di dinding kamar. Hp-ku berdering. Ada telepon masuk. Kakakku. Dia menelponku.
“Halo,” suara di seberang sana menyapa.
“Iya, ada apa, Kak?”
“Kamu masih di rumah?”
“Iya, memangnya kenapa?”
“Tolong antarkan flash disk-ku yang ada di kamar ke….,”
Teeeeeeeeeet!!! Suaranya terhenti, ada bunyi klakson panjang terdengar.
“Bruak!!!”
“Kakaaaak??!! Ada apa?!”
“Tuuut,” teleponnya putus, jantungku berdegup kencang tak karuan. Kepalaku kembali terasa berat.[]


Baca lanjutannya......
Penempatan Tanda Titik
02.58 | Author: Forum Pena Pesantren
Di edisi kemarin kita sudah membahas dimana meletakkan huruf kapital atau huruf besar. Sekarang kita akan membahas tentang tanda baca yaitu titik. Berikut cara pemakaian titik (.) :

1. Dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Contoh:
Ayahku tinggal di Solo.
2. Dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar. Contoh:
1. Patokan Umum
a. Pengertian
3. Dipakai untuk memisahkan angka jam, menit dan detik yang menunjukkan waktu. Contoh:
Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)
4. Dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir tanda tanya atau tanda seru dan tempat terbit dalam daftar pustaka. Contoh: Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.
5. a. Dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya. Contoh: Desa itu berpenduduk 24.200 orang.
Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.234 jiwa.
b. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah. Contoh:
Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
Lihat halaman 2345 dan seterusnya.
6. Tanda titik tidak dipakai di akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel dan sebagainya. Contoh:
Acara Kunjungan Adam Malik
7. Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat. Contoh:
Jalan Diponegoro 82
Jakarta (tanpa titik)
1 April 1985 (tanpa titik)
Di edisi selanjutnya kita akan membahas tentang tanda koma, tanda titik dua, dan tanda hubung.[]Syarief


Baca lanjutannya......
Novel Pertama di Dunia
02.43 | Author: Forum Pena Pesantren
Pada tahun 999 di Jepang, tepatnya saat masa kekaisaran Heian, novel pertama di dunia lahir. Ditulis oleh Lady Murasaki Shikibu. Novel Murasaki yang ini bertutur tentang kisah cinta Kekaisaran Genji. Novel ini juga diterjemahkan ke Bahasa Inggris dengan judul ”Tale of Genji”.

Novel terkenal selanjutnya datang dari Cina berjudul Xiyouji (ziarah ke barat) karangan Wu Cheng En. Kisah ini segera menjadi legenda yang melekat di benak rakyat Cina.
Sedangkan di Indonesia, novel sudah ada sejak zaman sebelum Islam masuk. Novel yang bisa ditelusuri pada zaman tersebut adalah Ramayana dan Mahabarata versi Nusantara. []Syarief

Baca lanjutannya......
Harie Insani Putra
23.27 | Author: Forum Pena Pesantren

Oleh: Syarief FPP

Cerpenis Kal-Sel ini dilahirkan di Banjarmasin, tanggal 25 Februari 1981.
Saat ini, sastrawan dan juga ketua Komunitas Blogger Kalimantan Selatan Kayuh Baimbai ini bertempat tinggal di Perum. Wirapratama 2, Jalan Bukit Barisan, Banjarbaru.


Buku kumpulan cerpen Perempuan yang Memburu Hujan adalah buku kumpulan cerpen beliau bersama Sandi Firly. Esay dan cerpen hasil karyanya sebagian besar terbit di harian Radar banjarmasin dan Watas Media. Rahasia Sedih Tak Bersebab, adalah cerpen beliau yang terpilih sebagai salah satu pemenang pada Lomba Cerpen dalam Aruh Sastra Kalimantan Selatan III di kabupaten Kotabaru dan, beserta karya pemenang lain dibukukan dalam antologi Kau Tak Akan Pernah Tahu, Rahasia Sedih Tak Bersebab (2006).
Beliau juga aktif menggiatkan Komunitas Sastra ruMah Cerita yang di dalamnya aktif dalam hal diskusi karya sastra dan workshop penulisan kreatif di kalangan pelajar bersama teman-temannya sesama penulis.
Tulisan-tulisan beliau juga bisa dinikmati di blog pribadi beliau yang beralamat http://hariesaja.wordpress.com[]


Baca lanjutannya......
Perempuan yang Memburu Hujan
23.25 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Syarief FPP


Air sungai yang surut memperlihatkan kak-kaki kurus rumah kayu. Satu dua ‘kelotok’ bergerak pelan, suara mesinnya yang memekakkan telinga beradu dengan lantunan ayat-ayat suci yang menyeruak dari corong-corong pengeras suara masjid dan surau. Melengkapi parade senja kuning itu, ‘jukung-jukung’ dikayuh menyisir, melewati orang-orang mandi di batang atau mengambil wudhu untuk sembahyang. ‘Jukung-jukung’ itu biasanya baru kembali dari Pasar Terapung di muara Sungai Barito, tempat bertemunya sungai-sungai kecil yang membelah kota Banjarmasin, pun Sungai Martapura yang berada di jantung kota bergelar Kota Seribu Sungai ini— akh..., gelar yang terlalu berlebihan, karena banyak sungai kecil yang tidak lagi mengalir karena tersumbat sampah, ‘ilung’, atau bangunan yang didirikan sesuka-sukanya hingga menutup sungai yang lantas tercekik, lalu mati. (kutipan cerpen ‘Senja Kuning Sungai Martapura’ karya Sandi Firly)


Saat ini, penulis-penulis Kal-Sel sudah mulai 'merangkak' ke permukaan. Buku-buku sastra karya penulis banua pun sekarang sudah berjumlah puluhan buah. Sastrawan-sastrawan Kal-Sel itu sendiri rata-rata mempercayakan Tahura Media sebagai penerbit buku-buku karya mereka. Karena memang, lembaga sekaligus penerbit yang berlokasi di Jl. Sultan Adam No. 46 C, Banjarmasin ini didirikan untuk mangayomi para penulis banua dalam menerbitkan buku mereka.
Perempuan yang Memburu Hujan, adalah salah satu buku kumpulan cerpen yang diterbitkan oleh Tahura Media. Buku kumpulan cerpen dengan 160 halaman ini berisi 14 cerpen berkualitas nan kritis karya Harie Insani Putra dan Sandi Firly, dua sastrawan Kal-Sel yang aktif dan produktif.
Tujuh cerpen karya Harie IP dalam buku ini ialah: Chantika dan Bola Matanya, Gadis Kecil yang Tersihir, Jempol Kaki Ibu Ada di Televisi, Rahasia Sedih Tak Bersebab, Seseorang dari Jauh, Tersebab Hujan, dan Wanita yang Melukai Tubuhmu dengan Pisau. Tujuh cerpen sisanya ialah cerpen karya Sandi Firly, yaitu: Bulan Belah Semangka, Perempuan yang Memburu Hujan, Jerit Ranjang di Kamar No. 9, Kematian yang Terlalu Pagi, Menunggu HP berderit, Senja Kuning Sungai Martapura, dan Tubuh dan Kepala Mencari Rupa.
Dengan hadirnya buku 'cerita dua lelaki' ini, jelas membuktikan bahwa penulis banua juga tidak kalah dengan penulis luar.[]


Baca lanjutannya......
Afifah Afra
22.52 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Syarief FPP


Perempuan dengan nama asli Yeni Muliati ini dilahirkan di Purbalingga, 18 Februari 1979 sebagai puteri dari pasangan Bapak Sutjipto dan Ibu Sri Wartuti. Dia mendapatkan gelar sarjana di FMIPA UNDIP, juga pernah belajar di Ma’had As-Salam, Semarang, jurusan Dirosah Islam. Sekarang dia menetap di Solo bersama suaminya, Ahmad Supriyanto yang bekerja sebagai dokter, dan dua buah hati mereka, Syahidah Dzakiyyatun Nisa dan Ramadhan Faidlurrahman.


Ibu dua anak ini mengaku hobi menulis sejak SD. Cerpen dan artikelnya pernah dimuat di majalah Anita, Cemerlang, Saksi, Ummi, Kartini, Karima, Annida, koran kampus Manunggal, harian Solo Pos dan sebagainya.
Buku yang telah ia hasilkan juga lumayan banyak, di antaranya: Mawar-Mawar Azkiya, Tersentuh Ilalang (Trilogi 1), Tarian Ilalang (Trilogi 2), Cinta Ilalang (Trilogi 3), Terpinang Cinta, Obituari Kasih, The Winst, Katastrofa Cinta dan Panduan Wanita Shalihah.
Selain aktif di PPAP Seroja (Sebuah ISM pemberdayaan perempuan dan anak pinggiran) dan SALIMAH (Persaudaraan Muslimah), Afifah juga cukup terlibat secara intensif dalam proses pengkaderan penulis muda yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP), di mana saat ini ia diamanahi sebagai ketua FLP wilayah Jawa Tengah. Sekarang, selain sibuk merawat puteri pertamanya serta menulis beberapa buku fiksi maupun nonfiksi, ia juga bekerja di sebuah penerbit Surakarta sebagai direktur Operasional.
Afifah Afra adalah pendongeng yang piawai, begitu kata Izzatul Jannah, penulis senior FLP.[]

Baca lanjutannya......
Katastrofa Cinta
22.51 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Syarief FPP


Novel berlatar sejarah karya Afifah Afra ini merekam jejak hidup Astuti, sang tokoh utama, dalam empat kurun waktu yang berbeda; masa pra kemerdekaan, revolusi, orde baru, dan reformasi, menjadi alasan mengapa novel ini disebut sebagai novel lintas zaman. Dengan proposi yang seimbang antara fakta sejarah dan imajinasi yang apik, novel ini mampu menyihir pembaca untuk mengarungi masa-masa pergerakan di tanah air yang sarat konflik melalui kisah Astuti. Awal kehadiran Astuti Kusumawardani di dunia sesungguhnya telah menorehkan luka bagi orang-orang di sekitarnya. Sang Ayah, Mukhlis, dan sang Nenek, Raden Nganten, bersengketa memperebutkan dirinya untuk diasuh dengan pola pengasuhan yang berbeda, Dan akhirnya sang nenek berhasil merebut hak pengasuhan Astuti karena ayahnya meninggal dunia. Dia diasuh sebagai Putri Keraton yang bergelimang kemewahan dan kasih sayang dari keluarganya.


Hingga menginjak usia enam tahun, kehidupan Astuti berjalan dengan lancar sampai akhirnya serdadu Jepang menginjakkan kakinya di Nusantara. Seluruh keluarganya dibantai tanpa ampun. Astuti kecil terlunta-lunta di tengah kericuhan politik yang belum dimengertinya, menjatuhkan dirinya ke dalam luka cinta yang pertama; diperkosa di usia yang belum genap tujuh tahun oleh tentara Jepang yang awalnya menjelma sebagai dewa penyelamat bagi dirinya. Selanjutnya, luka cinta itu terulang kembali, hingga berbalik membuatnya menjadi dewi cinta yang memabukkan bukan hanya bagi pria yang mengenalnya, tapi juga bagi dirinya sendiri. Jatuh dari pelukan satu pria ke pelukan pria lainnya hingga mengantarkannya ke lembah paling kelam dalam hidupnya; menjadi aktivis Gerwani, mengingkari Tuhannya, sampai rela membunuh kakeknya, Mbah Murong, satu-satunya keluarga yang masih dimiliki dan menyayanginya dengan tulus.
Zaman yang berevolusi kiranya memang membawa revolusi pula dalam slide hidup Astuti. Sekali lagi, di akhir cerita Afifah sukses mengejutkan pembaca dengan shocking ending yang penuh kejutan.[]




Baca lanjutannya......
Aku Masih di Sini
22.47 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Syarief FPP

Aku masih di sini
Sambil memegang gelas yang kosong
Berharap ada yang mengisinya
Walau setetes demi setetes

Aku masih di sini
Menunggu bidadari yang akan menjemputku
Menunjukkanku jalan menuju rahmat-Nya
Tuk dapatkan syurga-Nya

Aku masih di sini
Dan tak akan kembali
Sampai gelasku penuh
Dan aku bertekad untuk menyebarkannya




Baca lanjutannya......
Aku ke Warnet
22.31 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh : Syarief FPP


http://snowearl.blogspot.com

Berawal dari ajakan teman seasrama yang bernama Subhan untuk pergi ke warnet buat main game online, sampai akhirnya bisa punya blog dengan bantuan teman yang bernama Anshory sesama anak FPP.
Ya, begitulah cerita singkatnya kenapa aku sampai bisa punya blog yang kamu liat sekarang.


Di Pon-Pes kami, semua santri yang mukim di pondok mendapat jatah untuk pulang ke rumah sebulan sekali selama satu hari [ bagi yang rumahnya dekat dengan pondok ], sedangkan aku mendapat jatah dua hari [ karena rumahku jauh di Batulicin ]. Eh, nggak mungkinkan aku pulang pergi ke Batulicin hanya dalam waktu dua hari ???. Tapi, kalo dipikir-pikir sayang juga khan kalo libur sekolah selama dua hari disia-siakan gitu aja. So, jadilah warnet sebagai tempat pelarianku untuk membuang rasa bosan setelah belajar sebulan penuh.
Di warnet, ternyata juga banyak santri AL-FATRA yang senasib denganku. Sampai-sampai hanya santri AL-FATRA yang memenuhi wanret. Awalnya sih, ke warnet itu biasa-biasa aja, tapi lama kelamaan jadi tergila-gila [ketagihan bro!!!]
Kalo udah di depan komputer tuh, bawaannya mau maen game mulu. Makanya dua bulan yang lewat isi blogku cuman puisi. Dan juga aku masih belum paham secara detail gimana caranya mempercantik blog.
So, kalo udah baca postingan ini, tinggalin komentar yaa!! Supaya aku juga bisa jalan-jalan ke blog kamu!!!


Baca lanjutannya......
Imazahra
22.31 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Syarief FPP


Imazahra, adalah nama pena dari Fatimah binti Chairi. Perempuan kelahiran Mekah, 6 Juni 1978 ini mengawali karier kepenulisannya dengan blog.
"Awalnya rajin ngeblog demi membunuh sepi saja. Saat itu sekitar 2004, aku terpisah dan harus menjalani long distance love (LDL) dengan suamiku, lama-lama keranjingan menulis," kata Ima.


Selain menulis, dia juga sering diundang sebagai instruktur dan fasilitator aneka workshop kepenulisan dan leadership di dalam dan luar negri.
Buku-bukunya kini juga sudah ikut mejeng di etalase toko buku, di antaranya Long Distance Love, One Gigabyte of Love, dan Perempuan, Cita dan Cinta.
Menurut Ima, blog bagi dirinya adalah diary. Blog menemaninya saat menempuh pendidikan Master di Leeds University Inggris, setelah menerima beasiswa dari International Fellowship Program (IFP) Ford Foundation.
Hasil coretannya itu ternyata mengantarkannya ke beberapa karya populer. Ada juga karyanya yang berjudul Al Hamsanah yang Kukenal, dan Dari Cerpen, Ruang Maya hingga Dunia Nyata. Karya-karyanya itu menambah keberaniannya menyusun buku berjudul Long Distance Love bersama teman-temannya. Buku ini mengangkat pengalaman hidupnya di dunia nyata orang-orang yang hidup berjauhan dari pasangan.
Kabarnya, buku ini menjadi best seller di sejumlah toko buku di Jakarta. Sebeluymnya, buah karyanya itu sebagian telah dipublikasikan di blognya juga dimuat di beberapa buku antologi. Kisah perjalanannya ke sejumlah negara tidak jarang muncul di halaman majalah terkemuka seperti Annida dan Femina.
Nah, teman-teman, setelah membaca tentang Imazahra di atas, adakah terlintas di benak kalian untuk juga terjun di dunia menulis? Kalau ada, ikutlah di organisasi kepenulisan atau beli majalah ini setiap bulan dan mempelajarinya. Hehe... []Syarief


Baca lanjutannya......
Long Distance Love
22.29 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Syarief FPP


Lautan dan langit yang membiru, seorang lelaki yang berdiri di ujung dermaga seakan menatap ke seberang lautan dan ke balik deretan pegunungan, seta langkahnya yang seolah terhenti, membuat penampilan muka "Long Distance Love" mampu memetik dawai hati. Apalagi ketika membaca penggalan kalimat: Mozaik Kehidupan Seperti Apa yang Kau Jalani Sekarang, Saat ASku Tak di Sisimu, Sayang?
Ya, buku ini memang berisi kumpulan kisah nyata dari pasangan yang hidup terpisah kota, pulau, bahkan benua dan lautan.


Cerita pertama berjudul "Tahun-Tahun Mengeja Jarak", yang mana merupakan kisah dari penggagas buku ini (Imazahra). Terus terang, tidak ada alasan untuk tidak menitikan air mata saat membaca kisah ini.
Kepingan berikutnya ialah kisah dari para sahabat sang penggagas yang juga mengalami long distance love (LDL). Awalnya terbersit dugaan bahwa setiap cerita akan menyajikan irama yang sama. Nyatanya, sungguh di luar dugaan, buku ini bercerita dalam irama dan nada yang berbeda-beda. Sehingga bukan hanya air mata yang merintik turun, namun juga derai tawa dan kehangatan.
Dan memang begitulah seharusnya kumpulan kisah nyata ditulis, memperlihatkan keragaman, bukan keseragaman.[]


Baca lanjutannya......