Literasi 5
03.01 | Author: Forum Pena Pesantren
Photobucket

Sudah lama banget Literasi nggak nongol. Yah, bukannya menguji kesetiaan pembaca, tapi ada banyaaak... gangguan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu sebelum Literasi terbit kembali, khususnya masalah "Dapur Redaksi".


Kata orang sih, keberhasilan itu didahului cobaan-cobaan. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Mudah-mudahan saja, Literasi menjadi keberhasilan yang kitai nginkan.
Selama ini, Literasi hanya menampilkan apa-apa yang berhubungan dengan sastra. Sehingga banyak orang yang mengatakan kurang tertarik. Nggak apa-apalah, kami juga maklum. Ketertarikan seseorang sesuai hati dan keinginannya masing-masing. Kami tak bisa memaksakan kehendak.
Karena itulah, kami selalu dan sangat membutuhkan kritik, saran, info, dan lain-lain yang meningkatkan kualitas Literasi sesuai dengan harapan pembaca. Pada akhirnya, tanpa pembaca kami takkan bisa muncul kepermukaan.
Di edisi kelima ini, kami menghadirkan puisi Kaka Zian dan puisi Ithay yang pada bulan Desember lalu dimuat di Koran. Cerbung baru yang pastinya lebih seru juga bisa kamu nikmati di edisi ini.
Selamat membaca!

Redaksi
fppalfalah@gmail.com
http://forumpenapesantren.tk

Baca lanjutannya......
Kenali dan Mulai Berimajinasi
03.01 | Author: Forum Pena Pesantren
Apa mungkin, kita yang tak pernah ke Turki bisa bercerita dengan setting Turki? Mungkin bisa, dengan membaca di buku atau internet. Tapi, penghayatan tulisan kita tentang apa yang ada di sana seperti tidak hidup. Itu disebabkan karena kita tak pernah merasakan keadaan yang sebenarnya.

Coba kita menulis tentang Banjarmasin. Tentunya kita bisa mendeskripsikan aliran sungai Martapura yang keruh dengan kelotok-kelotok yang berlalu-lalang di atasnya, elang-elang yang asyik bermanuver, nini-nini menjajakan rambutan, anak-anak yang sedang asyik balumba, acil-acil yang sedang mencuci di lanting, dan julak-julak yang berwudu ingin mengerjakan sholat. Bahkan kita bisa mendeskripsikan yang lebih dari itu, sehingga tulisan terasa sangat hidup dan asyik diimajinasikan, walaupun hanya cerita fiksi.
Itu untuk latar. Untuk tokoh yang kita jadikan tokoh pun, lebih baik jika kita menjadikan orang-orang yang sudah kita kenal. Mulai dari sifat, kebiasaan, status sosial, bahkan sampai postur tubuh. Misalkan sifatnya cengeng, kebiasaannya pelupa, statusnya orang sederhana, seorang pekerja di bengkel, dan tingginya 150-an. Kita bisa menambahkan lagi, dengan misalnya wajahnya agak melonjong ke bawah, alisnya tebal, punya tiga helai janggut di dagunya, dan lain-lain. Itu cuma untuk satu tokoh, untuk tokoh-tokoh yang lain kita bisa membuat sifat-sifat yang berbeda. Dan hasilnya, perpaduan tokoh yang sudah kita kenal, berlatar tempat yang sudah kita kenal menghasilkan sesuatu karya yang terasa lebih hidup saat membaca dan mengkhayalkan. Selamat mencoba. Tempat yang ada di sekitarmu menyimpan sesuatu yang asyik untuk diimajinasikan.[]Kamal.

Baca lanjutannya......
Danau Beratap Jingga
03.00 | Author: Forum Pena Pesantren
http://heartedelweis.blogspot.com

Kalau di Sumatera ada yang namanya Danau Toba, maka di Kalimantan ada danau yang kuberi nama Danau Beratap Jingga. Wow, seperti apa ya? Danau yang ada di Gunung Kupang, Cempaka, Kalimantan Selatan itu memiliki keindahan yang kurasa tidak kalah dengan pemandangan yang disajikan oleh Danau Toba.

Hanya saja asal-usul tentang Danau Toba telah melegenda dan namanya tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Berbeda dengan Danau Beratap Jingga yang tidak banyak dikunjungi oleh masyarakat, karena memang letaknya yang mungkin kurang strategis. Meskipun danau tersebut belum diketahui oleh banyak orang, tetapi aku dan teman-temanku tidak pernah bosan untuk pergi ke sana.
Dan sore itu, ketika aku, Allin, Afri, Chity, Dya, Intan, Lee na, dan Redha (without Rizqa) telah selesai mengerjakan tugas Sosiologi di rumah Lee na, tiba-tiba salah satu dari kami mempunyai ide untuk pergi ke danau itu. Karena letaknya tidak terlalu jauh dari rumah temanku Lee na, tanpa pikir panjang kami pun langsung bergegas dan menghidupkan mesin kendaraan roda dua milik Afri, Chity, Intan, dan Redha.
Sepeda motor yang aku dan teman-temanku kendarai berjalan pelan, mataku terbuka lebar dan kuarahkan pada pemandangan yang selalu menawarkan kedamaian. Tak terasa kami sudah semakin dekat dengan danau tersebut, laju sepeda motor pun diperlambat. Dan sesampainya di sana, kami pun disambut dengan berbagai kejutan yang telah terhampar di sekitar danau. Momen indah itu tentu sayang jika dilewatkan begitu saja. Serempak kami mendekati danau, bergaya layaknya artis terkenal yang sedang disorot puluhan kamera, dan kami mulai berfoto ria.
Saat itu tak ada orang yang berkunjung ke sana selain aku dan friends, suasana pun terbalut sepi (yang mungkin hanya disadari olehku). Pemandangan danau hari ini memang tak semenarik bulan lalu, ketika pohon-pohonnya masih rindang dan rumput-rumputnya terlihat hijau. Sekarang banyak batang pohon yang berubah menjadi hitam dan banyak rumput yang dulunya hijau kini tersihir menjadi cokelat layu. Entah siapa yang melakukan semua itu, tetapi nyatanya banyak pepohonan yang telah terbakar dan menjadi abu.
Air danau kini terlihat surut karena kemarau panjang yang melanda setiap sudut dalam bentangannya. "Kasihan sekali danau ini, seperti tak ada yang peduli, bahkan nama pun belum ia miliki," rintihku dalam hati (saat yang lain masih asyik berfoto).
Sunyi kian merambat, senja mulai menyapa, dan langit biru berubah menjadi jingga. Aku dan yang lain masih ingin menikmati sejuknya angin sore yang bertiup pelan, menebar damai dalam hembusan nafas. Pandangan mataku mulai berpencar (mencari sesuatu) dan terlihat sunset yang mulai mencoba menghiasi sudut bumi. Terselip ide di pikiranku, bagaimana kalau danau ini aku beri nama "Danau Beratap Jingga"? Karena faktanya, kini langit jingga telah menaungi danau. Nama untuk danau tersebut tidak aku beritahukan pada teman-temanku, kurasa cukup aku saja yang mengetahuinya.
Hari sudah semakin senja, tampaknya aku and friends telah puas melepas penat di danau ini. Akhirnya kami pun ingin segera pulang. Tetapi sebelum kami beranjak meninggalkan danau, aku and friends draw up plans for (membuat rencana untuk) datang ke Danau Beratap Jingga ini lagi pada hari libur (Minggu), dengan membawa seperangkat alat piknik untuk mamencok ria di sana. Siapa saja yang mau ikut, silahkan datang dengan transport masing-masing dan jangan lupa membawa buah-buahan yang banyak.[]

Baca lanjutannya......
Hajriansyah
02.59 | Author: Forum Pena Pesantren
Photobucket

Nah, ini dia yang jadi pembicara pada acara seminar penulisan cerpen yang diadakan
oleh FPP pada bulan Oktober lalu, seorang sastrawan Kal-Sel asli! Sebelumnya, mari kira simak profilnya yang ditulis oleh dia sendiri di blognya (http://hajriansyah.wordpress.com) :

Saya lahir di Banjarmasin dan sekarang berdomisili di Banjarmasin, maka saya disebut orang Banjar. Saya pernah ke Jogja belajar seni lukis di ISI, ketika pulang ke Banjar dan melukis beberapa lukisan, maka saya disebut pelukis. Saya pernah membaca puisi di waktu kecil dan memenangi beberapa lomba membaca puisi di SMU, kemudian menulis beberapa puisi, cerpen, dan esai, maka saya disebut penulis (penyair, cerpenis,
dan esais). Saya coba menguji diri saya di partai, maka saya disebut
orang partai. Saya sehari-harinya masuk-keluar kantor Tahura Advertising--dan inilah sumber penghidupan yang saya rintis dengan tertatih-tatih sejak 2003-- entah saya pengusahakah. Saya tak paham betul dengan sebutan-sebutan itu, kecuali ingin bertahan dengan pikiran saya yang naif, mengatasi keterbatasan-keterbatasan saya sebagai pribadi dan ingin menyumbangkan pikiran saya--yang naif itu--untuk orang banyak, bla...bla...bla..(entahlah)
Hahaha... Begitulah gaya bahasanya, unik, menggelitik, namun sarat kritik dan sindiran. Pria kelahiran Banjarmasin 10 Oktober 1979 ini pernah mengenyam dunia perkuliahan di MSD ( Modern School of Design ) Yogyakarta jurusan seni lukis. Kemudian melanjutkan studinya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan seni murni, program studi seni lukis.
Bukunya yang telah terbit ialah Jejak Air (antologi puisi), Jejak Angin (antologi puisi) dan yang paling baru ialah Angin Besar Menggerus Ladang-Ladang Kami (antologi cerpen). Selain sibuk melukis dan mengelola penerbit Tahura Media, beliau juga menjadi ketua Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banjarmasin. []Farid


Baca lanjutannya......
Penempatan Tanda Titik
02.58 | Author: Forum Pena Pesantren
Di edisi kemarin kita sudah membahas dimana meletakkan huruf kapital atau huruf besar. Sekarang kita akan membahas tentang tanda baca yaitu titik. Berikut cara pemakaian titik (.) :

1. Dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Contoh:
Ayahku tinggal di Solo.
2. Dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar. Contoh:
1. Patokan Umum
a. Pengertian
3. Dipakai untuk memisahkan angka jam, menit dan detik yang menunjukkan waktu. Contoh:
Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)
4. Dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir tanda tanya atau tanda seru dan tempat terbit dalam daftar pustaka. Contoh: Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.
5. a. Dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya. Contoh: Desa itu berpenduduk 24.200 orang.
Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.234 jiwa.
b. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah. Contoh:
Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
Lihat halaman 2345 dan seterusnya.
6. Tanda titik tidak dipakai di akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel dan sebagainya. Contoh:
Acara Kunjungan Adam Malik
7. Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat. Contoh:
Jalan Diponegoro 82
Jakarta (tanpa titik)
1 April 1985 (tanpa titik)
Di edisi selanjutnya kita akan membahas tentang tanda koma, tanda titik dua, dan tanda hubung.[]Syarief


Baca lanjutannya......
Angin Besar Menggerus Ladang-Ladang Kami
02.57 | Author: Forum Pena Pesantren
Lihatlah sungai ini, yang membentang melingkari tanah kita. Impian-impian kita di bawahnya hanyut bersama. Aku tak tahu lagi bagaimana mengayuh jukungku, tanganku tak sekuat dulu, sewaktu aku muda. Saat daun-daun terasa lebih hijau, dan akar pohon berjalin mengikat tanah dan air di bawah kakiku. Aku hanya tak ingin mengulang keluh yang sama: angin besar menggerus ladang-ladang kami! (kutipan cerpen Angin besar Menggerus Ladang-Ladang Kami)


Angin besar Menggerus Ladang-Ladang Kami, begitu judul antologi cerpen karya-karya Hajriansyah, sastrawan Kal-Sel yang kini aktif dalam Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banjarmasin sebagai ketua. Buku kumpulan cerpen terbitan Frame Publishing dengan 171 halamannya ini berkandungkan 14 buah cerpen: Monologila, Suatu Hari Menari, Seseorang Pergi Jauh, Lukisan Surga, Suara yang Datang Kemudian, Panggung Terakhir Seniman Tua, Laki-Laki Pemburu Petir, Kau Tak Peduli Lagi, Sungai-Sungai yang Membeku di Kepalaku, Ada Buaya di Keluasan Sana!, Suatu Hari di Kotamu, Angin besar Menggerus Ladang-Ladang Kami, Ia Rebah Memegang Lambungnya dan Pelukis-Pelukis Kesepian.
Lewat cerpen-cerpennya, Hajriansyah seakan berusaha menguraikan segala bentuk keprihatinannya atas budaya 'banua kita'. Itu terbukti dari kebanyakan sudut pandang latar ceritanya yang terkesan mengkritik. Juga terlihat dari cara pendeskripsiannya yang akan membuat pembaca merenung. Keluar dari keprihatinannya pada banua, cerpen Hajriansyah juga bersifat memperkenalkan banua dengan segala macam kalebihannya, serta memberi semangat dan menjadi sumber inspirasi bagi tunas-tunas muda untuk terus berkarya. Di sebagian cerpennya yang lain, kembali Hajriansyah berhasil mencampur aduk suasana harmoni alam yang khas dengan sosilokui (percakapan batin) yang berbau filosofis, kegelisahan personel tokoh-tokohnya, serta pergulatan eksistensial. Kiranya antara kearifan kolektif dan pencarian personel, Hajriansyah telah menemukan momentum kreatifnya.[]Farid


Baca lanjutannya......
Maju sih Maju
02.57 | Author: Forum Pena Pesantren
Kemajuan memang perlu, bahkan butuh. Tapi dapatkah kemajuan adalah murni kemajuan; tanpa menimbulkan dampak negatif pada hal-hal rositif yang sudah ada sejak lama? Secara, kamajuan bersifat baru dan membaharui.


Semisal globalisasi. Benar memang tidak selama dan semua pengglobalisasian bersifat negatif; betapa banyak kamajuan-kamajuan positif yang telah kita capai dengannya. Tapi secara bersamaan, kita pun harus mengakui bahwa, budaya kita, misalnya, telah banyak terpengaruh oleh budaya-budaya luar.

Sebagai contoh, budaya Islam kita. Sebagaimana bangsa ini didominasi penduduk muslim, bukankah semestinya kekentalan budaya Islam kita harus tetap terjaga sampai kapanpun juga? Kemudian mari kita lihat di era sekarang; era globalisasi ini, mencapai 50%-kah penduduk penganut Islam yang benar-benar menjaga kesuciannya? Semisal dalam hal berpakaian, telah terkemanakan budaya berpakaian secara Islam kita? Sementara itu, produksi kain di Indonesia semakin lama semakin menurun saja, sehingga desain-desaain model pakaian pun ikut mengecil, mengetat, membuka, memamerkan, membebaskan, menyegarkan….

Nah, bukankah ini suatu kenegatifan? Lalu, siapa yang mau kita salahkan atas semua ini?[] Farid


Baca lanjutannya......
Aku Ingin
02.56 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Joni FPP

Dalam siang
Terangnya matahari
Ku berdiri
Melawan angin yang menerpa tubuhku

Di sinilah, di pantai inilah
Telah terlahir sejuta kenangan
Disaksikan gelombang dan batu karang

Kini hanya rasa rindulah yang ada di dada
Aku pun tak kuasa menahan gejolak ini
Hatiku berteriak
Aku ingin ke pantai lagi



Baca lanjutannya......
Yang Terakhir
02.55 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Zainuddin FPP

Kulalui jalan
Setapak demi setapak
Dikejar waktu
Yang semakin sedikit dan sempit

Apakah…
Ini yang terakhir
Kubumbui jalanku dengan khayalan
Untuk mencapai impian

Semua rasa yang membebaniku
Terbang melayang
Seperti layang-layang di pantai yang sejuk dan sepi

Dengan bekal ilmu
Yang menuntun jalanku
Mengharap rahmat Tuhan
Mungkin ini yang terakhir



Baca lanjutannya......
Penyesalan Hidari Lamunku
02.54 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Ithay FPP

Kurasakan cahaya gelap menerpa kembali
Gelap gulita….
Mencoba untuk bangkit
Berlari-lari mengejar keberuntungan
Keberuntungan yang tak kunjung datang
Menyesal….
Mengambil keputusan yang salah
Meraih keberhasilan yang tiada habisnya
Diri ini tak kunjung diberi kesempatan

Rapuh….
Tertatih-tatih meraih kesuksesan
Diinjak-injak oleh kenistaan
Dicampakkan oleh kesunyian
Lunglai…
Tersandar di dinding penyesalan
Mencoba tuk bisa bertahan
Dikecam oleh kesunyian

Wahai mentari pagi
Akankah aku bisa menikmati cahayamu lagi?

(Puisi ini pernah dimuat di harian Banjarmasin Post edisi Minggu, 13 Desember 2009)



Baca lanjutannya......
Satu Senja di Tepian Barito
02.53 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Zian FPP

Bayang-bayang telah meregang
Menahan sesak sebelum malam
Ah, boleh aku bertanya?
Kala kulihat kebekuan luka
Masihkah kita mencicil duka?

Sungai Barito yang bisu
Yang menjingga serupa masa lalu
Sesal ditelan kenangan seperti jejak-jejak ilung
Aku menoreh harap, meski hati berwujud sendu

Sesal angin yang kuuntaikan dengan tasbih
Riak sungai merangkul jiwaku yang kecil
Kemana kau pergi?
Aku menggigil dalam sunyi

29 Nopember 2009

(Puisi ini pernah dimuat di harian Radar Banjarmasin edisi Minggu, 20 Desember 2009)



Baca lanjutannya......
Anak Desa
02.53 | Author: Forum Pena Pesantren
Saya berasal dari desa yang kurang mengenal sastra. Mungkin hanya mengenal dari pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah. Pernah kami disuruh membuat cerpen. Yah, membuat cerpen hanya mengerjakan tugas. Hasilnya, banyak yang membuat dengan kalimat terulang. Misalnya: lalu, dan, kemudian, dan akhirnya. Setelah mendapat sedikit koreksi, kertas yang dikumpul itu dikembalikan, disimpan, dan dilupakan. Tak ada yang berminat menjadikannya hobi, atau sebuah ilmu yang harus betul-betul diresapi. Belum ada motivator yang memotivasi anak-anak bangsa di desa.

Apa motivator hanya memotivasi para pelajar di kota? Salah satu yang belum tergali dari ladang potensi anak desa adalah minat terhadap sastra. Diperlukan adanya motivasi yang disuarakan langsung kepada mereka. Tidak bisa hanya dengan motivasi-motivasi yang ditulis, dicetak, dan dipasarkan. Tetapi dengan turun tangan langsung para penulis dan sastrawan yang tak ingin kecintaan terhadap sastra itu sangat redup di alam pedesaan, yang menyimpan begitu banyak keceriaan, pengalaman, kebersamaan, dan keindahan alam yang sangat perlu didokumentasikan melalui tulisan. Sayang jika hanya berlalu begitu saja. Padahal desa punya sumber daya manusia yang berkualitas, hanya belum digali dan tergali.
Salah satu cara yang pas, mengadakan semacam dakwah di sekolah-sekolah dasar pedesaan. Mengajak anak-anak mulai menggoreskan pena, mencintai sastra, dan melahirkan sosok-sosok baru dalam dunia sastra. Membeberkan padamereka manfaat menulis. Karena apa menfaat menulis juga dibeberkan? Karena arus perkembangan modernisasi yang menggila saat ini, pada akhirnya juga telah menyambangi pedesaan. Saya prihatin dan miris. Mereka lebih memilih bekerja ketimbang sekolah. Bekerja langsung menghasilkan uang, belajar belum tentu langsung memahami apa yang diajarkan dan hasilnya belum langsung dirasakan, kira-kira begitulah pemikiran mereka.
Pemikiran demikian perlu diluruskan dan dibenahi. Salah satunya memotivasi untuk mulai berkarya dengan ilmu yang dimiliki dan menambah wawasan. Perlu munculnya sastrawan yang hanya menimba ilmu di pedesaan , karena mereka juuga punya potensi seperti anak bangsa lain di negri ini. []Kamal


Baca lanjutannya......
Training Bersama FLP
02.50 | Author: Forum Pena Pesantren

Pagi hari itu agak dingin, tidak panas, sesuai keinginan hati. Sesuai yang aku rencanakan bersama Arief, pagi itu kami menghadiri workshop kepenulisan yang diadakan ikhwan dan akhwat FLP cabang Banjarmasin. Dengan pakaian serba hitam (termasuk sepatu), kami berdua pergi berjalan keluar Pondok Pesantren Al Falah Putera.
Karena tidak punya kendaraan, terpaksa kami menyewa kendaraan roda empat berwarna hijau putih (pake angkot). Lama sekali menunggu angkot datang, kira-kira 15 menit, menunggu sambil berdiri layaknya polantas dilampu merah, barulah sebuah angkot berjalan menuju ke kami. Kami pun bergembira ria, bersuka cita, jingkrak-jingkrakan, tak henti-hentinya mengucap hamdalah atas nikmat yang diberikan-Nya (he..maaf, nggak semua tulisan ini beneran, ada ditambah-tambahi dikit, sorry...)
*****

Setelah tiga kali ganti angkot, akhirnya kami sampai juga di Aula Sasangga Kantor Pemprov Kal-Sel. Saat kami datang, ternyata Mas Hangga Sudewo selaku panitia acara sedang menyampaikan sambutannya. Setelah mengisi daftar tamu,kami langsung bergabung dengan ikhwan dan akhwat lainnya yang sudah tiba lebih dahulu dari kami. Tak berapa lama, sambutan dari Mas Hangga berakhir, dan dilanjutkan oleh Bapak Khairani SPdI selaku ketua FLP cabang Kal-Sel. Seperti biasa, gaya khasnya yang lucu membuat suasana workshop yang asalnya tegang seperti rapat dewan, ditambah suhu AC-nya yang berr..., menjadi cair dan hangat kembali.
Acara yang ditunggu-tunggu pun dimulai, yaitu workshop kepenulisan dengan pembicara Kak Dewi Alfianti, dan Bunda Shinta Yudisia (ketua FLP cabang Jatim). Kak Dewi mengangkat masalah lokalitas, khususnya budaya Banjar. Ternyata banyak keunikan yang belum tergali dalam kehidupan orang banjar. Sementara Bunda Shinta, beliau lebih banyak bicara tentang motivasi menulis dan kisah-kisah teman-teman dari FLP penuh perjuangan untuk mempublikasikan karyanya. lalu acara tanya jawab. Arief menyempatkan diri bertanya dan mendapat hadiah dari Bunda. Acara yang dimulai dari jam 08.00 pagi itu,berakhir pada jam 12.00 lewat (nggak ingat persis lewat berapa menit).[]Kamal

Baca lanjutannya......
Kuis
02.49 | Author: Forum Pena Pesantren
1. Apa judul buku kumpulan cerpen karya Hajriansyah?
2. Siapa penulis buku kumpulan puisi “Jejak Air”?
3. Apa alamat situs penggati templet untuk Blogspot?
4.Sebutkan tiga tokoh yang ada dalam cerbung Malam yang Muram!
5. Bagaimana agar cerita terasa lebih hidup?



Ketentuan:

- Menempelkan kupon yang telah disediakan;
- Mencantumkan nama, kelas, dan asrama (untuk santri Al Falah) atau nama, sekolah, dan nomor HP (untuk yang bukan santri Al Falah);
- Jawaban dikirim ke asrama Thalhah pada saudara Syarief;
- Jawaban dikirim paling lambat tanggal 13 Maret 2010;
- Tiga orang pemenang akan mendapatkan hadiah menarik dari kami.


Pemenang Kuis Literasi Edisi 4:

1. Muhammad Noor
Imam Maliki, 2 Ts.D
2. M. Aulia
Hamzah 2, 1 Ts
3. M. Dzulhilmi
Tahfiz, 1Aly.A

Hadiah akan kami antar ke tempat Anda.



Dapatkan T-Shirt keren dari Literasi, untuk tiga orang pemenang Kuis Literasi edisi ke-5 ini!


Baca lanjutannya......
Prestasi yang Pernah Diraih
02.48 | Author: Forum Pena Pesantren
1. M. Noor (sudah keluar): juara 2 lomba menulis surat untuk guru (20 Mei 2007).
2. Zian: postingannya, "Lika-Liku Menjadi Anggota Kayuh Baimbai" (Literasi 1) terbaik ke-2 dalam rangka peringatan 1 tahun Komunitas Blogger Kalsel Kayuh Baimbai (20 Januari 2009).
3. Acat (sudah keluar): artikelnya, "Pro Kontra UUD Pornografi Dan Pornoaksi Serta Pandangan Islam" juara harapan 1 lomba menulis artikel yang diadakan LDK Nurul Fata IAIN Antasari Banjarmasin (2008).
4. M. Aya (sudah keluar): artikelnya, juara harapan 3 lomba menulis artikel yang diadakan LDK Nurul Fata IAIN Antasari Banjarmasin(2008).
5. Zian: artikelnya mengenai blog, "Cara Mengganti Cursor", dan "Kupu-Kupu di Blog" dimuat di harian Radar Banjarmasin dalam rubrik Radar Blogger (Mei 2009).
6. Zian: cerpennya, "Selalu Diimpit Waktu" (Literasi 2) dimuat di harian Banjarmasin Post (28 Mei 2009).
7. Ilham (sudah keluar): cerpennya, "Iblis Tidur" dimuat di buletin mingguan Serambi Ummah (2009).
8. Ilham (sudah keluar): cerpennya, "Tolong Aku!" (Literasi 1) dimuat di buletin mingguan Serambi Ummah (2009).
9. Ithay: cerpennya, "Aku Bukan Gay!" (Literasi 2) dimuat di harian Banjarmasin Post (5 Juli 2009).
10. Ithay: postingannya, dimuat di harian Banjarmasin Post (30 Juli 2009).
11. Kamal: cerpennya, "Mengapa?" (Literasi 3) dimuat di harian Banjarmasin Post (30 Agustus 2009).
12. Zian: cerpennya, "Kios Mimpi" (Literasi 4) dimuat di harian Banjarmasin Post (29 Oktober 2009).
13. Ithay: puisinya, "Pasar Terapung Lok Baintan", "Di Ujung Hampa" (Literasi 1) dan "Penyesalan Hidari Lamunku" (literasi 5) dimuat di harian Banjarmasin Post (13 Desember 2009).
14. Zian: puisinya, "Satu Senja di Tepian Barito" (Literasi 5) dan "Doa Bersama Hujan" dimuat di harian Radar Banjarmasin (20 Desember 2009).


Baca lanjutannya......
Selamat Datang Anggota Baru
02.45 | Author: Forum Pena Pesantren
Alhamdulillah, pada akhir Januari lalu penerimaan anggota baru bisa dilakukan. Ada beberapa proses yang telah dilalui para anggota baru hingga akhirnya dinyatakan lulus. Semua itu tidak lain ialah demi mengukur seberapa besar keseriusan untuk menjadi anggota FPP. Karenanya, kami ucapkan selamat datang kepada para anggota baru:

Kastal Budiman Irwan
Nakfi Abdurrahman HS Rasyidi
Radiannor Siddik Mahrani
Eko Syarwani

Selamat bergabung di FPP, dan rasakanlah dunia yang penuh imajinasi!


Baca lanjutannya......
Info
02.45 | Author: Forum Pena Pesantren
Sekurangnya, ada tiga berita gembira yang kami terima selama empat bulan ini atau sejak Literasi edisi 4 terbit. Pertama ialah dimuatnya cerpen "Kios Mimpi" (Literasi 4) karya Zian di harian ternama Banjarmasin Post pada hari Ahad, tanggal 29 Nopember 2009.


Masih di harian Banjarmasin Post, menuyusul kemudian Ithay pada hari Ahad, tanggal 13 Desember 2009 dengan tiga puisinya, yaitu "Pasar Terapung Lok Baintan", "Di Ujung Hampa" (Literasi 1), dan “Penyesalan Hidari Lamunku”.
Lalu pada Ahad berikutnya (20 Desember 2009), Zian kembali membuktikan kemampuannya. Dua puisinya dimuat di harian Radar Banjarmasin, koran yang seleksinya sangat ketat dalam hal memuat naskah sastra. Dua puisi Zian tersebut ialah "Satu Senja di Tepian Barito" dan "Doa Bersama Hujan".
Selamat untuk Zian dan Ithay. Semoga saja hal ini juga menjadi motivasi bagi kita semua untuk bisa terus menghasilkan karya-karya yang berkulitas, bukan hanya sekadar menghibur.[]

Baca lanjutannya......
Inbox
02.44 | Author: Forum Pena Pesantren
Biar majalah kesayangan kita ini tambah oke, kami sangat mengharapkan masukan dari kalian semua, baik berupa komentar, kritik maupun saran. Layangkan masukan kamu via e-mail ke fppalfalah@gmail.com atau langsung ke asrama Talhah pada saudara Syarief dengan mencantumkan data diri secara lengkap. Kami tunggu!


Selamat kepada FPP yang telah berhasil menerbitkan majalah Literasi dan terus eksis sampai saat ini. Thanks atas adanya rubrik Ensiklopedi yang membuat bertambahnya wawasan kita. Saya mau nyumbang usul untuk Literasi:
- Bisa nggak, di rubrik Tokoh diceritakan tentang bagaimana belajar dan usaha tokoh tersebut sehingga menjadi sastrawan?
- Gimana kalo pertanyaan di rubrik Kuis jawabannya ada di Literasi edisi sebelumnya?
Itu aja deh, thanks…
Anonym, 1 Aliyah

Bagaimana usaha si tokoh untuk bisa jadi seorang penulis cukup sulit dicari, karena selama ini kami hanya menyadur dari beberapa sumber, tidak dengan wawancara langsung. Jadi apabila kami menemukan sumber yang menceritakan bagaimana proses si penulis tersebut, tentu akan kami cantumkan juga.
Jawaban Kuis ada di Literasi edisi sebelumnya? Wah, kayaknya boleh juga. Terimakasih.

Salam atas antum semua! Para redaksi yang telah berusaha menerbitkan majalah tentang pengetahuan sastra dan kepenulisan. Bagi Literasi yang cakep, ada saran nih:
Bisa nggak, dibuat catatan definisi-definisi tentang istilah-istilah kepenulisan,seperti apa itu konflik, opini, partikel dan lain-lain. Atau arti dari kata-kata yang kurang diketahui para santri,termasuk saya, seperti kata koridor, sukma hati, mayoritas, minoritas dan lain-lain.
Mungkin itu aja dulu. Terimakasih. Ditunggu jawabannya!
M.Dzulhilmi, asramaTahfizh, 1Aly A

Terimakasih atas sarannya, tapi sepertinya kami tidak bisa mewujudkannya karena keterbatasan halaman dan adanya rubrik-rubrik lain yang kami rasa lebih penting. Kalau kamu ingin tahu arti kata-kata tersebut, kamu bisa mencarinya di Kamus Bahasa Indonesia.


Cerpennya kurang. Bagaimana kalau puisinya dikurangi dan diganti cerpen?
Faldi, asrama Tahfizh, 3 Tsanawiyah A

Puisi sudah kami kurangi, yang sebelumnya empat menjadi tiga. Dan itu sepertinya sudah jumlah minimal. Kenapa ada tiga puisi di majalah ini? Jelas, karena puisi merupakan bagian yang sangat penting bagi kesusastraan Indonesia, terutama di Kalimantan Selatan.
Cerpen memang ingin kami tambah, tapi itu tentunya juga akan menambah jumlah halaman, dan buntutnya ialah naiknya harga. Jadi, untuk sementara hanya dua cerpen yang kami sajikan.


Baca lanjutannya......
Novel Pertama di Dunia
02.43 | Author: Forum Pena Pesantren
Pada tahun 999 di Jepang, tepatnya saat masa kekaisaran Heian, novel pertama di dunia lahir. Ditulis oleh Lady Murasaki Shikibu. Novel Murasaki yang ini bertutur tentang kisah cinta Kekaisaran Genji. Novel ini juga diterjemahkan ke Bahasa Inggris dengan judul ”Tale of Genji”.

Novel terkenal selanjutnya datang dari Cina berjudul Xiyouji (ziarah ke barat) karangan Wu Cheng En. Kisah ini segera menjadi legenda yang melekat di benak rakyat Cina.
Sedangkan di Indonesia, novel sudah ada sejak zaman sebelum Islam masuk. Novel yang bisa ditelusuri pada zaman tersebut adalah Ramayana dan Mahabarata versi Nusantara. []Syarief

Baca lanjutannya......
Kenapa QWERTY?
02.41 | Author: Forum Pena Pesantren
Sekarang ini lagi ngetrend HP dengan tombol QWERTY. Apalagi HP Cina, mereka tak mau ketinggalan dalam bersaing. Tapi, tahukah kamu bagaimana sejarahnya susunan huruf QWERTY tersebut?

Baiklah. Begini, hal ini berkaitan dengan sejarah mesin ketik yang mulai dipasarkan oleh Christopher Latham Sholes (1868). Sebenarnya susunan huruf sebelum menggunakan QWERTY justru sangat mudah, malah sangat memungkinkan kita untuk mengetik dengan lebih cepat. Terlalu cepatnya kemungkinan dalam mengetik tersebut, sampai- sampai sering timbul masalah pada saat itu. Seringkali saat tombol ditekan, batang-batang huruf (slug) yang menghentak pita mengalami kegagalan mekanik, yang lebih sering diakibatkan karena batang-batang itu saling mengait (jamming).
Karena bingung memikirkan solusinya pada saat itu, Christopher Latham Sholes justru mengacak-acak urutan itu sedemikian rupa sampai ditemukan kombinasi yang dianggap paling sulit untuk digunakan dalam mengetik. Tujuannya jelas, untuk menghindari kesalahan-kesalahan mekanik yang sering terjadi sebelumnya. Akhirnya susunan pada mesin ketik inilah yang diturunkan pada keyboard komputer, dan pada tahun 1973 diresmikan sebagai keyboard standar ISO (International Standar Organization).
Sebenarnya ada beberapa standar susunan keyboard yang dipakai sekarang ini. Sebut saja ASK (American Simplified Keyboard), umum disebut DVORAK yang ditemukan oleh Dr. August Dvorak sekitar tahun 1940. Secara penelitian saat itu, susunan DVORAK memungkinkan kita untuk mengetik dengan lebih efisien. Tetapi mungkin karena terlambat, akhirnya DVORAK harus tunduk karena dominasi QWERTY yang sudah terjadi pada organisasi-organisasi dunia saat itu dan mereka tidak mau menanggung resiko apabila mengganti ke susunan keyboard DVORAK. Satu-satunya pengakuan adalah datang dari ANSI (American National Standard Institute) yang menyetujui susunan keyboard Dvorak sebagai versi “alternatif” di sekitar Tahun 1970.
Susunan keyboard lainnya yang masih perkembangan dari susunan QWERTY adalah QWERTZ, AZERTY, QZERTY, dll.[] Zian, berbagai sumber

Baca lanjutannya......