
Oleh: Kamal FPP
Martabak Foderasi Internity cabang Banjarmasin:
Gasar terlihat sibuk menjumlah-jumlah pemasukan dan pengeluaran. Sedang pengunjung rumah makan martabak sore ini ramai seperti biasa. Ada macam-macam menu, martabak sniper climb, martabak eggs biger, martabak flying ball, martabak heppi dance. Menu-menu yang sulit diingat. Foto Gasar dengan rambut cepak tentara yang ia pertahankan selama ini, berkolaborasi jas abu-abu yang terbuka memperlihatkan bangun ruang perutnya yang menyembul keluar, terpampang di dinding samping-samping pintu kantornya, menghadap para pengunjung. Bersanding dengan foto Gusur di bingkai sebelahnya. Cuma beda warna jas, yang lain sulit dibedakan.
Tuut….
Telepon memanggil-manggil minta diangkat, Gasar pun menghentikan laju pulpennya.
“Hallo, siapa ya?
Oh, oke oke. Jam berapa dan kamar nomor berapa?
Oke, aku pulang. Nomor 34,* jam 10, malam ini.
Sampai ketemu!”
*****
Pantai Batakan Sabtu sore:
Sore yang cerah, waktu yang tepat untuk bersantai, menunggu sunset di ufuk barat. Gelombang semakin meninggi, menderu-dera merayap menaiki pasir pantai. Kadang menyentuh hunjuran kaki Gusur yang sedang menyeruput softdrink. Berakhir pekan di pantai bukan pilihan salah, buktinya di ujung-ujung sana banyak muda-mudi sedang berasyik masyuk berkasih sayang tanpa menghiraukan Gusur yang sedang sendiri menghilangkan kepenatannya mengurusi rumah makan martabak Foderasi Internity.
Meski sudah tak punya ayah dan ibu lagi dan pernah menjadi penghuni panti asuhan, tak menghentikan Gasar dan Gusur berkarya, mengubah garis takdir pahit yang kerap menerkam mereka jika hanya berpangku tangan mengharap belas kasih orang lain.
Gusur meneguk kembali softdrinknya, satu teguk, dua teguk, tiga teguk. Masih setengah kaleng.
“Sendiri aja nih?” sapa seorang cewek yang menghampirinya lalu duduk di samping Gusur.
“Mau nemenin?” Gusur memberi tantangan.
“Oke oke aja. Asal, mau nemenin aku malam ini.”
“Di mana?”
“Di rumahku.”
“Di rumahmu ada siapa aja?”
“Sendiri.”
“Oke. Setuju.”
“Abang ini tinggal di mana?”
“Di Banjarmasin, dekat Pasar Hanyar.”
“Jauh dong dari sini.”
“He eh, kalo di akhir pekan bisaanya aku emang refreshing.”
“Duh, lupa. Namanya siapa?”
“Gusur.”
“Gusur? Aku kira Gusdur.”
“He…he… kalo situ?
“Siapa yang muji kamu gitu?”
“Debur ombak laut, matahari yang sunset, bintang yang mulai gemerlapan.”
“Apa mereka bisa bicara?”
“Seperti yang tertulis di Al-Qur’an.”
“Apa ayatnya?”
“Biar kubacakan artinya: Selalu bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.”
“Mengapa kamu tidak berprofesi sebagai ustadzah saja?”
“Profesi abang apa?”
“Jawab dulu.”
“Saya bisa tahu dan ingat sebagian ayat Al-Qur’an, karena sering diajak almarhum Ayah ceramah kesana kemari.”
“Jadi kamu anak seorang ustadz?
“Ya, begitulah. Ayah dan Ibu meninggal enam tahun yang lalu dalam kecelakaan mobil saat berhaji.”
“Kamu masih untung bisa melihat wajah orangtuamu. Sampai sekarang aku belum tahu di mana Ayah Ibuku.”
Matahari semakin tenggelam bersama gulungan ombak, menghempas batu karang, merayapi pasir pantai. Burung-burung walet terbang menuju darat, berkicau membahana menyelimuti langit senja. Matahari sekarang benar-benar tenggelam dan hanya menyisakan siluet merah. Adzan magrib mendayu telah berkumandang. Arloji di tangan Gusur sudah menunjukkan pukul 06.30.
“Bang, sudah magrib nih. Pulang yuk!”
“Oke. Kamu ke sini pake apa? Mobil? Motor?
“Mobil silver di bawah cemara itu tuh!”
“Aku juga pake mobil. Jadi pulangnya pake mobil masing-masing dong!”
“Nggak apa-apa, yang penting mau nemenin malam ini.”
Deru dua mobil menyatu bersama debur ombak. Memecah kesunyian senja. Mobil Gusur mengikuti mobil Murawati menuju rumah gadis itu. Entah di mana. Untuk menemaninya yang sedang kesepian.
*****
Salon Hafsa, Martapura City:
Semakin malam, semakin banyak yang datang. Kalau malam, yang datang biasanya ingin potong rambut. Untuk pagi, pengunjung yang ingin kerimbat, reabonding, atau sekadar perawatan wajah, menjadi prioritas pesanan. Hafsa cuma duduk di kamarnya sambil membaca-baca antologi puisinya Afan yang baru terbit. Dan tergeletak di atas kasurnya novel pertama yang juga dikaryakan Afan berjudul “Sepiring Tujuh Tangan”, novel yang menguraikan pertemanan REGENERASI yang erat, walau berbeda-beda tetap satu, Bhineka Tunggal Eka.
Tok… tok… tok…
“Mbak Hafsa, ada Pazer di luar,” karyawatinya memberitahu.
“Iya, iya. Suruh tunggu di ruang tamu. Aku siap-siap dulu.”
‘Pasti ada sesuatu,’ kata Hafsa dalam hati. Sebetulnya malas sekali jika berurusan dengan Pazer. Diajak bicara, paling cuma senyum, mengangguk, berkata ya atau tidak.
Ganti baju, semprot sana-sini, sedikit bercermin, dan selesai. Hafsa pun keluar menemui Pazer yang sedang duduk memandangi pemuda-pemuda yang mengarahkan karyawati yang memotong rambut mereka. Kalau salah kehendak, pasti mereka tak mau lagi ke salon ini.
“Hai Zer, tumben ke sini. Ada apa?”
“Kau lupa ya, malam ini jam 08.30 di Hotel D’Caprio!”
“Oh, iya.. iya.. Aku baru ingat.”
“Sudah kau buka kotak itu?”
“Kau memang sangat perhatian dengan orang lain, Zer. Aku juga lupa tentang itu.”
“Sebentar lagi jam 08.00!”
“Oke, oke. Kutinggal sebentar.”
Hafsa memasuki kamarnya, menuju kotak yang terletak di atas lemari. Ia membukanya, lalu tersenyum.
“Keila memang pintar.”
Hafsa keluar dari salon yang merangkap rumahnya, diiringi Pazer dengan wajah dingin.
“Siap dan pasang sabuk pengaman.” Pazer mulai menyalakan mesin mobil, memutarnya ke jalan raya.
Bem…
Begitu cepat roda mobil itu berputar.
*****
Jalan A. Yani Km. 16:
Afan duduk santai menikmati malam yang mulai rintik-rintik, menetes di setiap kedipan mata. Jalan punya nuansa tersendiri bagi para pengimajinasi. Seperti Afan. Mungkin agak aneh bagi orang kebanyakan, duduk di tepi jalan di malam
“Murawati Sukardi Putri.”
“Mirip nama ular ya, Mura¹.”
“Nggak apa-apa deh. Yang penting cantik, seksi dan ceria.”
yang gerimis. Sepertinya Afan sangat menikmati malam minggu ini dengan sendiri, menyepi dalam temaramnya lampu bulan. Pena berliku, mengikuti jari yang memegangnya. Menguntai bait demi bait puisi.
Apakah di negri ini masih banyak penikmat sastra, yang tak menganggap puisi suara yang masuk lalu keluar begitu saja dari gendang telinga. Ya, hanya mengisi waktu luang, saat pekerjaan kantor sudah selesai. Mungkin lebih lagi petani jika ditanya ‘Pak, jenis puisi apa yang Anda suka? Puisi lama atau puisi baru?’
Sungai memanjang di awan
Melintas debu beterbangan
Tetesan demi tetesan
Berserikat mengarus deras
Membasahi pejam mataku
Meluntur pahatan tinta
Merasuk di helaian kertas
Walau ku tak melihatmu
Kedamaian dapat kupegang
Kala dirimu hinggap di tubuhku
Kau belai lembut jariku
Yang menari memuja elokmu
Kau senang
Walau pekat malam
Memeluk kita berdua
Sorot lampu mobil dari kejauhan semakin mendekat, menembus tirai gerimis dengan cepat. Afan tersenyum sambil memandang lampu itu. Ia berjalan ke tengah jalan, menghadap mobil, dan merentangkan tangan, menengadahkan wajah ke langit.
Citt…
Ban mobil Pazer berhenti mendadak. Afan menurunkan wajahnya dan tersenyum pada Pazer dan Hafsa yang ada di mobil. Afan segera masuk ke mobil setelah Hafsa mempersilahkannya. Mobil Pazer melanjutkan perjalanannya kembali, membawa tiga jasad yang berteman akrab menuju Hotel D’Caprio.
*****
Kamar No. 34, Hotel D’Caprio
Keila, Jassar, dan Gasar duduk santai di ruang tamu, minum kopi diiringi obrolan ringan.
“Bagaimana Gas, sudah jadi bisnis sama Hafsa?” tanya Keila.
“Belum, belum dipikir matang-matang.”
“Sematang apa?”
“Sematang buah cempedak.”
“Lama sekali.”
Obrolan terus berlangsung antara Keila dan Gasar. Sementara Jassar sedang asyik memandangi layar laptopnya. Jam sudah menunjukkan pukul 08.20 malam. Tinggal 20 menit lagi, mereka akan menjamu klien mereka.
Klek, pintu kamar terbuka dan memang sengaja tidak dikunci.
“Hallo, assalamu ‘alaikum…,” Hafsa masuk ngelonyor begitu saja, langsung mengambil tempat duduk di samping Jassar.
Pazer dan Afan menyusul di belakangnya.
“Tinggal satu orang lagi Gas,” kata Keila.
“Tadi dia sudah kuhubungi, tapi hapenya tidak aktif.”
“Coba hubungi lagi!”
Gasar pun mengambil HP-nya, mencoba menghubungi Gusur.
Tut… tut… tut….
Lama sekali tak ada sahutan. Lalu suara operator yang kedengaran, memberitahu bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.
HP itu kembali dimasukkan Gasar ke saku celananya. Gusur tetap tak bisa dihubungi. Keila pun terlihat panik.
“Jas, tolong lacak di mana Gusur sekarang!”
“Oke Bos!”
Jassar dengan cepat bekerja. Jendela demi jendela silih berganti di layar laptopnya. Tiba-tiba muncul sebuah rekaman video.
“Kalian sudah berkumpul kan, ini aku, klien yang minta tolong dengan kalian. Tapi maaf, Gusur kalian sedang bersama kami. Lihat dia!”
Tiba-tiba tayangan berpindah menampilkan wajah Gusur dengan tubuh dan tangan terikat, mulut dilakban, dan moncong pistol di kepala. Kemudian tayangan berubah kembali pada laki-laki yang bicara tadi.
“Ha… ha… ha… Tenang saja, ia takkan kami apa-apakan. Asalkan kalian mau menyerahkan kode rahasia kasus berdarah di tambang batu bara Pegunungan Meratus. Kalau ingin dia ini selamat, jangan pernah melawan.”
Bersambung…
Baca lanjutannya......

Oleh: Kamal FPP
Dua sahabat muda itu terus berjalan menyusuri trotoar yang memanjang ke bundaran Adipura Banjarbaru, meski mereka tak sejenis kelamin. Malam sudah berselimut dingin, jam sudah menunjukkan angka 12.40. Jalanan pun sudah lengang, bahkan tak satu pun yang melewati Keila dan Jassar, baik dari roda dua atau empat.
"Kei, apakah jika kau berpikir dewasa, rokok itu haram?"
"Aku ikutan fatwa MUI. Apapun hukumnya, yang kuharap bau tembakau itu tak tercium lagi saat kau bicara di hadapanku."
Hening sesaat.
"Jadi?" Keila menambahkan.
"Entahlah, aku belum merasakan akibat yang selalu ditulis di kemasan rokok selama ini."
"Berarti, hukum ada bagimu setelah kau merasakan akibatnya?"
"Maksudmu?"
"Andai hukum ada sebelum kamu merasakan sakit akibat rokok, tentu kau telah melanggar hukum jika kau sakit diakibatkan rokok."
"Bagaimana kalau hukumnya makruh?"
"Entahlah, kau bisa memikirkan kata-kataku tadi."
Mereka terus berjalan sambil menenteng ransel yang kelihatannya sangat berat.
*****
Malam Jum'at bukan malam favorit untuk beberapa remaja berkumpul. Tapi nyatanya sekarang, empat remaja sedang mengobrol, duduk mengitari tugu Adipura yang menjulang.
"Gimana bisnis martabak lo berdua?" Tanya Hafsa pada si kembar Gasar dan Gusur.
"Seperti pengunjung salonmu, Sa," jawab Gasar simpel.
"Apa bagusnya kita kolaborasi?" Tanya Gusur ke Hafsa.
"Hah? Maksud lo mencukur rambut gaya martabak?"
"Mungkin yang potong rambut sehari dua kali di salon lu dapat empat potong martabak, maksud Gusur," Afan mencoba menjelaskan.
"Bukan. Maksud gue , gimana kalo kami buka cabang di salonmu. Kadang kan pengunjung harus menunggu giliran kalo banyak orang. Daripada mereka nyelonong ke salon lain karena bosan menunggu kelamaan, kan lebih baik makan martabak kami."
"Artinya?"
"Calon pasienmu nggak pergi dan martabak kami laku."
"Kolaborasi yang tak wajar dan perlu dimasak matang-matang."
"Seperti martabak?"
"Mungkin."
Afan menaiki bagian bawah tugu dan mulai berpuisi. Tentang malam.
Malam…
Peluklah tubuh ini dengan hangat bintang
Alirilah dahaga ini dengan embun pagi
Tidakkah kau melihatku
Berdiri menatap wajahmu
Berharap pagi
Masih lama menjelang
Dan kita…
Kan tetap bersama
Dari kejauhan, Keila dan Jassar sedang melangkah menuju Afan, Hafsa, Gasar dan Gusur, membawa tas ransel yang kelihatannya berat. Mungkin berkilo-kilo garam. Hafsa masih terpaku menempelkan punggungnya di tugu Adipura tengah bundaran, menghitung-hitung untung dan rugi berbisnis dengan si kembar. Sedang Gasar dan Gusur duduk menghadap Afan yang tampak memeluk malam, yang seolah ia peluk dalam dekapan.
"Hmm… raja dan ratu sudah datang bergabung, tinggal satu orang lagi," Hafsa mulai bicara.
"Kata siapa? Kau belum menyadarinya!" sanggah Afan sambil menunjuk puncak tugu yang tingginya 45 meter.
Wajah bulan purnama tampak terhalang sesosok lelaki yang duduk memandang bebas ke gedung-gedung yang menjulang di hadapannya dengan tatapan kosong.
"Pazer!! Semua sudah datang!" Afan coba memanggil.
Pazer memandang sekilas ke bawah dan langsung terjun dari puncak tempatnya bertengger. Afan tersentak dan langsung turun ke samping Gusur sambil memegang dada. Deg.. deg.. , semua gugup, tapi ada 50% kepercayaan Pazer akan selamat. Ia terjun tanpa teriak dan suara. Cuma tatapan dingin bagai mata elang yang tajam. Dingin. Krettt…! Badan Pazer yang hampir menyentuh tanah tertarik ke atas, panjang tali karet yang elastis sesuai ukuran. Pazer mendarat dengan selamat..
“Kau semakin lincah, manuver elang menukik," puji Keila.
"Hmm… thanks." Sedikit senyum menyungging.
"Apa kau lihat tikus yang mencurigakan dari atas?" Hafsa bertanya pada anggota Blody yang paling pendiam, Pazer, sang atlet panjat tebing. Dan ia menjawab dengan sedikit gelengan kepala.
Semua duduk melingkar saling hadap mengitari ransel yang terlihat padat itu. Dan sebagai ketua, Keila mulai angkat bicara.
"Ok, barang yang kita pesan sudah ada. Tujuh paket, masing-masing dapat satu."
"Berarti semua bekerja?" Hafsa merasa kurang paham.
"Sesuai bidang masing-masing."
"Satu paket beda dengan paket lainnya," Jassar menambahkan .
"Sepertinya, kamu akan mendapat kacamata pelacak, Zer," Afan coba menebak.
"Apa barang kita sama, Gus? Kita kan kembar!"
Keila mulai membongkar isi ransel, yang lain pun diam. Dan satu persatu menyambut paketnya masing-masing. Keila meneruskan bicara.
"Dan ada klien yang mengajukan masalahnya pada kita. Ia ingin ketemuan sama kita di hotel D'Caprio lusa."
"Bawa barang ini?"
"Untuk apa kita beli kalau hanya untuk disimpan saat macan berlari menuju kita dan mencakar?"
Bersambung…
Baca lanjutannya......
“Hari ini adalah puncak tujuan kita. Hari ini kita pertaruhkan hidup dan nyawa, harta dan kehormatan yang kita pertahankan selama ini,” Jahir Khalid men-support anak buahnya.
“Kemenangan ada di tangan yang benar!” teriak Karim.
“Allahu akbar... Allahu akbar... Allahu akbar...!” Takbir menggema, membakar semangat yang telah menyala.
“Karim, setelah kamu tembak Hakim Abdah, kamu langsung lari. Dan semuanya, setelah itu kalian lempar semua granat yang kalian bawa ke segala arah kecuali ke belakang. Paham?!” Jahir Khalid mengatur rencana dengan matang.
*****
Aroma khas obat menyengat penciuman. Para perawat dan pengunjung rumah sakit hilir mudik di hadapan Prof. Asyraf yang sedang duduk terpaku, menundukkan wajahnya ke lantai yang terbuat dari marmer putih. Warna yang sesuai dengan warna dinding dan tiang-tiangnya. Ia tidak membayangkan bagaimana cara membuat marmer itu, atau bagaimana tukang-tukang menempelkannya di sepanjang koridor ini, atau sebanyak apa uang yang dikeluarkan pemerintah untuk membeli semua marmer-marmer itu, tapi ia sedang gelisah menunggu operasi terhadap putera sulungnya.
Kadang air matanya menganak sungai di pipi tuanya. Air yang berasal dari sukma hatinya, entah mengapa kalbunya kini selalu sedih. Mungkin ia sangat kasih pada keluarganya yang sedang merajut asa, akan sebuah kesembuhan raga dan jiwa.
“Yunus, bagaimana hal istriku?” tanyanya pada Yunus yang baru datang dari rumah sakit jiwa.
“Tak da perubahan, seperti kemarin Pak.”
Setelah beberapa kali diperiksa, sebuah kesimpulan akhirnya bisa ditemukan para dokter pada kepala Kiram. Dalam kepalanya terjadi pendarahan hebat, tetapi tidak keluar dan akhirnya membeku. Karena itulah ia cuma bisa sadar sekitar enam detik perhari. Atas segala pertimbangan, dilakukanlah operasi yang sudah disetujui Prof. Asyraf yang akan dilaksanakan pada 25 Desember pagi.
“Allah, kuserahkan semua masalahku ini pada-Mu,” rintih hati kecil Prof. Asyraf.
*****
Semua yang ada terlihat gembira, tamu dan undangan yang datang banyak sekali. Sebuah gapura yang masih disegel dengan rantai bunga, berdiri megah menyandang tulisan ‘Malkan Beach’.
Karim membaur di antara tamu yang datang, bersama seluruh teman-temannya untuk menjalankan misi yang mereka pikul.
Hakim Abdah tampak duduk santai berbincang dikawal oleh empat orang pengawal khusus. Acara baru saja dimulai. Pembukaan Pantai Malkan sangat meriah. Turis-turis asing menjadi mayoritas di antara para tamu, sedang penduduk asli menjadi minoritas yang terbatas di antara para pejabat dan petinggi, para pengusaha, dan para pemimpin beberapa agama.
Senjata telah Karim siapkan di balik jasnya. Hidup dan kematiannya sangat ditentukan oleh takdir yang digariskan Allah. Musim flu yang mewabah membantunya, karena banyak para hadirin yang memakai masker. Ia pun memakai masker, menutupi mukanya yang sudha diketahui badan intelijen.
“Untuk acara selanjutnya, sambutan-sambutan. Untuk sambutan pertama, akan disampaikan oleh Presiden Hakim Abdah. Waktu dan tempat kami persilakan.”
Tepuk tangan hadirin mengawali berdirinya Hakim Abdah menuju podium. Karim siap mengeluarkan pistol dari balik jasnya.
“Selamat pagi para hadirin,” Hakim Abdah memulai sambutannya.
“Dor... Dor...”
“Akh...:”
Belum sempat Karim menarik pelatuk pistolnya, dua peluru panas telah lebih dulu bersarang di dadanya. Presiden Hakim Abdah segera turun menuju mobil.
Peluru yang ada di dadanya itu berasal dari pistol yang ditembakkan Jendral Qosim yang sedari tadi mengawasinya. Ia tidak sendiri. Seluruh Intelijen negara mengepung tempat itu. PM terjebak. Jahir Khalid dan seluruh anggota PM juga tertembak bersamaan tembakan Jendral Qosim. Semua hadirin yang ternyata seluruhnya adalah intelijen negara asinglah yang membasmi mereka.
Tipuan Jendral Qosim yang sudah lama ia siapkan membuahkan sesuatu yang ia kejar selama ini: hancurnya PM.
Pembukaan Pantai Malkan yang sebenarnya adalah hari tahun baru, tanggal satu Januari nanti. PM tertipu!
“Asyhadu alla.... ila... ha illallah...” Syahadat mengalir lembut dari mulut Karim, bersamaan dengan syahadat yang dibaca seluruh angota PM. Pemuda-pemuda itu tersenyum.
*****
Orang-orang telah pulang. Tinggal Prof. Asyraf yang sedang memangku cucunya di depan dua makam, makam Karim dan Kiram.
Dokter rumah sakit As-Syifa tak berhasil melakukan yang diharapkannya. Kini tinggal ia, menantu dan cucunya. Sedangkan istrinya masih berjeruji besi di rumah sakit jiwa.
“Aku takkan mau kau menjadi ilmuwan,” katanya pad sang cucu.
Warna hitam di matanya seketika menjadi abu-abu.
TAMAT
Pon Pes Al Falah Putera, 12 Agustus 2009
Baca lanjutannya......
Oleh : Kamal FPP
Saat Kiram membuka mata, cahaya matahari menyeruak memasuki kornea matanya. Ia ingin sekali bergerak, tapi sakit langsung menghinggapi badan dan saraf otaknya. Ia pun kembali memasuki dunia gelap yang menidurkan kesadarannya.
Sekarang tubuh Kiram dirawat di rumah sakit As-Syifa, 20 Km dari rumahnya. Karimlah yang membawanya, setelah sebelumnya terjadi percekcokan mulut, antara ia dengan beberapa anggota PM untuk membawa Kiram yang masih dirawat di markas PM ke rumah sakit. Karena mereka tahu, bahwa Kiram punya hubungan dekat dengan Jendral Qosim, seorang yang selama ini selalu mencari informasi tentang PM. Mereka juga mengkhawatirkan keamanan Karim ketika jauh dari anggota-anggota PM.
Tapi Karim tetap bersikeras pada pendiriannya untuk membawa Kiram ke rumah sakit, supaya Kiram lebih baik daripada sekarang, yang dirawat dengan segala kemampuan yang dimiliki PM. Dan akhirnya setelah Karim memberikan argumen yang benar-benar keluar dari lembah hatinya yang begitu sayang pada sang kakanda, Panglima PM, Jahir Khalid mengizinkannya untuk membawa Kiram ke rumah sakit. Jahir mengerti dengan perasaan Karim.
Dari dalam mobil PM, Karim mengirim SMS pada keluarganya dengan HP milik Kiram. Ia memberitahu bahwa Kiram sekarang ada di rumah sakit As-Syifa. Namun ia tak memberi kabar tentang dirinya.
Lima belas menit kemudian Ayah, Ibu, Yunus, dan seorang perempuan yang menggendong bayi datang dengan sebuah mobil. Ingin sekali tangannya sekarang memeluk mereka, melepas rindu yang selalu menggundahkan hatinya. Namun apa mau dikata, ia telah menyetujui perjanjian dengan Jahir Khalid bahwa ia tak boleh diketahui oleh siapa pun, apalagi dari keluarga. Dan sekarang 5 anggota PM senantiasa menjaga apa saja yang ia perbuat. Setelah itu ia pergi dengan membawa kerinduan yang semakin menjadi.
*****
Dokter yang menangani Kiram keluar dari kamar Kiram.
“Bagaimana, Dok?” DR. Musyarrafah langsung bertanya.
“Kiram telah mengalami benturan keras di kepalanya, sehingga sebagian sarafnya tak bisa berfungsi. Tapi kami akan berusaha sebisa kami,” jawab dokter itu singkat, kemudian berlalu meniggalkan keluarga Kiram yang menggenggam berjuta harapan.
“Ini semua salahku! Akulah penyebab semua ini! Kau tak adil Tuhan....! Kau ambil semuanya....!” DR. Musyarrafah berteriak-teriak sambil berlari di koridor rumah sakit.
Yunus dan Prof. Asyraf segera mengejarnya. Ia semakin berteriak, “Tuhan tak adil!”
Ia berlari dengan cepat dan keluar dari bangunan rumah sakit. Prof. Asyraf dan Yunus juga semakin cepat mengejarnya. Mereka sangat takut jika ia sampai ke jalan raya. Sambil mengayuh kakinya, Prof. Asyraf menelpon satpam yang menjaga pintu masuk rumah sakit.
“Pak, tolong tangkap seorang perempuan yang berlari sambil berteriak-teriak.”
“Baik, kami akan menjaga di pintu rumah sakit.”
“Tolong langsung siapkan ambulan untuk membawanya ke rumah sakit jiwa!”
“Baik, kami siapkan secepatnya.”
*****
Setelah sampai di markas PM, Karim duduk di depan markas, memandang bintang-bintang yang selalu tersenyum, tak punya banyak masalah seperti dirinya. Mereka cuma berdiam diri, tapi dapat memberikan sesuatu yang berharga bagi para nelayan, yaitu menuntun meeka kembali pulang ke rumah. Memberitahu para petani tentang waktu bercocok tanam yang baik dan lain-lain.
Andai aku adalah salah satu dari mereka, tentu Ayah, Ibu dan Kakak bangga melihatku yang sangat berguna, Karim membatin.
Jahir keluar markas dan kemudian duduk di sebelah Karim yang sedang melamun.
“Kau tahu Karim, sebentar lagi natal tiba, sekaligus pembukaan Pantai Malkan?”
“Ya, aku tahu itu. Lalu apa yang kau rencanakan?”
“Kau tahu, untuk apa PM didirikan?” tanya Jahir kembali.
“Untuk menggulingkan pemerintahan Hakim Abdah.”
“Hakim Abdah yang akan membuka Pantai Malkan pada 25 Desember nanti. Hari itulah semua anggota kita berbaur di antara hadirin, dan saat itulah kita harus menghabisi nyawanya. Untuk hal itu kuserahkan padamu Karim!”
“Kau saja. Kau kan panglima?!”
“Bukan masalah panglima atau anak buah. Yang saya pikirkan kejituan tembakanmu. Tembak bagian jantungnya. Setelah itu semua anggota mengiringi tembakanmu dengan tembakan membabi buta pada seluruh hadirin. Lalu kita melarikan diri masing-masing, dan berkumpul kembali di sini.”
“Baik, kuterima usulmu.”
*****
Setelah menyelesaikan administrasinya, Prof. Asyraf menengok kembali istrinya yang sedang berada di sebuah kamar berterali besi. Sungguh sedih hatinya melihat sang istri meracau tak karuan. Kadang teriak-teriak, kadang menangis. Malam itu juga ia pergi, kembali ke rumah sakit di mana Kiram dirawat sekarang, karena ia tak mungkin membagi tubuhnya untuk dua orang yang berlainan dan berjauhan tempat.
Ia berjalan menapaki jalan malam hari ini menuju rumah sakit As-Syifa. Malam yang sangat berbekas di hati, malam yang telah meruntuhkan benteng hatinya. Benteng yang selama ini telah banyak menahan cobaan yang datang bertubi-tubi, membabi buta, hingga akhirnya merobohkannya dengan paksa. Bahkan menjadi pasir yang beterbangan dilanda angin kemarau.
Angin malam sedikit mendinginkan suasana hatinya. Menjalani takdir Ilahi dengan tawakkal dan sabar. Takdir tak hanya untuk direnungi, tapi untuk diubah kepada keadaan yang lebih baik. Itulah yang diinginkan Prof. Asyraf sekarang, menyelesaikan segala masalah yang sedang ia hadapi.
Ia dilahirkan dalam keadaan yatim di dusun terpencil utara Kota Kabsyir. Ia tidak dibesarkan di antara orang-orang terpelajar, melainkan orang-orang desa yang hanya mempelajari agama dan bekerja menyambung hidup dalam rangka ibadah. Tapi cuma ia yang berkeinginan keras mencari pendidikan yang lebih tinggi. Sampai akhirnya ia memperoleh gelar doktor di Kabsyir University bidang teknologi, gelar yang ia dapatkan dengan susah payahnya menjadi kuli bangunan.
Seminggu setelah gelar doktor terpajang di depan namanya, Perusahaan Transfortasi Negara (PTN) memintanya bekerja. Dalam jeda waktu yang tak begitu lama, Kabsyir University memintanya menjadi dosen di sana karena ilmu yang ia miliki. Dua jabatan telah ia dapatkan, tapi rasanya ada satu yang kurang, keluarga!
Suatu ketika diadakanlah rapat antara para Peneliti Luar Angkasa Negara dengan PTN. Peneliti-peneliti itu meinta PTN membuatkan pesawat luar angkasa yang akan membawa mereka menjelajahi tata surya. Tentu saja petinggi-petinggi PTN banyak yang angkat tangan, mengingat pengetahuan anggota-anggota PTN tentang produksi pesawat luar angkasa sangat minim. Namun DR. Asyraf menyatakan kesanggupannya, asalkan pegawai PTN yang lain membantunya dalam bekerja.
DR. Musyarrafah yang tergabung dalam Peneliti Luar Angkasa Negara pun kagum memandangnya, pandangan kagum sekaligus cinta.
Dan akhirnya setelah empat tahun berselang, pesawat luar angkasa yang sangat dinanti-nanti semua orang di negri ini, apalagi para astronot, telah siap digunakan. Semua rakyat gembira, karena negri mereka tidak kalah dengan negara-negara lain.
Presiden Laqitullah Asrar memberikan gelar profesor pada DR. Asyraf. Namanya pun seketika mencuat di media-media massa.
Para astronot pun tak sabar lagi menaiki pesawat yang sangat mereka dambakan itu. Presiden akhirnya menyetujui acara penerbangan pertama pesawat tersebut, sehari setelah pesawat rangkum.
Sejak penerbangan para astronot pertama kali dengan pesawat hasil Prof. Asyraf, Prof. Asyraf semakin dekat dengan DR. Musyarrafah. Hingga pada akhirnya lamaran pada DR. Musyarrafah dikeluarkan mulut Prof. Asyraf pada kedua orang tua DR. Musyarrafah.
Gayung bersambut, pinangan itu diterima tanpa ada kendala. Kebahagiaan demi kebahagiaan mereka rangkul bersama.
Namun semua itu hanyalah slide masa lalu. Sekarang yang ada hanyalah keadaan-keadaan pahit yang meruntuhkan semua kebahagiaan yang ia dapatkan.
*****
Dini hari 25 Desember. Adzan subuh belum terdengar, kokok ayam baru satu dua yang terdengar membahana memecah kesunyian. Bintang-bintang pun masih memancarkan sinarnya. Melum terlihat aktivitas manusia, kecuali anggota PM. Mereka sibuk menyiapkan senjata api, peluru, bom, granat, dan lain-lain.
Bersambung...
Baca lanjutannya......
Oleh: Kamal FPP
Kedatangan Karim disambut dengan suka cita oleh para anggota Pemuda Mujahid (PM). Mereka menyangkanya telah tertangkap oleh pemerintah. Karim menyunggingkan senyumnya yang berhiaskan rona terpaksa. Senyum itu mendapat tempat khusus di perasaan Jahir Khalid, sang panglima PM. Ia membaca senyum itu, senyum yang menampakkan suatu kegalauan hati di relung-relung jiwa Karim. Ia tahu, ancaman pemerintah takkan menggalaukan hatinya. Hanya rindulah yang membuat air matanya menetes.
“Ada apa Karim? Ceritakan saja padaku!”
“Sudah, tak ada apa-apa.”
*****
Kiram datang ke rumahnya. Tak ada sambutan, sunyi senyap tak ada bunyi gerakan. Ia mulai membuka pintu, terlihat di hadapannya ibunya yang sedang duduk seperti tak merasakan kehadirannya. Beliau cuma mengarahkan sorot matanya ke foto yang dipegangnya.
“Bu, ini Kiram,” kata Kiram memulai percakapan.
Ibunya terkejut ketika baru menyadari bahwa Kiram ada di hadapannya. Ia rangkul anak lelakinya itu dengan erat sambil menangis berirama hati yang menduka. Prof. Asraf keluar kamar dan ikut berpelukan dengan mereka. Prof. Asraf dan DR. Musyarrafah menampakkan ketidakberdayaannya di hadapan Kiram, mereka memandangnya dengan tatapan yang mengisyaratkan kamulah harapan kami.
“Aku akan berusaha mencarinya, tenang saja,” kata Kiram meyakinkan keduanya.
*****
Seperti biasa, setelah mengajar fiqih di halaqah yang ada di rumahnya, Kiram bertasbih memuja Rabbnya, Tuhannya yang tak pernah bosan menemaninya di kala ia menjalani pahit dan getir lika-liku jalan hidupnya. Sama seperti Kiram, Prof. Asraf dan DR. Musyarrafah sedang bermunajat, mengeluh pada Allah tentang Karim yang tak ada lagi kabar keberadaannya. Mereka tak berputus asa, walau tetangga dan sahabat mereka telah menasehati.
“Sudahlah, relakan saja ia untuk Allah...”
Nama Hakim Abdah semakin memburuk saja di kalangan warga negaranya sendiri, tapi semakin terangkat di luar negri. Pembangunan fasilitas di Pantai Malkan hampir selesai, dan turis-turis asing mulai menjadikan tempat-tempat wisata di sekitarnya sebagai tujuan utama untuk berpesta ria, karena natal akan tiba beberapa hari lagi.
Dua tahun sudah Kiram tak melihat Karim di matanya, semenjak kejadian di Kabsyir be Hotel. Selama itulah ia terus mencari informasi tentangnya, baik dari Jendral Qosim, Yunus, sampai dari anggota PM yang tertangkap. Semuanya nihil, tak ada yang bisa menyalakan secercah harapn yang menggembirakan dari mulut mereka. Dan selama dua tahun itulah, Kiram telah membangun rumah tangga yang dilengkapi seorang anak laki-laki.
Harapan Nyonya Musyarrafah pada Kiram tampaknya membuahkan hasil. Rumahnya sekarang tiap pagi selalu diisi penuh oleh murid-murid Kiram. Tapi ada satu yang disayangkan Kiram darinya, ia takkan mau untuk melepaskan pakaian hitamnya sampai Kiram kembali lagi padanya. Beberapa psikiater telah banyak melakukan penyembuhan, mereka tahu obatnya dan memberitahukannya pada Kiram, tapi obatnya terlalu sulit.
“Obatnya cuma satu Pak, datangkan adik Bapak, Karim,” kata psikiater tersebut.
“Itu sangat sulit, adakah cara yang lain?”
“Cuma itu, tak ada yang lain.”
*****
Musim panas telah berlalu, namun hati Kiram tidak berubah. Hati yang selalu menyimpan setumpuk rintihan, lalu memendamnya dengan sejuta harapan. Harapan yang memantul dari dawai hatinya menuju pendengaran Tuhan, satu-satunya yang selalu ada untuknya. Jiwanya bergelora nista penuh asa akan kehadiran seseorang yang ia harapkan selalu batang tubuhnya, canda tawanya, hingga senyum manis di pipinya.
Ia duduk di pelataran rumahnya, rumah yang merekam betapa indahnya masa kecil bersama Karim.
Dari kejauhan, terlihat Yunus datang menujunya dengan tergesak-gesak. Jika Yunus mendatangi rumahnya, Kiram merasakan sesuatu yang berbeda, hati yang ingin berburu membawa matanya untuk mencari Karim, karena Yunus selalu memberi kabar apabila ada berita atau informasi tentang Karim. Yunus memarkir sandalnya dan mulai berkata.
“Lihat ini,” Yunus menyerahkan selembar foto.
“Di mana tempat ini?”
“Bagian utara Kota Kabsyir.”
*****
Dengan kecepatan tinggi, Kiram mulai memacu mobilnya. Utara kota Kabsyir tidaklah dekat, tapi akan terasa dekat jika dibandingkan nanti ia akan bertemu saudaranya tercinta. Di foto yang diperlihatkan Yunus tadi tampak sebuah gubuk dikelilingi beberapa pria berlilitkan sorban di wajah, dan di antaranya terdapat pemilik mata adiknya, Karim. Sepertinya itu markas anggota PM.
Lukisan-lukisan alam silih berganti dengan cepat di luar kaca mobil Kiram. 100 kilometer perjam sudah hal biasa bagi Kiram dalam menggelindingkan roda mobilnya. Melewati pepohonan yang rindang, sedikit menenangkan hati Kiram yang sedang gelisah bermandikan rindu yang mendalam. Rindu akan sebuah obat yang sangat dinanti ibunya untuk menghilangkan sakitnya selama ini. Dan rindu akan sebuah magnet yang akan mengembalikan keceriaan rumahnya yang telah hilang.
Jalan semakin sepi, hanya mobil Kiram yang sedang memutar roda. Kecepatan pun semakin meniggi, 150 Km/jam.
“Tut... tut...” HP-nya menerima panggilan, rupanya sang ibu sudah tak sabar menerima kabar darinya.
“Bagaimana, apakah kau sudah menemui adikmu?”
“Belum, Bu. Sabar dan berdoalah!” Brakk...
“Allah.............”
“Kiram....!? Ada apa?”
HP itu melayang ke udara ketika mobil Kiram menabrak truk yang sedang berhenti. Kepala Kiram mulai meneteskan darah dan ia pun tak sadar lagi. Anggota PM yang ada di markas yang cuma berjarak 50 meter dari mobil Kiram langsung menuju asal suara tabrakan itu. Ternyata truk mereka ditabrak sebuah mobil. Beberapa di antara mereka langsung mengevakuasi pengendara mobil itu.
“Allahu akbar.”
Sebuah teriakan keluar dari mulut Karim setelah melihat pengendara itu ternyata kakaknya dan kini sedang bermandikan darah.
Bersambung...
Baca lanjutannya......
Oleh : Kamal FPP
Di tengah malam sunyi, seorang pemuda tengah sibuk mengutak-atik sebuah senjata api di kamarnya. Tampaknya itu bukan senjata legal yang resmi diizinkan. Sang ayah mendengarkan di balik pintu kamarnya, ia merasakan hal yang berbeda akhir-akhir ini pada sikap anaknya itu. Apa gerangan penyebab perubahannya, kini ia sangat brutal dan pendiam. Lama ia mematung mendengarkan kejadian di dalam kamar anaknya, tapi yang ia dengar cuma bunyi besi yang dipasang dan saling bergesekan. Ia kembali ke kamarnya dengan wajah murung, ke kamar sekaligus laboratorium untuk seorang profesor sepertinya.
“Bagaimana Raf, apa yang ia lakukan?” tanya istrinya, seorang ilmuwan perempuan peneliti angkasa luar.
“Sepertinya sedang merakit sesuatu,” jawabnya dengan lemas.
“Itulah salahmu! Itu karena kamu terlalu berlebihan mengajarkannya temuan-temuan gilamu. Lebih-lebih, kau tak menuruti kata Ibu. Coba kalau kita turuti, kita masukkan ia ke pesantren seperti kakaknya, tentu ia tak akan melakukan hal-hal yang brutal seperti sekarang. Ia takkan bisa merakit sebuah bom yang ia ancamkan untuk menghanguskan rumah kita.”
“Sudah! Cukup! Kamu juga menginginkannya jadi ilmuwan seperti kita juga kan? Tak perlu ada yang disalahkan, aku mau tidur!”
*****
Profesor Asraf dan istrinya, DR. Musyarrafah menuju kantor Intelejen Negara. Di dalam mobil istrinya menyalakan TV, di sana tampak presiden Hakim Abdah menyampaikan rencananya membangun tempat wisata berkelas internasional di Pantai Malkan, sembilan puluh kilometer dari Kusyaifah, tempat tinggal Asraf. Sehingga warga asing banyak berkunjung ke negaranya dan menambah pendapatan negara. Rencana itu didukung penuh oleh pihak asing, tapi rakyat menjadi geram dengan ulahnya. Banyak demo terjadi akhir-akhir ini setelah rencana itu diumumkan.
Pemerintah tak tinggal diam menanggapi ini. Hukum baru dikeluarkan mahkamah pusat, bahwa barang siapa melakukan demo melawan pemerintah dengan tulisan, himbauan, atau senjata baik dengan batu, bom, atau senjata api lainnya maka akan dihukum mati.
Sudah banyak para pemuda dan aktivis yang tertangkap, mereka tinggal menunggu waktu diakhiri hidup mereka di hadapan sang penjagal.
Keputusan presiden tentang dilarangnya bahasa Arab di kalangan umum dan diganti bahasa Inggris, serta mahasiswa yang ingin kuliah ke luar negri hanya boleh ke Eropa dan bidang studinya ekonomi dan sains saja, tak kalah hebat mendapatkan perlawanan dari masyarakat.
Tak lama berselang, mereka sudah sampai di kantor intelejen. Mereka menuju ke ruangan Jendral Qosim setelah sebelumnya mengadakan janji pertemuan. Jendral Qosim tampak sedang memperhatikan beberapa foto buronan.
“Selamat pagi Jendral,” Asraf memulai pembicaraan.
“Selamat pagi juga.”
“Kami berdua setuju dengan tawaran Anda untuk mengirimkan seseorang dari anak buah anda untuk mengawasi Karim anak kami,” Asraf menambahkan.
“Sudah terlambat, Raf, lihatlah layar TV itu!”
Jendral Qosim mengambil remot yang ada di hadapannya, dan langsung memencet salah satu tombolnya. Layar menayangkan rekaman sebuah demo di halaman istana Presiden. Kamera memperlihatkan gambar beberapa demonstran anarkis yang dipukuli anggota polisi, sedangkan yang lain mencoba maju menerobos masuk ke dalam istana kepresidenan.
Bak…
Seorang polisi memukul seorang demonstran yang membantu temannya yang sedang dipukuli polisi lain. Sungguh pemandangan yang mengerikan.
Dar… Akh…!
Polisi itu ambruk tersungkur bersimbah darah di hadapan demonstran yang ia pukuli. Kamera sekarang tertuju pada seorang pemuda yang mukanya berlilit sorban sambil memegang senjata api. Kamera memperdekat gambarnya.
“Karim!” Profesor Asraf tersentak kaget setelah kamera memperdekat gambarnya, ia mengenalinya.
“Ya, itu memang Karim anakmu. Sekarang ia telah menjadi buronan kelas atas intelejen Negara. Mungkin dari pagi tadi kau tak melihatnya ada di rumahmu lagi bukan?”
“Ya, kau memang benar Jendral. Andai saja sudah sejak dulu tawaranmu kusetujui, mungkin ini takkan terjadi,” sahut Profesor Asraf sedih.
Nyonya Musyarrafah menangis melihat apa yang telah terjadi. Karim, anak kesayangannya yang ia harapkan menggantikannya di Lembaga Antariksa Negara nantinya, telah tiada. Entah pergi ke mana. Kalau mengharapkan Kiram, kakaknya Karim, rasanya tak mungkin untuk bisa menggantikan seorang antariksawan seperti dirinya. Kiram memang ia harapkan menjadi seorang ulama dan Karim seorang ilmuwan, sehingga Kiram ia masukkan ke pesantren dan Karim ke sekolah umum, atas saran suaminya.
*****
Profesor Asraf dan istrinya sudah kembali ke rumah. Tuan Asraf cuma rebahan saja dari tadi di kamar, mengamati foto kedua putranya. Sedangkan nyonya Musarrafah duduk di kursi goyang mengingat masa lalu. Tentang karim kecil yang imut, saat mereka piknik ke pantai, dan lain-lain. Rumah ini sekarang sunyi senyap, tak ada keceriaan lagi di dalamnya.
*****
Di beranda asramanya, Kiram duduk santai sambil membaca sebuah koran edisi kemarin. Memang sudah menjadi kebiasaannya apabila setelah shalat zuhur duduk di beranda asrama jika musim panas tiba. Daripada di dalam asrama, tentunya lebih baik di luar asrama karena angin musim panas mengalir deras mendinginkan badan.
Tujuh tahun yang lalu ia memasuki pesantren ini dengan dihiasi tangisannya, tangisan yang terjadi akibat perpisahan dengan keluarganya. Ia ingat wajah Karim, di saat ikut mengantarnya, wajah yang bingung melihat kakaknya yang lebih tua darinya menangis. Ia pun tertawa beberapa saat kemudian. Karim adiknya yang sangat ia sayangi itu, kini telah menjadi pemuda yang gagah dan tampan.
Di koran edisi kemarin itu banyak sekali para demonstran yang menginginkan Presiden Hakim Abdah turun jabatan. Mereka sangat kontra dengan keputusan-keputusannya yang dinilai melanggar hak asasi. Namun juru bicara kepresidenan, Muslih Addarki mengklaim kebijakan-kebijakan Hakim itu tidak melanggar hak asasi, bahkan membawa sebuah kemajuan negara. Pernyataan itu mendapat reaksi besar dari Pemuda Mujahidin (PM), sebuah organisasi pemberontakan yang beranggotakan para pemuda yang tidak tega melihat sahabatnya, keluarganya, dan rakyat jelata lainya yang hak-hak mereka dilecehkan. PM terus menerus melancarkan serangan, sehingga apabila mereka tertangkap langsung dihukum mati.
Naiknya Hakim Abdah menjadi presiden menyebabkan banyak terjadinya perubahan pada keamanan negara. Pada masa presiden sebelumnya, Laqitullah Asrar, tak ada yang namanya demo, pemberontakan, dan lain sebgainya. Dia mengatur negara, membuat peraturan, dan membuat kebijakan benar-benar menurut peraturan Negara Islam. Sehingga masyarakat yang semuanya beragama Islam, sangat menghormatinya. Berbeda dengan Hakim, ia ingin mengubah negara menjadi negara moderen berkelas internasional. Sedikit demi sedikit ia mulai mencabut nilai-nilai keislaman, padahal negara ini didirikan menurut ketatanegaraan Islam.
“Kiram, lihat ini!” kata Yunus, teman sekampung Kiram padanya dengan nada cemas sambil menyerahkan koran edisi hari ini.
Kiram memalingkan wajah dan mengepalkan tangannya setelah melihat koran halaman depan. Foto Karim terpampang jelas di sana, dan diberitakan telah menjadi buronan utama pemerintah di antara anggota PM.
“Yunus, aku mau pulang. Mungkin Ibu dan Bapak sangat terpukul dengan kejadian ini. Aku ingin menenangkan mereka terlebih dahulu.”
*****
Sebuah taksi membawa Kiram menuju rumahnya di Kusyaifah. Ia memandangi langit biru yang menyaksikan kisah hidup keluarganya sekarang, yang dahulunya ceria penuh kebahagiaan namun kini seolah lenyap terselubung kabut hitam.
Dari kejauhan sebuah hotel berbintang lima kelas internasional berdiri megah di tengah-tengah kota, sebuah hotel yang sering dikunjungi turis-turis asing. Laksana sebuah kerajaan yang sangat megah, mobil-mobil mewah berjajar rapi di tempat parkirnya. Taman-taman tertata dengan indah, dan bule-bule keluar masuk dengan pakaian yang membukakan auratnya,. Di lantai 12, terpampang sebuah nama “KABSYIR be HOTEL”, hotel termegah di kota Kabsyir. Taksi perlahan mendekatinya, karena jalan menuju Kusyaifah melewati bagian depannya.
Lampu merah menyala, menghentikan taksi yang ditumpangi Kiram.
DAAAR…
Sebuah ledakan hebat terjadi di lantai dasar hotel, sehingga para pengunjung hotel yang di bawah dan di atas kalang kabut. Semua mobil terhenti, terpana melihat apa yang terjadi. Beberapa pemuda yang wajahnya berlilit sorban berlari keluar dari pintu hotel dengan membawa senjata. Dua bola mata yang Kiram kenal ada di antara mereka. Kiram langsung lari mengejar mereka.
“Karim….!” Kiram berteriak keras.
Pemuda tadi pun terkejut melihat Kiram . Ia langsung lari berpisah dari teman-temannya, dan Kiram berlari mengejarnya. Mereka berdua berlari saling kejar-mengejar. Mereka berlari menyeberang jalan, berlari di gang-gang sempit, hingga sampai ke hutan belakang perumahan warga. Kiram kehilangan jejaknya, ia menangis tersedu.
“Karim…!” teriaknya kembali.
Karim yang ada di balik lilitan sorban itu, menangis meneteskan air matanya mendenganr teriakan Kiram di pohon besar yang ada di dekat kiram.
“Maafkan aku Kak,” ucapnya lirih.
Bersambung….
Baca lanjutannya......