
Assalamu 'alaikum
Alhamdulillah. Mungkin hanya kalimat itulah yang paling pantas kami ucapkan untuk membuka majalah Literasi ini. Tentu saja, karena kami, anak-anak FPP (Forum Pena Pesantren) akhirnya bisa juga menerbitkan sebuah majalah yang mana dalam pembuatannya banyak sekali masalah dan kendala.
Sesuai dengan namanya, Literasi, dalam majalah yang Anda pegang ini kami fokus menghadirkan hal-hal yang berkaitan dengan dunia sastra. Kalau Anda ingin mencari cerita bergambar (komik), maka Anda tak akan menemukannya di majalah ini. Apalagi kalau Anda ingin mencari tentang fashion dan masak-memasak, he…he…
Kami berharap, dengan hadirnya majalah ini bisa menambah pengetahuan dan kecintaan kita terhadap tulis-menulis, serta membuat kita semakin produktif lagi dalam mengahasilkan karya-karya berkualitas.
Di samping itu, kami juga menyadari bahwa banyak sekali kekurangan dalam majalah yang baru edisi perdana ini. Maka komentar, kritik, saran, dan masukan dari pembaca sekalian sangat kami harapkan (pujian juga kami harapkan, ha…ha…6357x).
Oke, sampai bertemu lagi di edisi mendatang dan, selamat menikmati suguhan dari kami…
Redaksi
fppalfalah@gmail.com
http://forumpenapesantren.tk
Baca lanjutannya......
Oleh: Zian FPP
Banyak kawan yang beranggapan bahwa menulis itu sulit. Harus beginilah, harus begitulah, pokoknya sulit. Padahal, menulis itu mudah, sangat mudah bahkan, semua orang pasti bisa.
Caranya?
Ambil alat tulis, lalu tulis apa yang Anda pikirkan, maka jadilah sebuah tulisan. Mudah bukan?
Mana mungkin tidak ada yang Anda pikirkan. Buktinya, Anda tentu sering berbicara (atau bercerita) panjang lebar, bahkan sampai menghabiskan waktu berjam-jam. Itu pun kadang masih belum selesai. Nah, bukankah itu berarti banyak sekali sesuatu dalam otak Anda?
Sekarang mari bayang-kan, apabila pembicaraan berjam-jam tadi ditulis, betapa banyaknya tulisan yang telah Anda dihasilkan.
Baiklah, kalau Anda masih ragu, maka ketahuilah bahwa kita memiliki sebuah otak yang mana di dalamnya terdapat satu triliun sel neuron. Sekali lagi, satu triliun! Berapa itu jumlah nolnya?! Dan, kalau digunakan, maka setiap sel tadi bisa menghasilkan koneksi sebanyak 20.000. Ah, berapa lagi jumlah nolnya?!
Lalu, kurang apa lagi? Setiap kita berpotensi untuk bisa menulis. Menulis sangat mudah, dan memudahkan. Selamat menulis! [] Zian
Baca lanjutannya......
Oleh: Zian FPP
http://zianxfly.web.id
(Postingan ini adalah juara II lomba posting yang diadakan oleh komunitas blogger Kayuh Baimbai dalam rangka ulang tahun pertamanya)
Pertama aku mengenal Kayuh Baimbai ialah saat membaca harian Radar Banjarmasin. Di sana terpampang satu halaman penuh yang isinya membahas blog. Dan aku pun lalu tahu bahwa ternyata rubrik Blogger itu adalah hasil kerjasama Radar Banjarmasin dengan Kayuh Baimbai, yang ternyata adalah komunitas blogger Kalimantan Selantan yang terbesar.
Segera muncul keinginan saat itu juga untuk bergabung dengan organisasi tersebut. Keuntungan yang bisa kuperolerh bila menjadi anggota tentu saja banyak, sulit aku menjelaskannya.
Singkat cerita, kuajaklah ****, temanku di Al Falah yang sudah lama sekali berkecimpung di dunia blog dan saat ini dia sudah jadi orang gila (gila blog!), untuk bergabung di Komunitas Blogger Kalsel tersebut.
“Ah, aku rancak dah manakuni buhannya tu Zian ai, tapi kada suah direspond!”
Namun barangkali memang sudah tabiatku yang “pangarasan”. Aku tetap mencoba untuk bergabung. Kutanyakan saja pada beberapa orang anggotanya, toh tak ada salah dan ruginya.
Lalu ketika tiba kesempatan ke warnet,—kubilang kesempatan karena aku adalah seorang santri Pondok Pesantren Al Falah yang sudah sangat terkenal dengan ketatnya peraturan, tak terkecuali izin keluar pondok—langsung saja kubuka kayuhbaimbai.org, dan lewat sana kubuka beberapa blog milik anggotanya. Kutanyakan pada mereka tentang bagaimana caranya bergabung di Kayuh Baimbai. Tapi namanya juga bukan chatting, jadi kesempatan untuk segera menerima jawaban sangatlah kecil.
Beberapa hari setelahnya, dengan meminjam HP milik Khairul*bukan nama sebenarnya*, (dia nekad membawa HP ke pondok, padahal sanksi bila sampai ketahuan oleh Ustadz sudah terkenal sangat berat di seantero Al Falah: HP tersebut dibakar dan bila ketahuan lagi langsung dike-luarkan!), kulihat blogku. Siapa tahu dari beberapa anggota yang kutanyai itu ada yang membalas.
Dan benar saja, Chandra (http://soulharmony.wordpress.com) dengan sangat amat tegas menulis:
“Saya undang untuk bergabung dengan komunitas blogger kalsel dan ikuti ketentuannya. Salam.
Chandra (085251534313 / 7718393)”
Kalau saja tidak memalukan, mungkin saat itu aku akan melompat dengan setinggi-tingginya dan berteriak “Ciiiiihhhuuuuyyyyyyyy!!!!!!”
Segera kuhubungi Chandra lewat nomor yang ia berikan itu. Lalu dia jelaskan bagaimana cara mendaftarnya. Selain itu dia juga mengajakku mengikuti pertemuan yang akan dilaksanakan pada malam Selasa di Radio Star FM, Banjarbaru. Katanya, setelah kita mendaftar via online, kita tetap tidak bisa jadi anggota bila tidak mengikuti pertemuan semacam itu, istilah mereka KOPDAR (Kopi Darat).
Nah, bila kisahku ini adalah sebuah cerpen, maka puncak konfliknya ialah saat bagaimana caranya aku mengikuti KOPDAR yang jarang-jarang ada itu, sementara uangku sangat sulit dijelaskan bagaimana keadaannya. Bagaimana aku dari Lansdasan Ulin ini ke Banjarbaru kalau tidak dengan membayar ongkos taksi? Belum lagi acaranya malam, bagaimana aku pulangnya nanti? Taksi kan malam sudah habis. Dan yang terakhir adalah masalah izin keluar. Mungkinkah aku diberi izin keluar untuk acara semacam itu, malam lagi!
Aku terus putar otak. Saat itu rasanya pikiranku seperti air ledeng yang tidak mengalir. Mati!
Tapi ternyata otakku masih bisa juga bekerja. Satu masalah bisa terpecahkan, yakni masalah pulang ke pondok. Aku bisa minta bantuan M. Noor yang rumahnya di Banjarbaru untuk menampungku di rumahnya semalaman, dan paginya aku bisa pulang dengan taksi. Sekalian saja dia kuajak ikut, dia kan blogger juga. Masalah duit, terpaksa aku terus terang pada orangtuaku bahwa uangku saat ini sangat sekarat. Beberapa hari setelahnya mereka pun ke Al Falah, memberikanku uang (dengan wajah terpaksa).
Sedangkan izin, seperti yang sudah kubilang, di Pesantren Al Falah ini semuanya sangat ketat, termasuk izin. Dan ternyata memang benar-benar watakku,—yang harus betul-betul kusyukuri—aku tak akan menyerah sebelum benar-benar kalah. Siang Seninnya, sesudah shalat zuhur berjamaah, aku ke rumah wali kelasku. Tentu saja untuk minta izin keluar.
Kuakui, Ustadz yang jadi wali kelasku itu sangat baik terhadapku, tanpa banyak cincong Beliau membubuhkan tanda tangannya di Kartu Izinku pada tabel izin keluar!
Yesss! Semua masalah telah terselesaikan. Sore itu juga aku ke Banjarbaru setelah sebelumnya janji ketemuan dengan M. Noor di toko buku Riyadh.
Singkatnya, aku pun bisa ikut KOPDAR, dan tentunya, aku resmi jadi anggota Kayuh Baimbai. Tak percaya? Lihat saja fotoku yang terpajang di halaman ini http://kayuhbaimbai.org/anggota .
Salam sejahtera untuk semua anggota Kayuh Baimbai yang baik-baik dan imut-imut...
Baca lanjutannya......
Oleh: Ilham FPP

Terlahir sebagai anak keempat dari pasangan Seman Said Harun dan N.A. Masturah. Andrea Hirata menghabiskan masa kecilnya di Belitong. Setamat SMA, ia merantau ke Jawa, melanjutkan studi diFakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Seusai meraih gelar sarjan ekonomi, ia berhasil mendapatkan beasiswa dari Uni Eropa untuk 'berburu' gelar master di Universite de Paris Sorbonne, Perancis serta Sheffield Hallam University, di Inggris.
Namanya melambung melalui tetralogi Laskar Pelangi. Padahal sebelum debut novelnya itu, buku pertamanya adalah buku ilmiah berjudul 'The Science of Business'. Buku itu dia tulis tahun 2003.
“Buku itu semacam pembayar kewajiban moralku kepada Uni Eropa, lembaga yang memberiku beasiswa kuliah di Sorbonne (Prancis) dan Sheffield (Inggris),” kata penulis tetralogi Laskar Pelangi ini.
Ya, Andrea memang sangat menggemari sains. Lantaran itu, ia sangat berharap satu hari nanti bisa kembali menulis sebuah buku sains, bukan cuma sastra.
Tapi katanya, dia juga akan kembali menulis sastra, yaitu Maryamah Karpov bagian 2. Wah, ternyata novel ke-empatnya yang sangat tebal itu masih ada lanjutannya. Kita tunggu saja! [] Ilham, berbagai sumber
Baca lanjutannya......
Oleh: Ilham FPP

Di penghujung 2008 lalu, Andrea Hirata memenuhi janjinya. Janji? Yoi! Janji akan akhir dari tetraloginya, Maryamah Karpov.
Kisah berawal dari saat masa-masa akhir studinya di Universitas Sorbonne, kemudian berlanjut dengan kepulangannya ke tanah air. Title yang dibawanya dari Sorbonne itu tidaklah melepaskannya dari ancaman masalah negeri ini: pengangguran. Karenanya, Andrea menyisipkan banyak kritikan di novelnya kali ini.
Di penghujung 2008 lalu, Andrea Hirata memenuhi janjinya. Janji? Yoi! Janji akan akhir dari tetraloginya, Maryamah Karpov.
Kisah berawal dari saat masa-masa akhir studinya di Universitas Sorbonne, kemudian berlanjut dengan kepulangannya ke tanah air. Title yang dibawanya dari Sorbonne itu tidaklah melepaskannya dari ancaman masalah negeri ini: pengangguran. Karenanya, Andrea menyisipkan banyak kritikan di novelnya kali ini.
Baca lanjutannya......
Apa saja yang telah kita peroleh dari sekolah di pesantren? Sudahkan kita bisa membaca kitab kuning? Sanggupkah sudah bila kita menjadi khatib? Berapa juz Al Qur’an yang telah kita hapal? Berbaktikah sudah kita pada kedua orangtua? Apakah mereka berdua senang dengan kita? Apakah kita hanya menghambur-hamburkan uang mereka? Berapa kali sudah kita melanggar peraturan pondok? Bermanfaatkah ilmu yang telah kita dapat? Bisakah kita mengamalkannya? Berapa banyak dosa yang telah kita perbuat? Sudahkah kita bertaubat? Bisakah nanti kita menjadi orang sukses? Mungkinkah kita bisa masuk surga-Nya?
Teman, pertanyaan-pertanyaan ini akan terus bertambah bila kita hanya diam saja?
Sekarang, mengapa masih diam saja? []
Baca lanjutannya......
Oleh: Ithay FPP
Gemuruh hati laksana bulan
mengikis hari teriris pilu
menggoyahkan jiwa yang tetap bisu
tulus kuharap tak pernah bertepi
tak pupus harapan walau tergoyahkan
riuh permai terbang membahana
masih surut riak telaga kautsar
diriku berlari ragaku seakan mati
hatiku rapuh diterpa gelombang sunyi
kapankah malaikat mautmu menjemputku
hari ini,besok,atau entah kapan...
di tempatku berpijak
sumpah serapah tak puas kumuntahkan
seraya menunggu gerbang ampunan tertutup
biarlah dosa menyelimuti jiwaku yang kelam
cukuplah sudah semua penderitaan
Tuhan,masih adakah cahayamu untuku?
detik ini juga aku mengais pengharapan
di ujung hampa maut tak dapat dipisahkan
Baca lanjutannya......
Oleh: Zian FPP
Aku hanya ingin bilang
Bahwa kabut ini telah habis ditelan musim
Memuntahkan rautan-rautan wajah segala harap
Serupa tangisan bayi di tengah malam
Aku hanya inginbilang
Bahwa mungkin ucap ini tak akan keluar
Menjelma kata-kata yang penuh putus asa
Lewat segaris musim
Aku hanya ingin bilang
Bahwa jalan ini sepi sunyi
Dan aku lumpuh sebelum kau tekuk
Bahwa aku menangis atas namamu
18 April 2009
Baca lanjutannya......
Oleh: Anshor FPP
Aku santri
Yang terus menyalami kedalaman ilmu
Tak pernah letih mencari ridho Ilahi
Tak pernah lelah berjalan di atas hamparan sayap malaikat
Aku santri
Yang terus mengetuk pintu langit
Berharap pintu surga akan terbuka
Berharap menjadi penghuni firdaus
Aku santri
Yang terus pahami hati
Tak ingin terhenti oleh cinta si cantik nan manis
Tak akan terbuai oleh nafsu birahi
Aku santri
Yang terus terangi jalan kegelapan
Ku kan tunjukkan sabilal muhtadin
Berharap mampu memberi manfaat
Ku kan menjadi rembulan di malam gelap
Yang kan terangi gelap hati al insan
Ku kan menjadi yang terbaik
Aku santri
Yang takkan bersedih hati
Walaupun celaan membakar palung hati
Walaupun tombak makian menembus jantung
Walaupun dunia akan menghujatku
Aku bahagia menjadi santri
Ku kan selalu tersenyum, hingga usai kehidupan
Akulah santri, meskipun tak selamanya
Baca lanjutannya......
Oleh: Agung FPP
Ulangan bakal tiba… Ulangan bakal tiba… Males… Males… Sedikit justkidding. Itulah lirik saduran saya, yang mungkin mewakili perasaan anak-anak sekolah sejagad. Ngomong-ngomong soal ulangan, terlebih ujian, pasti bawaannya serem mulu. Jika sudah begitu, lumrahlah bila ulangan dikatakan sebagai ritual yang menakutkan.
Semisal ditanya, untuk apa ada ulangan?
Kalau boleh menjawab, gunanya buat mengetahui seberapa mampu siswa dapat menyerap pelajaran dan seserius apa mereka belajar. Akan tetapi, sayangnya eksistensi ulangan sepertinya tak lebih dari sekadar penentu kenaikan ke jenjang yang lebih tinggi. Apa mau dikata, itulah yang terjadi.
Nah, sedikit memaparkan feno-mena ulangan, agar kita lebih melek terhadap apa yang berlaku sekarang ini. Apakah ritual selama ulangan harus semedi di gua hantu 40 hari 40 malam? Agaknya bukan. Atau minum pil pintar? Sepertinya juga bukan. Lantas ritual macam apa yang mayoritas diemplementasikan?
Ya, tentu ritual SKS lah, yang terbanyak diterapkan oleh pelaku-pelaku ulangan. Bukan barang baru lagi SKS di telinga kita, tapi tidak ada salahnya sedikit mengoceh tentang SKS. SKS, dari segi bahasa kelihatannya lumayan keren. Pelototin saja kepanjangannya, “Sistem Kejar Semalam”. Bayangkan, me-nentukan masa depan cuma dalam kurun waktu satu malam! Keren sih keren, tapi resikonya mampus, satu tahun capek-capek nongkrong di kelas terbuang sia-sia.
Cobalah menerawang pakai otak yang kinclong, apakah ritual ini pantas diberlakukan? Timbanglah, banyak positifnya atau negatifnya? Maaf, bagaimana jika kita ini punya IQ kere, sementara teknik yang dijalankan adalah SKS. Besok ulangan, malah baru malam ini melumat habis-habisan materi satu semester. Mana mungkin terkejar. Ujung-ujungnya terpaksa menjelma jadi jerapah, tengok sana tengok sini, dan pakai acara ketahan pengawas pula. Mau?
Bergembiralah sesaat untuk kalangan IQ elit. Sesaat? Ya, soalnya sehabis ulangan diprediksikan dengan kevalidan hampir seratus persen semua file hasil belajar satu malam itu bakal dicolong oleh waktu. Intinya, ingatan tak bertahan lama. Bukannya ilmu itu untuk hidup lebih layak, tidak sekadar menghadapi ulangan belaka?
Mungkin solusi terbaik adalah menghindari SKS dengan SKB (Sistem Kredit Belajar). Ha?! Kredit? Kedengarannya memang tidak keren. Namun selama itu baik, kenapa tidak. Belajar tiap hari, sedikit demi sedikit menjadi bukit. Dengan begini ingatan lebih betah di otak dalam jangka lama dan tentunya otak tidak terlalu terbebani. Beruntungnya lagi, bunga kreditnya nol persen, hehehe…
Jangan lupa, doa juga! []
Baca lanjutannya......
Oleh: Ilham FPP
FLP (Forum Lingkar Pena) lagi-lagi bikin 'ulah'. Kali ini, berlokasi di SMASA Banjarbaru, mereka mengadakan seminar kepenulisan dalam rangka "FLP Goes to School" pada Ahad lalu (31/05). Acara yang bertajuk "Menjadi Generasi Cinta Buku dan Pena" ini dihadiri oleh perwakilan dari beberapa sekolah tingkat SLTA se-Banjarbaru. Termasuk di sana tiga orang anak-anak FPP, yaitu saya sendiri bersama dengan rekan saya Zian dan tak ketinggalan Arief, atau yang biasa disapa Ithay (umpat bapaksaan). Seminar yang disponsori oleh Pemprov Kal-Sel, Pemko Banjarbaru, Balai Bahasa, dan kartu 3 ini menghadirkan dua pembicara handal, Ali Syamsuddin Arsy atau akrab dipanggil Bung Asa yang merupakan seorang pengamat sastra dan Mbak Imazahra. Siapa yang tak kenal dengan yang terakhir ini. Beliaulah blogger Kal-Sel yang blognya sudah dibukukan dan telah cetak ulang dengan judul "Long Distance of Love".
Berkat karakter khas Mbak Imazahra yang selalu ceria, suasana menjadi sangat hidup.
Beliau menekankan kepada semua peserta agar membuat blog.
"Dengan memiliki blog, kita akan termotivasi untuk terus menulis. Tapi ingat, kalau ingin memposting, postingannya jangan terlalu panjang dan bertele-tele, sebab pembaca tentunya lekas bosan melihat tulisan yang seperti ular," saran Mbak Imazahra.
Di akhir acara, Arief Ithay (nang umpat bapaksaan tadi) tidak menyia-nyiakan kesempatannya untuk menanyakan bagaimana caranya menjadi anggota FLP. Mereka lalu menyodorkan kepada kami formulir bergabung di FLP. Dengan mengisi formulir itu, kami pun resmi menjadi anggota FLP cabang Banjarbaru. Tengkyu Ithay…[]
Baca lanjutannya......
Santri jadi Da'i, wajar. Santri jadi guru agama, tak heran. Santri jadi pe-
nulis, kenapa tidak. Bagian terakhir inilah yang menjadi sebab sebagian santri PonPes Al Falah Putera menjadi amphibi, selain berstatus santri, juga sekaligus sebagai penulis. Orang-orang ini tergabung dalam sebuah komunitas yang diberi nama FPP (Forum Pena Pesantren).
Lantas FPP itu apa sih? Yups, sedikit berkilah tentang FPP. FPP ialah suatu komunitas berbentuk forum yang dilahirkan oleh dua santri Al Falah Putera, M. Noor (saat ini sudah pindah ke SMAN 1 Martapura) dan Zian yang kini masih meneruskan jejak perjuangan FPP, yakni selaku pembimbing. Berdirinya komunitas ini pada tanggal 20 Agustus 2007 silam dengan menghimpunkan santri-santri yang punya hobi menulis.
"Imagination is more important than knowledge", itulah selogan FPP yang artinya: imajinasi itu lebih penting daripada ilmu pengetahuan. Diambil dari perkataan seorang penemu besar, A. Einstein.
Kalau bicara kegiatan, FPP mengadakan pertemuan tiap minggunya satu kali (malam Senin) dengan format acara baik berupa silaturrahmi, penyampaian materi, latihan menulis langsung, ataupun sharing. Selain itu, ada pula seabrek kegiatan lainnya yang tak cukup ruang untuk menjelaskannya dalam kolom ini.
Forum yang hampir menghadapi ulang tahunnya yang ke-dua ini sangat memprioritaskan tali silaturrahmi dan kebersamaan.
O ya, kami berharap FPP tidak hanya ada di Al Falah Putera, namun juga bisa meluas ke pesantren-pesantren lain. Untuk itu, bagi sohib Literasi dari pesantren luar Al Falah Putera yang ingin memperluas forum ini, ada baiknya menghubungi kami via e-mail: fppalfalah@gmail.com.
Terakhir, semoga ke depannya FPP bisa melahirkan generasi penulis yang mampu bersaing dengan penulis-penulis hebat lainnya.[]
Baca lanjutannya......
Waktu Pendaftaran
Pendaftaran dibuka setiap jam kerja sejak tanggal 16 Maret-2 Juli 2009
Tempat Pendaftaran
Balai Bahasa Banjarmasin, Jalan A. Yani Km 32,2 Loktabat, Banjarbaru
Kontak
Telepon : (0511) 4772641
Faksimile : (0511) 4784328
E-Mail : bababan@telkom.net.id
balaibahasakalsel@yahoo.co.id
Kode Pos : 70712
Ketentuan Umum
1. Tema cerita pendek bebas, tidak mengandung unsur pornografi, dan tidak menyinggung sara;
2. Cerita pendek harus asli (bukan saduran atau terjemahan), belum pernah diterbitkan atau dipublikasikan, dan belum pernah diiutsertakan dalam sayembara apapun;
3. Panjang karangan 8-15 halaman;
4. Cerita pendek ditulis dalam bahasa Indonesia, diketik rapi 1,5 spasi di atas kertas kuarto/A4 dengan huruf Times New Roman 12, dan tidak bolak-balik;
5. Cerita pendek (sebanyak tiga eksemplar) dikirim kepada panitia Balai Bahasa Banjarmasin paling lambat 2 Juli 2009;
6. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirim satu cerita pendek;
7. Cerita pendek yang dikirim kepada panitia harus dilampiri biodata dan fotokopi kartu pelajar yang berlaku serta surat keterangan dari sekolah;
8. Peserta harusmenuliskan alamat dengan jelas beserta nomor telepon agar mudah dihubungi melalui pos, telepon, faksimile dan sebagainya;
9. Cerita pendek yang masuk ke panitia menjadi milik panitia dan tidak akan dikembalikan;
10. Pengumuman pemenang akan dilaksanakan pada tanggal 27 Juli 2009;
11. Penyerahan hadiah akan dilaksanakan pada tanggal 3 Agustus 2009;
Hadiah
Pemenang I : Piagam Penghargaan + Rp. 1.000.000,00
Pemenang II : Piagam Penghargaan + Rp. 850.000,00
Pemenang III : Piagam Penghargaan + Rp. 750.000,00
Pemenang Harapan I : Piagam Penghargaan + Rp. 550.000,00
Pemenang Harapan II : Piagam Penghargaan + Rp. 450.000,00
Pemenang Harapan III : Piagam Penghargaan + Rp. 400.000,00
Baca lanjutannya......
Oleh: Kamal FPP
Kutapaki pasir-pasir putih, sambil menatap ke lautan biru, berharap melihat kapal ayahku datang. Sudah dua tahun ia tak pulang, tanpa kabar, tanpa kutahu di mana ia sekarang.
“Sup!” teriak Abi padaku.
“Ayo cepat bantu aku!” teriaknya kembali sambil memotong tangkai-tangkai kelapa di atas pohon.
Hidup sebatang kara di perkam-pungan miskin memaksaku bekerja untuk menyambung hidup. Kuli kopra menjadi pilihanku. Pekerjaan ini biasa dilakukan anak-anak yang sebaya denganku.
Ibu telah meninggal saat umurku 3 tahun. Perlu waktu lama untuk membuka rahasia ini padaku. Setelah umurku lima tahun, rahasia baru dibuka. Per-tanyaan – pertanyaan tentang ibu telah terjawab. Memang pahit rasanya, namun takdir tak bisa kutolak.
Dua tahun berselang, ayah yang biasanya pergi melaut tak pulang kembali. Para warga telah berusaha menemukan-nya. Namun Allah berkehendak lain. Sam-pai sekarang Ayah tak kembali.
Cobaan-cobaan yang lain, mung-kin bisa kujalani tanpa tetesan air mata. Tapi kehilangan kedua orang tua, mampu mengucurkan air mataku yang sering kuta-han. Cita-cita tinggiku, menyemangati-ku agar tetap bertahan sekolah. Sampai sekarang, aku telah berada di kelas tigamadrasah aliyah. Hasil yang memuaskan dalam setiap ulangan, semakin menggairahkanku dalam belajar.
“Sup! Kamu ini mau jadi apa sih? Kok repot-repot sekolah,” tanya Abi yang lebih tua dariku setahun.
“Tunggu saja 15 tahun lagi, Bi!” jawabku dengan pasti sambil mengupas kulit-kulit kelapa.
Abi sahabat sejatiku sejak kecil. Rumahnya dekat dengan rumahku. Keluarganyalah yang merawatku ketika ayah tak pulang lagi dari laut. Memang Abi tak sekolah, tapi kejujurannya sulit didapatkan dalam hati para pejabat negara yang berpendidikan tinggi.
Esok hari, sekolah kami dikunjungi Gubernur dan rombongan. Beliau mengatakan, setiap anak bangsa berhak mendapatkan pendidikan. Bukan sekadar perkataan, tapi beliau langsung buktikan dengan memberikan beasiswa untuk melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi, bagi siswa kelas 3 madrasah aliyah yang nilai ujiannya paling tinggi.
Kesempatan ini takkan kusia-siakan. Pendidikan selalu nomor satu di hatiku. Semangat belajarku semakin berkobar-kobar.
*****
Tiga bulan berselang, ujian telah dimulai. Jantungku semakin cepat memompa darahku. Aku berhenti bekerja sementara. Doa-doa tak pernah kulupakan setiap sujud terakhir dalam sholatku. Dengan harapan yang besar, agar aku mendapatkan juara satu.
Delapan hari telah berlalu. Hari yang kutunggu akhirnya datang juga. Pengumuman hasil ujian akan dibacakan.
“Juara tiga jatuh pada saudara Mahmud!” kata Pak Kepala Sekolah disambut sorak-sorai para siswa dan orang tua siswa.
“Juara dua jatuh kepada Yusup!” Semua siswa apalagi aku merasa sangat terkejut mendengarnya. Ingin rasanya kualirkan air mata ini. Tapi rasa malu akan menyambangiku jika air mata ini sampai menetes.
“Juara satu jatuh pada Erwin!” Para siswa dan orang tua mulai saling pandang dan berbisik. Ayahnya seorang tengkulak kopra paling kaya di kampung kami.
Pupuslah sudah harapanku. Aku tak bersemangat lagi melanjutkan sekolah, karena di pikiranku pendidikan hanya milik orang berduit. 20 tahun yang akan datang mungkin hanyalah sebuah khayalan yang tak nyata.
“Maafkan aku Ayah! Karena anakmu ini tak bisa melaksanakan perintahmu lagi. Aku tak percaya lagi pendidikan sekarang!”
Sambil menangis di malam yang sepi ini, aku berbaring memeluk erat foto ibu bapakku, dengan penuh rasa kekecewaan.[]
Baca lanjutannya......
(Cerpen ini pernah dimuat di buletin mingguan Serambi Ummah)
Oleh: Ilham FLP
Saat umurku dua bulan, ayahku meninggal, berarti ibuku menjanda. Ibuku itulah satu-satunya yang mengajariku bagaimana trik masuk surga.
Kata ibuku, ayahku orang yang budiman. Makanya dia berujar,”Sayang, pokoknya apa yang kamu mau, bisa didapatkan di surga. Bahkan kamu bisa bertemu ayahmu di sana.”
Diajak shalat, aku manut saja, karena dua alasan: pertama, mushalla komplek, tempat biasa aku shalat, adalah sekaligus tempat bermain di malam hari, kedua, aku ingin masuk surga!
Disuruh puasa, aku menurut juga karena dua alasan,: pertama, aku malu sama teman-teman jika tidak puasa sebab semuanya puasa, kedua, aku ingin masuk surga!!
Diajari ngaji oleh Ustadz Raffi, yang sekaligus merangkap jadi ayah baruku, aku sanggupi juga karena dua alasan: pertama, aku takut dimarahinya, kedua aku ingin masuk surga!!!
Orang kebanyakan jika ditanya, kenapa ingin masuk surga? Jawabannya mungkin adalah ingin merasakan betapa lezatnya nikmat di surga. Namun aku tidak demikian. Aku punya motif terselubung. Tapi sayang, untuk sementara aku malas membicarakannya. Mohon jangan paksa aku.
*****
Awalnya sebelum Ustadz Raffi menikahi ibuku, dia mengajarkan mengaji di mushalla komplek, dan tinggal di rumah sewaan yang cukup jauh dari pemukiman, tepatnya di sebelah timur komplek.
Sewaktu Ustadz Raffi baru bermukim di komplek Kayuh Baimbai ini, warga tidak terlalu mengenalnya, bahkan sampai saat ini. Terhitung dari tiga tahun silam, saat di mana Ustadz Raffi terseok-seok menjinjing tas besar, hingga sekarang, dia dikenal hanya sebatas santri dari sebuah pondok pesantren di Jatim. Cuma sampai di situ. Tak lebih barang sedikit pun. Terkecuali setelah dia menikah dengan ibuku, ada sedikit tambahan, dan itu akan diketahui nanti.
Kala itu berhubung penggawa mushalla komplek telah menginjak usia udzur dan ingin beristirahat, bidikan menancap pada Ustadz Raffi, yang ternyata seorang pengangguran, sebagai pengganti.
Jadilah dia yang mengelola mushalla. Dan orang ini membuka TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an). Setelah dia duduk bersama ibuku di pelaminan, dia melepas TPA-nya, dan dilanjutkan oleh penerus.
“Biar lebih khusyu’ ibadah dan fokus mengurus rumahtangga,” katanya.
Benar- benar selaksa malaikat. Siapa yang tidak bangga punya ayah baru seumpama ini?
*****
Jika bel pulang bertugas, aku selalu melongo. Bukannya aku anak yang kelewat manja, tetapi aku benar-benar iri lagi dengki, kalau aku mendapati tubuh mungilku ini di gerbang SDN Surgi Mufti 5.
Selalu saja aku melewati gerbang ini sebatangkara. Sedangkan Andini ditunutun ayahnya yang polisi itu. Kalua Mia, anak manja itu, pasti menempel di punggung ayanya.
Kalau Ayah sibuk, setidaknya Ibu atau Kakak yang menjemput. Seperti Sabrina, selalu ibunya yang menyambut di gerbang. Untuk Andre, kakaknya yang turun tangan.
Walau ingin, aku tak ingin egois. Kasihan ibuku. Secara fisik, dia tidaklah tampak memiliki jantung yang lemah, namun sebenarnya, sudah tiga tahun ini Beliau bolak-balik ke dokter jantung. Mana mungkin aku menerima tawaran ibuku tercinta untuk menjemputku, sementara suatu saat dia bisa saja tumbang.
Ayah baruku? Kelihatannya dia tak punya inisiatif sedikit pun untuk menjemputku. Entah mengapa. Sibuk ibadah, mungkin. Aku pun tak ingin dijemput olehnya. Itu ada alasannya. Untuk sementara aku malas membicaraknnya. Mohon jangan paksa aku.
*****
Sepulang sekolah ada kegemparan. Di jalan depan gerbang sekolah, teman-teman ramai. Aku memaksa menyeruak masuk ke kerumunan, sampai-sampai buku latihan bahasa Indonesia-ku, yang dijejali nilai sempurna, lecek.
Di tengah kerumunan itu ada Erika yang nangis-nangis. Seseorang, yang aku yakini dia adalah ayah Erika, menenangkannya. Di sudut kerumunan kulihat ada pria dengan pakaian acak-acakan. Dia terkapar bersama wajah bonyoknya.
“Ada apa?” tanyaku pada Rio.
“Preman itu tadi mau memalak Erika. Untung, ayah Erika keburu datang. Habis itu premannya marah-marah dan ngajakin berantem. Untung ayah Erika hebat berantemnya. Mampus tuh preman. Rasain lho! ”
Wah … aksi heroik!
Teman-teman , semuanya tepuk tangan dan teriak,
“Hore…! Hore….!”
Perlahan Erika akhirnya tersenyum. Pasti bangga kepada ayah yang melindunginya itu.
Oleh suatu perasaan, aku tertarik mundur dari khalayak dalam bisu. Bahuku guncang. Mohon jangan usik aku dengan pertanyaan,”Kenapa kamu nangis?”
*****
Hari ini Bu Asmarina, guru bahasa Indonesia kami, memberi tugas mengarang dengan tema “ayah”. Lantas aku pura-pura sakit. Cukup menerapkan pose menelungkup di meja, aku yang murid teladan ini tentu akan ditanya Bu Asmarina,
“Kamu sakit, Rina?”
Aku mengangkat wajah.
“Rina, muka kamu pucat!” tanggap Bu Asmarina.
Pucat? Oh iya, belakangan ini aku memang sulit tidur karena suatu alasan.
Beberapa menit sesudahnya, siapa pun bisa menemuiku di UKS. Aku tersedu sepeninggal Novi, teman sebangkuku yang tadi mengantarku ke sini. Atas permohonanku sendiri dengan alasan supaya dia tidak ketinggalan pelajaran, dia mau meninggalkanku. Aku tak ingin dilihat seseorang di saat seperti ini.
Inilah wujud asliku. Sepintas aku adalah tembok Cina, sangat tegar. Kalau saja mau lebih jeli sedikit, aku ini tak lebih kuat dari kayu dengan luka akibat rayap, lapuk, sangat rapuh. Atau kausebut saja aku agar-agar.
Bu Asmarina pasti tidak curiga bahwa aku lari dari tugas kali ini. Terserah jika ingin mengataiku sombong, namun aku ini benar-benar jenius. Dan di antara matapelajaran yang mudah itu, Bahasa Indonesia paling kukuasai. Bukan apa-apa. Aku Cuma hendak memastikan bahwa Bu Asmarina tak mungkin mencurigaiku.
Otak kananku bisa saja mengarang karakter ayah super. Dan itu akan mendustai diri sendiri, pikirku, jika kulakukan. Mungkin saja aku mengambil sampel ayahnya Erika, tapi itu hal memalukan. Otak kiriku mendobrak-dobrak daya khayalku dengan segala realita yang digiringnya, kenyataan yang pahit.
*****
Suatu kali aku ingin mengutarakan bebanku kepada Ibu. Tapi saat pupil mataku menangkap sosok itu, bersileweran jantung-jantung yang kapan pun bisa mogok mendadak. Aku tak setega itu.
Lain kali ibu mendapatiku menangis di kamar. Sebetulnya ibuku baru datang dari pengajian malam Minggu, pulang sehabis isya.
“Ayah, Rina kenapa?” tanya ibu, hampir berbenturan dengan ayah baruku di muara pintu kamarku.
“Nggak tau. Dari tadi nangis terus. Ditanya kenapa, dia diam saja. Tolong ibu saja yang menenangkannya. Saya mau keluar dulu,” cerocos ayah baruku.
Dia pun berlalu sambil berdehem. Deheman berat yang hanya dipahami oleh sebagian orang.
Ibu masuk ke kamar, lalu mengusap ubun-ubunku. Sedari tadi aku memeluk lutut dan menyembunyikan wajah di baliknya.
“Sayang, ada apa?” Suara ibu lembut.
Hampir saja aku gegabah dengan menyampaikan kesulitanku, jika aku tidak mengangkat kepala, menatapnya. Benar, jantung-jantung itu masih hilir mudik.
“Sayang, cerita dong sama mama, ada apa?”
Aku cepat-cepat menghapus airmata, dan menggeleng. Sedetik kemudian, aku tenggelam di dekapan Ibu.
*****
Semoga saja tidak terlambat, kenalkan, ini ayah baruku. Orang itu tidak bekerja lagi semenjak menikah dengan ibuku. Dia beralasan, seperti yang sudah kukatakan, agar fokus ke ibadah dan rumahtangga. Dia tidak lagi sibuk dengan dunia. Malaikat, bukan?
Jika aku sering menjatuhkan airmata ibu dengan prestasi, malaikat ini pun sering menguras airmataku. Ah, tahukah, betapa pilunya bagian yang kedua itu? Di situlah perbedaannya.
Hari ini pun, saat Ibu tak ada, aku menangis sejadi-jadinya.
Aku tak sempat kabur ketika menyadari malaikat hadir denngan seringainya. Bahkan hari ini lebih menyakitkan dari sebelum-sebelum ini. Aku berdarah-darah lebih melimpah. Sama melimpahnya dengan airmataku.
Sungguh selama ini, aku ingin beramah-tamah, tetapi kali ini, aku sudah tak tahan lagi. Sebetulnya malaikat itu iblis! Jauh-hauh hari telah kukatakan, ada sedikit tambahan informasi setelah dia menikahi ibuku, yaitu kelainan.
Hatiku perih mendengar derekan resleting. Apalah arti kecerdasan. Apa gunanya prestasi? Piala berderet-deret itu cuma diam. Lagi-lagi lenguhan itu menghujam bayang-bayang masa depanku, yang telah suram lagi curam.
Jauh di alam kalapku, pisau dapur itu kuinginkan mengakhiri segalanya. Apakah aku atau iblis itu yang harus meninggalkan nama di nisan? Terserah.
Lagi-lagi aku disentak sesuatu. Seandainya itu kulakukan, aku takkan masuk surga. Padahal aku ingin sekali.
Mentalku remuk berserpih-serpih. Jika diperbolehkan, izinkan aku melibatkanmu di cerita ini. Jadilah tempat curhatku. Baiklah, kau sebenarnya ingin tahu apa alasanku masuk surga, meski itu tak penting bagimu.
Aku ini masih bocah, mempunyai keinginan seperti Erika! Masuk surga, aku cuma ingin mengatakan pada ayahku di sana bahwa aku sungguh membutuhkan ayah, yang sebagian darahnya mengalir di diriku. Aku ingin mengadu kepadanya bahwa ayah baruku telah menyakitiku, tak berperasaan. Aku minta belas kasihan, pembelaan, seperti Erika.
Aku tak butuh ayah baru macam iblis laknat terkutuk itu! Sekali lagi kutegaskan, aku butuh ayah yang melindungiku, bukan yang suka meniduriku!!![]
Baca lanjutannya......
Oleh : Kamal FPP
Di tengah malam sunyi, seorang pemuda tengah sibuk mengutak-atik sebuah senjata api di kamarnya. Tampaknya itu bukan senjata legal yang resmi diizinkan. Sang ayah mendengarkan di balik pintu kamarnya, ia merasakan hal yang berbeda akhir-akhir ini pada sikap anaknya itu. Apa gerangan penyebab perubahannya, kini ia sangat brutal dan pendiam. Lama ia mematung mendengarkan kejadian di dalam kamar anaknya, tapi yang ia dengar cuma bunyi besi yang dipasang dan saling bergesekan. Ia kembali ke kamarnya dengan wajah murung, ke kamar sekaligus laboratorium untuk seorang profesor sepertinya.
“Bagaimana Raf, apa yang ia lakukan?” tanya istrinya, seorang ilmuwan perempuan peneliti angkasa luar.
“Sepertinya sedang merakit sesuatu,” jawabnya dengan lemas.
“Itulah salahmu! Itu karena kamu terlalu berlebihan mengajarkannya temuan-temuan gilamu. Lebih-lebih, kau tak menuruti kata Ibu. Coba kalau kita turuti, kita masukkan ia ke pesantren seperti kakaknya, tentu ia tak akan melakukan hal-hal yang brutal seperti sekarang. Ia takkan bisa merakit sebuah bom yang ia ancamkan untuk menghanguskan rumah kita.”
“Sudah! Cukup! Kamu juga menginginkannya jadi ilmuwan seperti kita juga kan? Tak perlu ada yang disalahkan, aku mau tidur!”
*****
Profesor Asraf dan istrinya, DR. Musyarrafah menuju kantor Intelejen Negara. Di dalam mobil istrinya menyalakan TV, di sana tampak presiden Hakim Abdah menyampaikan rencananya membangun tempat wisata berkelas internasional di Pantai Malkan, sembilan puluh kilometer dari Kusyaifah, tempat tinggal Asraf. Sehingga warga asing banyak berkunjung ke negaranya dan menambah pendapatan negara. Rencana itu didukung penuh oleh pihak asing, tapi rakyat menjadi geram dengan ulahnya. Banyak demo terjadi akhir-akhir ini setelah rencana itu diumumkan.
Pemerintah tak tinggal diam menanggapi ini. Hukum baru dikeluarkan mahkamah pusat, bahwa barang siapa melakukan demo melawan pemerintah dengan tulisan, himbauan, atau senjata baik dengan batu, bom, atau senjata api lainnya maka akan dihukum mati.
Sudah banyak para pemuda dan aktivis yang tertangkap, mereka tinggal menunggu waktu diakhiri hidup mereka di hadapan sang penjagal.
Keputusan presiden tentang dilarangnya bahasa Arab di kalangan umum dan diganti bahasa Inggris, serta mahasiswa yang ingin kuliah ke luar negri hanya boleh ke Eropa dan bidang studinya ekonomi dan sains saja, tak kalah hebat mendapatkan perlawanan dari masyarakat.
Tak lama berselang, mereka sudah sampai di kantor intelejen. Mereka menuju ke ruangan Jendral Qosim setelah sebelumnya mengadakan janji pertemuan. Jendral Qosim tampak sedang memperhatikan beberapa foto buronan.
“Selamat pagi Jendral,” Asraf memulai pembicaraan.
“Selamat pagi juga.”
“Kami berdua setuju dengan tawaran Anda untuk mengirimkan seseorang dari anak buah anda untuk mengawasi Karim anak kami,” Asraf menambahkan.
“Sudah terlambat, Raf, lihatlah layar TV itu!”
Jendral Qosim mengambil remot yang ada di hadapannya, dan langsung memencet salah satu tombolnya. Layar menayangkan rekaman sebuah demo di halaman istana Presiden. Kamera memperlihatkan gambar beberapa demonstran anarkis yang dipukuli anggota polisi, sedangkan yang lain mencoba maju menerobos masuk ke dalam istana kepresidenan.
Bak…
Seorang polisi memukul seorang demonstran yang membantu temannya yang sedang dipukuli polisi lain. Sungguh pemandangan yang mengerikan.
Dar… Akh…!
Polisi itu ambruk tersungkur bersimbah darah di hadapan demonstran yang ia pukuli. Kamera sekarang tertuju pada seorang pemuda yang mukanya berlilit sorban sambil memegang senjata api. Kamera memperdekat gambarnya.
“Karim!” Profesor Asraf tersentak kaget setelah kamera memperdekat gambarnya, ia mengenalinya.
“Ya, itu memang Karim anakmu. Sekarang ia telah menjadi buronan kelas atas intelejen Negara. Mungkin dari pagi tadi kau tak melihatnya ada di rumahmu lagi bukan?”
“Ya, kau memang benar Jendral. Andai saja sudah sejak dulu tawaranmu kusetujui, mungkin ini takkan terjadi,” sahut Profesor Asraf sedih.
Nyonya Musyarrafah menangis melihat apa yang telah terjadi. Karim, anak kesayangannya yang ia harapkan menggantikannya di Lembaga Antariksa Negara nantinya, telah tiada. Entah pergi ke mana. Kalau mengharapkan Kiram, kakaknya Karim, rasanya tak mungkin untuk bisa menggantikan seorang antariksawan seperti dirinya. Kiram memang ia harapkan menjadi seorang ulama dan Karim seorang ilmuwan, sehingga Kiram ia masukkan ke pesantren dan Karim ke sekolah umum, atas saran suaminya.
*****
Profesor Asraf dan istrinya sudah kembali ke rumah. Tuan Asraf cuma rebahan saja dari tadi di kamar, mengamati foto kedua putranya. Sedangkan nyonya Musarrafah duduk di kursi goyang mengingat masa lalu. Tentang karim kecil yang imut, saat mereka piknik ke pantai, dan lain-lain. Rumah ini sekarang sunyi senyap, tak ada keceriaan lagi di dalamnya.
*****
Di beranda asramanya, Kiram duduk santai sambil membaca sebuah koran edisi kemarin. Memang sudah menjadi kebiasaannya apabila setelah shalat zuhur duduk di beranda asrama jika musim panas tiba. Daripada di dalam asrama, tentunya lebih baik di luar asrama karena angin musim panas mengalir deras mendinginkan badan.
Tujuh tahun yang lalu ia memasuki pesantren ini dengan dihiasi tangisannya, tangisan yang terjadi akibat perpisahan dengan keluarganya. Ia ingat wajah Karim, di saat ikut mengantarnya, wajah yang bingung melihat kakaknya yang lebih tua darinya menangis. Ia pun tertawa beberapa saat kemudian. Karim adiknya yang sangat ia sayangi itu, kini telah menjadi pemuda yang gagah dan tampan.
Di koran edisi kemarin itu banyak sekali para demonstran yang menginginkan Presiden Hakim Abdah turun jabatan. Mereka sangat kontra dengan keputusan-keputusannya yang dinilai melanggar hak asasi. Namun juru bicara kepresidenan, Muslih Addarki mengklaim kebijakan-kebijakan Hakim itu tidak melanggar hak asasi, bahkan membawa sebuah kemajuan negara. Pernyataan itu mendapat reaksi besar dari Pemuda Mujahidin (PM), sebuah organisasi pemberontakan yang beranggotakan para pemuda yang tidak tega melihat sahabatnya, keluarganya, dan rakyat jelata lainya yang hak-hak mereka dilecehkan. PM terus menerus melancarkan serangan, sehingga apabila mereka tertangkap langsung dihukum mati.
Naiknya Hakim Abdah menjadi presiden menyebabkan banyak terjadinya perubahan pada keamanan negara. Pada masa presiden sebelumnya, Laqitullah Asrar, tak ada yang namanya demo, pemberontakan, dan lain sebgainya. Dia mengatur negara, membuat peraturan, dan membuat kebijakan benar-benar menurut peraturan Negara Islam. Sehingga masyarakat yang semuanya beragama Islam, sangat menghormatinya. Berbeda dengan Hakim, ia ingin mengubah negara menjadi negara moderen berkelas internasional. Sedikit demi sedikit ia mulai mencabut nilai-nilai keislaman, padahal negara ini didirikan menurut ketatanegaraan Islam.
“Kiram, lihat ini!” kata Yunus, teman sekampung Kiram padanya dengan nada cemas sambil menyerahkan koran edisi hari ini.
Kiram memalingkan wajah dan mengepalkan tangannya setelah melihat koran halaman depan. Foto Karim terpampang jelas di sana, dan diberitakan telah menjadi buronan utama pemerintah di antara anggota PM.
“Yunus, aku mau pulang. Mungkin Ibu dan Bapak sangat terpukul dengan kejadian ini. Aku ingin menenangkan mereka terlebih dahulu.”
*****
Sebuah taksi membawa Kiram menuju rumahnya di Kusyaifah. Ia memandangi langit biru yang menyaksikan kisah hidup keluarganya sekarang, yang dahulunya ceria penuh kebahagiaan namun kini seolah lenyap terselubung kabut hitam.
Dari kejauhan sebuah hotel berbintang lima kelas internasional berdiri megah di tengah-tengah kota, sebuah hotel yang sering dikunjungi turis-turis asing. Laksana sebuah kerajaan yang sangat megah, mobil-mobil mewah berjajar rapi di tempat parkirnya. Taman-taman tertata dengan indah, dan bule-bule keluar masuk dengan pakaian yang membukakan auratnya,. Di lantai 12, terpampang sebuah nama “KABSYIR be HOTEL”, hotel termegah di kota Kabsyir. Taksi perlahan mendekatinya, karena jalan menuju Kusyaifah melewati bagian depannya.
Lampu merah menyala, menghentikan taksi yang ditumpangi Kiram.
DAAAR…
Sebuah ledakan hebat terjadi di lantai dasar hotel, sehingga para pengunjung hotel yang di bawah dan di atas kalang kabut. Semua mobil terhenti, terpana melihat apa yang terjadi. Beberapa pemuda yang wajahnya berlilit sorban berlari keluar dari pintu hotel dengan membawa senjata. Dua bola mata yang Kiram kenal ada di antara mereka. Kiram langsung lari mengejar mereka.
“Karim….!” Kiram berteriak keras.
Pemuda tadi pun terkejut melihat Kiram . Ia langsung lari berpisah dari teman-temannya, dan Kiram berlari mengejarnya. Mereka berdua berlari saling kejar-mengejar. Mereka berlari menyeberang jalan, berlari di gang-gang sempit, hingga sampai ke hutan belakang perumahan warga. Kiram kehilangan jejaknya, ia menangis tersedu.
“Karim…!” teriaknya kembali.
Karim yang ada di balik lilitan sorban itu, menangis meneteskan air matanya mendenganr teriakan Kiram di pohon besar yang ada di dekat kiram.
“Maafkan aku Kak,” ucapnya lirih.
Bersambung….
Baca lanjutannya......
Oleh: Zian FPP
Weblog, atau yang sekarang lazim disebut blog, secara sederhana adalah sebuah website pribadi yang isinya berupa catatan-catatan harian sang pemilik blog. Yah, seperti buku harian lah. Bedanya, kalau buku harian buat dibaca sendiri dan disimpan di bawah bantal, sedangkan blog untuk dibaca siapa pun dan di belahan bumi mana pun.
Namun tentu saja, isinya tak harus berupa catatan harian.
Bisa saja isinya info, cerpen, puisi, artikel, bahkan iklan. Tergantung si pemiliknya.
Bagi sobat santri semua yang sering bertandang ke duia maya tentunya sudah tidak asing lagi dengan ef es (friendster.com) dan fesbuk (facebook.com), apalagi google, hehe... Tapi kayaknya, masih sedikit santri yang kenal dengan yang namanya blog. Padahal, kalau kita bicara manfaat, blog jauh lebih unggul dibanding situs jejaring sosial seperti ef es dan fesbuk tadi yang kebanyakan cuma buat bernarsis ria. Sebab dengan memilki blog, baik secara sadar ataupun tidak, kita telah berbagi pengalaman, pengetahuan, dan pemikiran dengan blogger lain.
Selain itu, memiliki blog juga membuat kita terpacu untuk terus menulis dan berkarya. Malu kan kalau tulisan di blog kita cuma itu-itu saja? O ya, sesama blogger juga bisa saling memberi komentar pada tulisan yang mereka posting. Pokoknya, ngeblog itu asik, lagi bermanfaat!
Saat ini, banyak sekali situs-situs yang menyediakan jasa pembuatan blog secara gratis dan mudah, bahkan friendster.com juga menyediakan. Namun dari sekian banyak tadi, yang paling populer digunakan saat ini adalah blogger.com, wordpress.com, dan multiply.com.
Literasi mendatang, insya Allah kita akan membahas bagaimana caranya bikin blog. Jadi, jangan lewatkan Literasi besok! See you later...
Istilah-Istilah dalam dunia blog:
1. Blogging : Ngeblog; melakukan aktifitas yang berhubungan dengan blog.
2. Blogger : Orang yang memiliki blog.
3. Posting : Menerbitkan tulisan di blog.
4. Postingan : Tulisan-tulisan yang ada di blog.
5. Blog Walking : Jalan-jalan blog; mengunjungi dan meninggalkan komentar pada blog-blog milik orang lain.
Baca lanjutannya......