Sebarkan Virus pada Anak Desa
23.46 | Author: Forum Pena Pesantren

Desa Kembang Habang, Rantau. Inilah yang baru saja FPP kunjungi. Berbeda dengan tanggal 8 Oktober 2009 lalu, yang mana FPP memilih berwisata ke sebuah pantai di Batakan, kali ini FPP memilih tempat di sebuah desa yang berada di pegunungan. Gunung yang masih hijau dengan tatanan kebun karet yang begitu rapi.
Bukan sekadar rekreasi, tapi di sini FPP juga melakukan pelatihan tulis-menulis di sebuah sekolah dasar. Event ini yang menjadi salah satu momen berharga bagi FPP.


Kamis siang (13 Mei 2010), kami berangkat menggunakan mobil taksi hijau putih, tepatnya taksi ST 12 menuju Rantau. Sebelum sampai, kami mampir di rumah Ansyar FPP untuk makan bareng sehabis melakukan shalat ashar berjamaah di mesjid AT-TAQWA Binuang. Setelah itu FPP melanjutkan perjalanan hingga sampai di lokasi penginapan, yakni rumah Kamal FPP di desa Kembang Habang, Salam Babaris, Tapin.
Sungai bawah tanah berdinding, beralas dan beratap batu menjadi daya pikat tersendiri desa ini. Sungai dengan air yang dingin, deras, jernih juga bersih, asli dari bebatuan alam pegunungan. Lubang untuk masuk ke sungai tersebut berada di tengah-tengah kebun karet. Keunikan sungai ini membuat kami tak bosan-bosannya untuk mandi.
***
Pagi Jum’at, sebelum menuju ke SD, kami menyempatkan diri berjalan kaki menghirup udara sejuk pegunungan. Pukul 08.30 dengan taksi ST 12 kami menuju SDN KEMBANG HABANG 1. Di sana FPP melakukan pengajaran serta pelatihan tentang kepenulisan pada anak-anak kelas lima. Pengajaran lebih difokuskan pada motivasi menulis. Selain itu, ada pula game-game seru berhadiah buku. Tampil sebagai pembicara Kamal, Ithay, Budiman dan terakhir Zian.
Virus menulis yang kami bawa merupakan tujuan utama kedatangan kami ke SDN ini. Semua anak bangsa berpotensi untuk menghirup virus ini tak peduli itu anak kota atau anak desa. “Tidak ada yang sulit dalam membuat sebuah tulisan. Kita cuma perlu menyediakan kertas dan alat tulis, lalu menuliskan apa yang ada di kepala kita,” papar Zian sebelum meminta para anak-anak untuk membuat sebuah cerita mengenai pengalaman yang menurut mereka paling berkesan.
***
Usai beristirahat sejenak di rumah Kamal setelah virus yang kami bawa sudah tersebar, kami harus melangkahkan kaki ke Mesjid untuk shalat Jumat kemudian dilanjutkan dengan makan siang di rumah Eko FPP yang berlokasi tak jauh dari rumah Kamal.
Kegiatan telah berakhir, sehabis sholat ashar taksi ST 12 membawa kami pulang. Sajian alam Rantau yang begitu indah, ditingkahi candaan angin gunung yang membuat hati terlena, keluguan anak-anak desa serta keramahan penduduknya menjadi sesuatu yang terukir abadi di hati kami.[] Badali

Baca lanjutannya......
Training Bersama FLP
02.50 | Author: Forum Pena Pesantren

Pagi hari itu agak dingin, tidak panas, sesuai keinginan hati. Sesuai yang aku rencanakan bersama Arief, pagi itu kami menghadiri workshop kepenulisan yang diadakan ikhwan dan akhwat FLP cabang Banjarmasin. Dengan pakaian serba hitam (termasuk sepatu), kami berdua pergi berjalan keluar Pondok Pesantren Al Falah Putera.
Karena tidak punya kendaraan, terpaksa kami menyewa kendaraan roda empat berwarna hijau putih (pake angkot). Lama sekali menunggu angkot datang, kira-kira 15 menit, menunggu sambil berdiri layaknya polantas dilampu merah, barulah sebuah angkot berjalan menuju ke kami. Kami pun bergembira ria, bersuka cita, jingkrak-jingkrakan, tak henti-hentinya mengucap hamdalah atas nikmat yang diberikan-Nya (he..maaf, nggak semua tulisan ini beneran, ada ditambah-tambahi dikit, sorry...)
*****

Setelah tiga kali ganti angkot, akhirnya kami sampai juga di Aula Sasangga Kantor Pemprov Kal-Sel. Saat kami datang, ternyata Mas Hangga Sudewo selaku panitia acara sedang menyampaikan sambutannya. Setelah mengisi daftar tamu,kami langsung bergabung dengan ikhwan dan akhwat lainnya yang sudah tiba lebih dahulu dari kami. Tak berapa lama, sambutan dari Mas Hangga berakhir, dan dilanjutkan oleh Bapak Khairani SPdI selaku ketua FLP cabang Kal-Sel. Seperti biasa, gaya khasnya yang lucu membuat suasana workshop yang asalnya tegang seperti rapat dewan, ditambah suhu AC-nya yang berr..., menjadi cair dan hangat kembali.
Acara yang ditunggu-tunggu pun dimulai, yaitu workshop kepenulisan dengan pembicara Kak Dewi Alfianti, dan Bunda Shinta Yudisia (ketua FLP cabang Jatim). Kak Dewi mengangkat masalah lokalitas, khususnya budaya Banjar. Ternyata banyak keunikan yang belum tergali dalam kehidupan orang banjar. Sementara Bunda Shinta, beliau lebih banyak bicara tentang motivasi menulis dan kisah-kisah teman-teman dari FLP penuh perjuangan untuk mempublikasikan karyanya. lalu acara tanya jawab. Arief menyempatkan diri bertanya dan mendapat hadiah dari Bunda. Acara yang dimulai dari jam 08.00 pagi itu,berakhir pada jam 12.00 lewat (nggak ingat persis lewat berapa menit).[]Kamal

Baca lanjutannya......
Satu Lagi dari FPP
23.20 | Author: Forum Pena Pesantren




Oleh: Farid FPP

Dengan suksesnya acara seminar penulisan cerpen yang menghadirkan cerpenis Kal Sel bernama Hajriansyah pada Jum’at, 6 Nopember 2009 di lantai 2 kantor Pondok Pesantren Al Falah Putera kemarin, FPP kembali menorehkan sejarah dalam perjalanannya. Karena memang, acara yang bertajuk “Berdakwah Lewat Pena” ini seluruhnya merupakan hasil kerja keras anggota FPP.
Selain anggota FPP dan santri Al Falah Putera yang non anggota, hadir pula Bapak Aliansyah Jumbawuya yang merupakan wartawan Serambi Ummah (penulis buku Saatnya Penulis Muslim Menggebrak) dan beberapa orang rekan dari Darussalam.
Setelah pembukaan dan kalam Ilahi, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Kamal selaku ketua FPP dan Kak Zian, sebagai pembimbing FPP sekaligus ketua panitia acara ini. Kemudian acara berlanjut dengan penyampaian materi oleh Bung Hajriansyah.


Menurut Hajriansyah, banyak teori seputar panduan membuat cerpen. Tapi cara yang paling baik adalah membaca secara langsung sebuah karya dan mempelajari bagaimana si pengarang membikin cerita. Kemudian tindak lanjuti dengan praktik menulis.
“Biasakan diri menulis setiap hari. Cobalah berteman atau berkorespondensi dengan pengarang cerpen yang sudah terkenal, sehingga kita dapat belajar bagaimana proses kreatif dia,” terang penulis buku kumpulan cerpen “Angin Besar Menggerus Ladang-Ladang Kami” ini.
Di sini, para peserta juga diberi kesempatan bertanya terkait materi yang disampaikan maupun permasalahan lainnya dalam dunia kepenulisan, terutama cerpen. Antusias peserta cukup tinggi dalam sesi ini, sehingga acara yang rencananya berakhir pada pukul 11.10 pun menjadi molor. Sebelum acara ditutup, Bung Hajriansyah sempat membagi-bagi doorprize berupa buku-buku karya beliau dan penulis banua lain untuk empat orang yang berhasil menjawab beberapa pertanyaan yang beliau ajukan.
Pukul 11.30, acara yang bertujuan untuk menjadikan tulisan sebagai media dakwah yang mudah diterima khalayak dan guna meningkatkan bakat santri dalam hal tulis-menulis ini ditutup dengan doa dari salah seorang anggota FPP bernama Rainadi.
Tidak ada kalimat yang paling pantas untuk kami ucapkan selain terimakasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tak langsung untuk suksesnya acara ini.[]
Ket: Liputan serupa dapat dilihat di harian Banjarmasin Post edisi Senin 9 Nopember 2009, dan buletin mingguan Serambi Ummah edisi 518.






Baca lanjutannya......
Batakan: Saksi Revolusi FPP
22.41 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Ilham FPP

Desa Batakan memang memiliki beberapa aset wisata yang eksotik. Di antaranya Pantai Batakan, Pantai Labuan, Pulau Datu, Pantai Batu Lima dan masih banyak lagi. Karena itulah, tempat ini menjadi pilihan kami dalam rangka merayakan dua tahun berdirinya FPP, serta untuk mempererat persaudaraan sesama anggota. Event ini juga menjadi momen revolusi FPP, karena banyak perubahan drastis yang dilakukan FPP sesudahnya.

Tak sia-sia menjelma seumpama setrika dalam mengurus perizinan yang rumit dan ruwet, akhirnya putaran ban mobil pick up yang membawa 18 anak-anak FPP berputar menuju Batakan. Dengan kecepatan sedang, kami tiba di lokasi penginapan, yakni rumah keluarga Farid FPP pada pukul 16.30 WITA seusai menempuh kurang lebih dua jam setengah perjalanan.


Di hari kedatangan, setelah shalat ashar, kami bergegas pergi ke Pantai Labuan. Tepiannya bukan berupa pasir, melainkan bebatuan dan karang. Karena itu pantai ini tidak cocok sebagai area berenang. Sebab, membahayakan jika tergores karang yang lancip.
Berhubung hari telah senja dan lagipula ini cuma sekadar melihat-lihat saja, kami kembali ke rumah keluarga Farid yang jaraknya tidak begitu jauh. Tentunya sebelum itu, ada foto-foto dulu, soalnya sangat sayang melewatkan berpose di batu alam saat sunset di pantai yang tangguh ini.
Di hari selanjutnya, pagi-pagi kami berjalan kaki menuju ke Pantai Batakan. Setidaknya kami ingin menyaksikan sunrise dari pantai yang eksotik ini. Berbeda dengan Labuan, Pantai Batakan memiliki pesisir dengan pasir yang halus. Tak sia-sia membawa bola ke sini karena tepiannya sangat cocok menjadi lapangan bola.
Namun tidak semuanya bermain bola. Ada yang perang lumpur, sementara itu di sudut sana mambangun istana pasir. Tak jauh dari situ, ada yang mengubur dirinya. Dan yang paling janggal adalah seorang omnivora yang apabila menemukan sesuatu yang bisa dikonsumsi langsung dia sikat.
“Manis seperti gula,” tuturnya sambil mengemut daging kepiting hidup-hidup.
Hura-hura tanpa rumusan. Kendati demikian, bukan berarti jauh-jauh ke sini hanya untuk itu. Agar rekreasi ini tetap berkesan pena, maka diwajibkan setiap anggota membuat satu puisi bertema pantai atau laut. Jadilah setelah capek, masing-masing meraih binder dan pulpen. Sambil duduk di atas pohon tumbang di bawah pohon pinus, dicandai napas laut, ditingkahi anggunnya dedaunan gugur, semuanya menumpahkan ide-ide yang menggeliat di otak.
Perjalanan terakhir menjelang sore, sebelum pulang kami menyempatkan berkunjung ke Pulau Datu. Sekitar pukul 3 siang kami datang kembali ke Pantai Labuan. Soalnya, dari situlah titik terdekat untuk mencapai Pulau Datu. Dengan kesepakatan harga, disewalah satu perahu milik nelayan setempat. Pemandangan di pulau mungil ini memang tak kalah memesona. Pastinya yang pertama dilakukan adalah ziarah ke makam Datu Pamulutan sebelum berkeliling pulau.
Puas menikmati sajian alam tempat ini, kami kembali ke tempat kami menginap. Usai melaksanakan kewajiban, kami pun pulang ke Al Falah. Dan senja terakhir pun tumpah di desa Batakan.[]





Baca lanjutannya......
Haflah Rajabiyah: Menyuguhkan Kreasi
22.24 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Ithay FPP

(Sambil mencoba-coba baju hadiah dari lomba baca puisi dan drama islami)
Dimulai dengan seorang staf yang berlagak layaknya pembawa berita. Berita pertama yang dibacakannya ialah tentang bagaimana kerja keras para staf IKPPF 09/10 dalam mengerjakan panggung. Cuplikan video untuk berita pertama tersebut masih biasa, yakni saat para staf sedang membuat panggung.


Berita kedua mulai menarik. Yaitu berita bahwa Bush, mantan presiden Amerika Serikat dan Osama Bin Laden memberikan dukungan atas acara Haflah Rajabiyah yang mereka gelar. Videonya ialah video asli Bush ketika sedang bepidato, namun suaranya diganti menjadi Bahasa Banjar, begitu pula dengan Osama Bin Laden.
Berita-berita selanjutnya lebih seru lagi, bahkan ada berita bahwa sang MC untuk acara pembukaan ingin diculik.
Ya, begitulah video yang diputar saat sebelum acara pembukaan Haflah Rajabiyah di Pondok Pesantren Al Falah Putera dimulai. Tentu saja, video yang berdurasi tujuh menit tersebut serta merta mengundang gelak tawa dari para penonton, tidak terkecuali para Ustadz yang menghadirinya.
Memang sangat tepat sekali selogan panitia Haflah Rajabiyah tahun ini: We Want to Change. Dari awal saja sudah banyak sekali yang berbeda. Lomba-lomba yang diadakan pun juga banyak perubahan.
"Di bidang seni ada tambahan lomba yaitu lomba cerpen dan cergam. Sedangkan di bidang panggung juga ada tambahan, yaitu baturai pantun dan madihin," demikian terang ketua panitia, Fadilah Arsyad.
Banyak lagi perubahan-perubahan lain. Dan yang paling terasa ialah waktunya yang mana pada tahun-tahun sebelumnya satu bulan penuh, namun kini hanya dua minggu (17/7 - 31/7). Untuk mengakali waktu yang cuma diberikan sedikit itu, maka sore pun acara panggung juga digelar.
Terus terang saya sendiri salut dengan para staf IKPPF 09/10 yang meskipun dengan berbagai kendala masih mampu mengadakan acara ini dengan sukses. Hal ini tentunya juga menjadi cambuk bagi kami (2 aliyah) untuk bisa mengadakan acara yang juga tak kalah bagus di tahun berikutnya.[]


Baca lanjutannya......
FLP ke Sekolah
21.59 | Author: Forum Pena Pesantren
Oleh: Ilham FPP

FLP (Forum Lingkar Pena) lagi-lagi bikin 'ulah'. Kali ini, berlokasi di SMASA Banjarbaru, mereka mengadakan seminar kepenulisan dalam rangka "FLP Goes to School" pada Ahad lalu (31/05). Acara yang bertajuk "Menjadi Generasi Cinta Buku dan Pena" ini dihadiri oleh perwakilan dari beberapa sekolah tingkat SLTA se-Banjarbaru. Termasuk di sana tiga orang anak-anak FPP, yaitu saya sendiri bersama dengan rekan saya Zian dan tak ketinggalan Arief, atau yang biasa disapa Ithay (umpat bapaksaan). Seminar yang disponsori oleh Pemprov Kal-Sel, Pemko Banjarbaru, Balai Bahasa, dan kartu 3 ini menghadirkan dua pembicara handal, Ali Syamsuddin Arsy atau akrab dipanggil Bung Asa yang merupakan seorang pengamat sastra dan Mbak Imazahra. Siapa yang tak kenal dengan yang terakhir ini. Beliaulah blogger Kal-Sel yang blognya sudah dibukukan dan telah cetak ulang dengan judul "Long Distance of Love".
Berkat karakter khas Mbak Imazahra yang selalu ceria, suasana menjadi sangat hidup.

Beliau menekankan kepada semua peserta agar membuat blog.
"Dengan memiliki blog, kita akan termotivasi untuk terus menulis. Tapi ingat, kalau ingin memposting, postingannya jangan terlalu panjang dan bertele-tele, sebab pembaca tentunya lekas bosan melihat tulisan yang seperti ular," saran Mbak Imazahra.
Di akhir acara, Arief Ithay (nang umpat bapaksaan tadi) tidak menyia-nyiakan kesempatannya untuk menanyakan bagaimana caranya menjadi anggota FLP. Mereka lalu menyodorkan kepada kami formulir bergabung di FLP. Dengan mengisi formulir itu, kami pun resmi menjadi anggota FLP cabang Banjarbaru. Tengkyu Ithay…[]


Baca lanjutannya......