
Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah, Literasi bisa kembali terbit meskipun dengan banyaknya keterbatasan. Sebelumnya, walaupun agak terlambat, kami seluruh anggota FPP mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin (basi banget kata-katanya ya?).
Libur Ramadhan sudah berakhir. Bagaimana liburannya? Wah, rasanya masih ingin libur ya? Hehe... Gila, masa libur satu bulan lebih masih belum puas juga. Ngomong-ngomong, perubahan positif apa saja yang kita peroleh berkat bulan Ramadhan ini? Hmm, sepertinya pertanyaan ini perlu kita renungkan betul-betul deh.
O ya, FPP sudah berumur dua tahun lho! Tapi sayang, ultahnya saat liburan tadi (27 Agustus), jadinya tidak bisa mengadakan perayaan pada hari tersebut. Namun bukan berarti tidak ada kegiatan sama sekali. Pada libur Ramadhan tadi, semua anak-anak FPP mendapat tugas membuat tulisan dengan tema "Aku dan FPP". Pada tulisan itu semuanya berhak menuliskan kesannya selama bergabung di FPP, pengalamannya, kritikan, masukan, atau lainnya yang berhubungan dengan FPP. Tulisan terbaik adalah tulisan milik Anshor FPP yang merupakan TopPosting pada edisi ini.
Selain itu, dalam rangka ultah FPP yang ke-2, beberapa hari yang lalu (8-9 Oktober) kami juga mengadakan kegiatan berupa wisata sastra ke Pantai Batakan dengan tema "Menulis Alam". Rasanya, selama FPP berdiri, inilah event paling seru yang pernah diadakan. Tapi jangan kamu sangka kegiatan ini cuma untuk bersenang-senang atau yang dalam bahasa Banjar disebut 'bararamian wara'. Sebagaimana temanya, Menulis Alam, selama kegiatan ini kami diberi tugas membuat puisi dengan latar pantai atau laut. Dua puisi terbaik tersebut bisa kamu lihat di edisi ini. Dan untuk liputannya, baca sepuasnya di rubrik liputan.
Di edisi kali ini kami juga menghadirkan cerpen berkualitas karya rekan kita Kamal FPP yang pada tanggal 30 Agustus tadi berhasil menembus harian Banjarmasin Post, Koran nomor wahid di Kal-Sel dan Kal-Teng.
Yang pasti, semuanya dijamin oke!
Redaksi
fppalfalah@gmail.com
http://forumpenapesantren.tk
Baca lanjutannya......
Berak
22.54
| Author:
Forum Pena Pesantren
Oleh: Kamal FPP
Ketika Anda telah menulis setengah cerita, lalu tiba-tiba Anda merasa tidak ingin lagi melanjutkannya, mungkin itu dikarenakan kehabisan inspirasi atau ide, atau merasa kisahnya tidak bagus, tidak nyambung dan lain-lain. Dalam dunia kepenulisan, hal itu sangat mempengaruhi upaya peningkatan kualitas Anda sendiri. Karena secara tidak langsung, Anda tidak akan bisa mengakhiri cerita, sehingga Anda tidak mempunyai sebuah karya sama sekali.
kehabisan ide merupakan alasan paling banyak yang menyebabkan cerita itu terhenti di tengah jalan. Sebenarnya ide itu seperti "tahi". Jadi untuk menghasilkan "tahi" itu Anda harus memakan "makanan" yang akan dicerna oleh pencernaan dan akhirnya menghasilkan "tahi". Teori ini dinamakan teori berak oleh bang EWA (Ersis Warmansyah Abbas). Yang berarti, untuk menghasilkan ide itu Anda harus membaca bacaan, alam, atau sebuah kejadian yang akan dicerna sehingga menghasilkan ide.
Jadi sebanyak apa yang Anda baca, sebanyak itulah ide yang akan Anda punya. Buku bacaannya, tidak tertentu berupa novel, cerpen, dongeng dan sebagainya. Tapi bisa berupa buku sains, sejarah, filosofis, dan lain-lain yang bukan bersifat sastra. Pencampuran sastra, sains, dan sejarah dalam suatu cerita, akan mempunyai rasa yang khas dan lebih membuat cerita itu seakan-akan nyata. Jadi bacalah semua jenis buku, sehingga cerita Anda menjadi bagus dan tak akan kehabisan ide hingga cerita Anda berakhir.[]
Baca lanjutannya......
Oleh: Syarief FPP

Perempuan dengan nama asli Yeni Muliati ini dilahirkan di Purbalingga, 18 Februari 1979 sebagai puteri dari pasangan Bapak Sutjipto dan Ibu Sri Wartuti. Dia mendapatkan gelar sarjana di FMIPA UNDIP, juga pernah belajar di Ma’had As-Salam, Semarang, jurusan Dirosah Islam. Sekarang dia menetap di Solo bersama suaminya, Ahmad Supriyanto yang bekerja sebagai dokter, dan dua buah hati mereka, Syahidah Dzakiyyatun Nisa dan Ramadhan Faidlurrahman.
Ibu dua anak ini mengaku hobi menulis sejak SD. Cerpen dan artikelnya pernah dimuat di majalah Anita, Cemerlang, Saksi, Ummi, Kartini, Karima, Annida, koran kampus Manunggal, harian Solo Pos dan sebagainya.
Buku yang telah ia hasilkan juga lumayan banyak, di antaranya: Mawar-Mawar Azkiya, Tersentuh Ilalang (Trilogi 1), Tarian Ilalang (Trilogi 2), Cinta Ilalang (Trilogi 3), Terpinang Cinta, Obituari Kasih, The Winst, Katastrofa Cinta dan Panduan Wanita Shalihah.
Selain aktif di PPAP Seroja (Sebuah ISM pemberdayaan perempuan dan anak pinggiran) dan SALIMAH (Persaudaraan Muslimah), Afifah juga cukup terlibat secara intensif dalam proses pengkaderan penulis muda yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP), di mana saat ini ia diamanahi sebagai ketua FLP wilayah Jawa Tengah. Sekarang, selain sibuk merawat puteri pertamanya serta menulis beberapa buku fiksi maupun nonfiksi, ia juga bekerja di sebuah penerbit Surakarta sebagai direktur Operasional.
Afifah Afra adalah pendongeng yang piawai, begitu kata Izzatul Jannah, penulis senior FLP.[]
Baca lanjutannya......
Oleh: Syarief FPP

Novel berlatar sejarah karya Afifah Afra ini merekam jejak hidup Astuti, sang tokoh utama, dalam empat kurun waktu yang berbeda; masa pra kemerdekaan, revolusi, orde baru, dan reformasi, menjadi alasan mengapa novel ini disebut sebagai novel lintas zaman. Dengan proposi yang seimbang antara fakta sejarah dan imajinasi yang apik, novel ini mampu menyihir pembaca untuk mengarungi masa-masa pergerakan di tanah air yang sarat konflik melalui kisah Astuti. Awal kehadiran Astuti Kusumawardani di dunia sesungguhnya telah menorehkan luka bagi orang-orang di sekitarnya. Sang Ayah, Mukhlis, dan sang Nenek, Raden Nganten, bersengketa memperebutkan dirinya untuk diasuh dengan pola pengasuhan yang berbeda, Dan akhirnya sang nenek berhasil merebut hak pengasuhan Astuti karena ayahnya meninggal dunia. Dia diasuh sebagai Putri Keraton yang bergelimang kemewahan dan kasih sayang dari keluarganya.
Hingga menginjak usia enam tahun, kehidupan Astuti berjalan dengan lancar sampai akhirnya serdadu Jepang menginjakkan kakinya di Nusantara. Seluruh keluarganya dibantai tanpa ampun. Astuti kecil terlunta-lunta di tengah kericuhan politik yang belum dimengertinya, menjatuhkan dirinya ke dalam luka cinta yang pertama; diperkosa di usia yang belum genap tujuh tahun oleh tentara Jepang yang awalnya menjelma sebagai dewa penyelamat bagi dirinya. Selanjutnya, luka cinta itu terulang kembali, hingga berbalik membuatnya menjadi dewi cinta yang memabukkan bukan hanya bagi pria yang mengenalnya, tapi juga bagi dirinya sendiri. Jatuh dari pelukan satu pria ke pelukan pria lainnya hingga mengantarkannya ke lembah paling kelam dalam hidupnya; menjadi aktivis Gerwani, mengingkari Tuhannya, sampai rela membunuh kakeknya, Mbah Murong, satu-satunya keluarga yang masih dimiliki dan menyayanginya dengan tulus.
Zaman yang berevolusi kiranya memang membawa revolusi pula dalam slide hidup Astuti. Sekali lagi, di akhir cerita Afifah sukses mengejutkan pembaca dengan shocking ending yang penuh kejutan.[]
Baca lanjutannya......
Oleh: Zian FPP
Tak terasa bulan Ramadhan telah berlalu, tak banyak orang yang menyadari bahwa bulan Ramadhan adalah bulan latihan. Pada bulan Ramadhan kita dilatih untuk bangun sebelum subuh, makan tepat waktu dan teratur, menahan hawa dan nafsu, sholat tahajjud atau tarawih, dan melatih kita untuk tetap berkarya meski perut lapar.
Tanpa disadari, dengan puasa berarti kita telah mengkalibrasi ulang tubuh kita, terutama lidah kita dan perut kita, dengan puasa kita jadi tahu kalau air putih itu rasanya nikmat, dengan puasa kita jadi tahu kemampuan perut kita dalam menampung makanan adalah terbatas. Ketika berbuka kita merasakan bahwa dengan sedikit makanan sebenarnya perut kita sudah kenyang, jadi tidak perlu berlebihan. Tanpa kita sadari nafsu kita jauh lebih besar dibanding kemampuan perut kita dalam menampung makanan. Dengan puasa kita diajarkan untuk tidak hidup berlebihan, apabila kita diberi kelebiahan sesuatu, berikan kepada orang lain.
Idul Fitri adalah hari kemenangan dalam arti kita telah selesai menjalani latihan. Lantas, apakah latihan kita tersebut telah berhasil? []
Baca lanjutannya......
Oleh: Farid FPP
Terlalu manis disiakan
Untuk para ombak
Kumohon izinkanlah
Damai ini tetap bersamamu
Terlalu mesra diabaikan
Untuk setiap desir angin
Yang sejukkan segenap asa
Sampaikan salamku pada elang senja
Terlalu indah dilupakan
Untuk pepasir berkilauan
Sungguh kau
Buahkan makna baru di relung kalbu
Hari ini, aku di sini
Di eloknya karunia Ilahi
Dengan sepercik doa
Tuhan, jagalah mereka
Untuk 9 Oktober 2009
Baca lanjutannya......
Oleh: Ithay FPP
Lembaian angin pantai
Membuncah di segenap jiwa
Desiran ombak menerpa nurani
Cahaya mentari pagi
Menampakkan kelembutannya
Nian damai
Sejuta perasaan lembayung hilang
Perih rasa seakan lenyap begitu saja
Gelora pagi permai-permai
Menelusuri asinnya laut berair
Di bawah naungan deretan pinus
Diriku sejenak mengungkapkan perasaan
Burung itu merentangkan sayap-sayapnya
Ikut berirama menemaniku
Sendiri di sini
Kapan lagi aku akan berkunjung ke sini
Wahai lautan yang asri
Menuntun hati mengungkap nelangsa
Cahaya itu kembali surut
Saat aku melangkah pergi
Batakan, 9 Oktober 2009
Baca lanjutannya......
Oleh: Syarief FPP
Aku masih di sini
Sambil memegang gelas yang kosong
Berharap ada yang mengisinya
Walau setetes demi setetes
Aku masih di sini
Menunggu bidadari yang akan menjemputku
Menunjukkanku jalan menuju rahmat-Nya
Tuk dapatkan syurga-Nya
Aku masih di sini
Dan tak akan kembali
Sampai gelasku penuh
Dan aku bertekad untuk menyebarkannya
Baca lanjutannya......
Oleh: Imam FPP
Sudah sejuta abad lebih bumi mengarungi lautan waktu hingga sekian lama, perpaduan zaman merosot naik menuju kemajuan yang terus berlanjut sampai akhir hayat bumi ini.
Lalu, seperti itukah Indonesia? Jawabannya mungkin adalah "Ya, sedikit". Karena itulah kenyataan yang terjadi di seantero bumi Nusantara kita ini. Faktor lingkungan adalah pendukung nomor satu sendatnya kemajuan itu, karena kebanyakan orang Indonesia pikirannya telah terhipnotis oleh alam, dengan kata lain dimanja alam. Sehingga orang-orang kita tidak berpikir untuk memajukan bangsanya sendiri. Kita pun mungkin termasuk dari orang-orang itu. Lalu apakah kita membiarkannya tersendat di tengah perjalanan? []
Baca lanjutannya......
Oleh: Ilham FPP

Desa Batakan memang memiliki beberapa aset wisata yang eksotik. Di antaranya Pantai Batakan, Pantai Labuan, Pulau Datu, Pantai Batu Lima dan masih banyak lagi. Karena itulah, tempat ini menjadi pilihan kami dalam rangka merayakan dua tahun berdirinya FPP, serta untuk mempererat persaudaraan sesama anggota. Event ini juga menjadi momen revolusi FPP, karena banyak perubahan drastis yang dilakukan FPP sesudahnya.
Tak sia-sia menjelma seumpama setrika dalam mengurus perizinan yang rumit dan ruwet, akhirnya putaran ban mobil pick up yang membawa 18 anak-anak FPP berputar menuju Batakan. Dengan kecepatan sedang, kami tiba di lokasi penginapan, yakni rumah keluarga Farid FPP pada pukul 16.30 WITA seusai menempuh kurang lebih dua jam setengah perjalanan.
Di hari kedatangan, setelah shalat ashar, kami bergegas pergi ke Pantai Labuan. Tepiannya bukan berupa pasir, melainkan bebatuan dan karang. Karena itu pantai ini tidak cocok sebagai area berenang. Sebab, membahayakan jika tergores karang yang lancip.
Berhubung hari telah senja dan lagipula ini cuma sekadar melihat-lihat saja, kami kembali ke rumah keluarga Farid yang jaraknya tidak begitu jauh. Tentunya sebelum itu, ada foto-foto dulu, soalnya sangat sayang melewatkan berpose di batu alam saat sunset di pantai yang tangguh ini.
Di hari selanjutnya, pagi-pagi kami berjalan kaki menuju ke Pantai Batakan. Setidaknya kami ingin menyaksikan sunrise dari pantai yang eksotik ini. Berbeda dengan Labuan, Pantai Batakan memiliki pesisir dengan pasir yang halus. Tak sia-sia membawa bola ke sini karena tepiannya sangat cocok menjadi lapangan bola.
Namun tidak semuanya bermain bola. Ada yang perang lumpur, sementara itu di sudut sana mambangun istana pasir. Tak jauh dari situ, ada yang mengubur dirinya. Dan yang paling janggal adalah seorang omnivora yang apabila menemukan sesuatu yang bisa dikonsumsi langsung dia sikat.
“Manis seperti gula,” tuturnya sambil mengemut daging kepiting hidup-hidup.
Hura-hura tanpa rumusan. Kendati demikian, bukan berarti jauh-jauh ke sini hanya untuk itu. Agar rekreasi ini tetap berkesan pena, maka diwajibkan setiap anggota membuat satu puisi bertema pantai atau laut. Jadilah setelah capek, masing-masing meraih binder dan pulpen. Sambil duduk di atas pohon tumbang di bawah pohon pinus, dicandai napas laut, ditingkahi anggunnya dedaunan gugur, semuanya menumpahkan ide-ide yang menggeliat di otak.
Perjalanan terakhir menjelang sore, sebelum pulang kami menyempatkan berkunjung ke Pulau Datu. Sekitar pukul 3 siang kami datang kembali ke Pantai Labuan. Soalnya, dari situlah titik terdekat untuk mencapai Pulau Datu. Dengan kesepakatan harga, disewalah satu perahu milik nelayan setempat. Pemandangan di pulau mungil ini memang tak kalah memesona. Pastinya yang pertama dilakukan adalah ziarah ke makam Datu Pamulutan sebelum berkeliling pulau.
Puas menikmati sajian alam tempat ini, kami kembali ke tempat kami menginap. Usai melaksanakan kewajiban, kami pun pulang ke Al Falah. Dan senja terakhir pun tumpah di desa Batakan.[]



Baca lanjutannya......
Kuis
22.40
| Author:
Forum Pena Pesantren
1. Siapa nama asli Afifah Afra?
2. Buku apa saja yang telah dihasilkan Afifah Afra?
3. Siapa nama tokoh utama dalam novel Katastrofa Cinta?
4. Kenapa untuk terampil menulis kita juga harus banyak membaca?
5. Tanggal berapa FPP berdiri dan siapa pendirinya?
Ketentuan:
- Menempelkan kupon yang telah disediakan;
- Mencantumkan nama, kelas, dan asrama (untuk santri Al Falah) atau nama, sekolah, dan nomor HP (untuk yang bukan santri Al Falah);
- Jawaban dikirim ke asrama Thalhah pada saudara Syarief;
- Jawaban dikirim paling lambat tanggal 2 November 2009;
- Tiga orang pemenang akan mendapatkan hadiah menarik dari kami.
Pemenang Kuis Literasi Edisi 2:
1. Rizkyannur,
Asrama Babussalam, Kelas 2 Ts.
2. Rahmanuddin,
Asrama Abi Ubaidah, Kelas 2 Ts. D
3. Andi Ahmad Rizqy Atnanor,
Asrama Hamzah 2, Kelas 1 Ts. F
Baca lanjutannya......
Inbox
22.39
| Author:
Forum Pena Pesantren
Kalau bisa, covernya yang tebal.
Ust. Abd. Manan, Kabid Kesiswaan
Terima kasih atas sarannya. Namun mengingat harga yang juga turut naik apabila cover menggunakan kertas tebal, maka untuk sementara cover tetap menggunakan kertas HVS.
Ditambah rubrik ensiklopedi kayaknya oke tu, tapi ensiklopedinya tetap yang berhubungan dengan sastra. Bagaimana?
Arief Rahman, 2 Aliyah B
Usul yang sangat briliant. Tapi berhubung keterbatasan halaman, maka saran bagus ini untuk sementara cuma bisa kami tampung. Terima kasih.
Usul saya, sebaiknya di setiap edisinya Literasi membahas soal internet seperti facebook, game online dsb.
Bana Zulkarnain, 2 Aliyah
Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa majalah ini mengkhususkan di bidang sastra, jadi masalah internet kami hanya membahas soal blog yang memang sangat berhubungan dengan tulis-menulis.
Baca lanjutannya......
Oleh: Farid FPP
Aku terus berlari kecil. Membiarkan telapak kakiku menginjak pasir-pasir gatal. Udara malam begitu tajam. Yang terdengar di sini hanya suara deru ombak dan gemuruh angin. Pancaran sinar sang purnama tetap setia menemaniku. Pohon-pohon pinus bergoyang mendendangkan syair sendunya.
Dari kejauhan, samar-samar terlihat olehku sebuah perahu kecil terdampar. Kupercepat lariku menuju perahu itu. Kebetulan di dalamnya ada dayung. Tanganku langsung memegang perahu dan mendorongnya ke tengah pantai. Kuraih dayung, naik ke perahu dan langsung meluncur melawan hempasan ombak.
*****
Entah sudah berapa jauh aku mendayung. Tak ada ombak lagi di sini. Mataku menyorot ke sekeliling, tak terlihat apa-apa.
Bayang-bayang rembulan tampak di permukaan air yang tenang. Bias cahayanya menentramkan. Hawa dingin masih betah membelai sekujur tubuhku yang kurus ini.
*****
Purnama tertutup awan hitam. Malam menggelap. Tak lama rintik-rintik hujan terasa menyentuh kulitku. Angin menderas. Aku mulai panik. Jangan-jangan akan terjadi badai!!
*****
Benar saja. Hujan turun amat derasnya. Angin kian dahsyat. Kini perahuku sudah hampir karam akibat dipenuhi air. Aku pun mulai berharap bahwa ini hanya mimpi...
“Aaaa.....”
Aku terpelanting. Angin puyuh menciptakan ombak besar dan tepat mengenaiku. Perahuku terbalik.
Aku berusaha bertahan. Kucoba meraih perahu yang masih mengapung terbalik di dekatku, dan berhasil. Kupegang erat-erat. Hanya ini satu-satunya cara untuk bisa bertahan hidup di tengah badai besar ini. Duuh... Semoga saja ini hanya mimpi.
*****
Badai reda sudah. Purnama merendah. Fajar pun menampakkan semburat keemasannya.
Aku masih dapat bertahan. Tapi sampai kapan? Mungkin sebentar lagi juga.... dagingku akan membengkak, membusuk dan berbau tidak sedap akibat napas yang terhenti. Aku mati? Oh, tidak...!
*****
Otakku terus berputar, dan akhirnya mengeluarkan serangkai gumam.
“Ah, sudahlah, mati juga tak apa. Lagipula mustahil aku bisa tetap hidup di sini.”
Kulepaskan peganganku, dan... aku tenggelam.
*****
Ada yang datang. Dia berpakaian serba putih dan memiliki sayap. Diangkatnya rohku meninggalkan jasadku yang terbaring di dasar laut ini. Ketika aku membuka mulut ingin bertanya siapa dia, dia menutup mulutku dengan telunjuknya. Aku pun diam dan ikut saja.
*****
Coba tebak aku sekarang ada di mana? Aku sekarang berada di luar angkasa! Bertemu para astronot dan alien, menyaksikan planet-planet berputar membingungkan.
Orang tadi sudah pergi meninggalkanku. Katanya ada tugas lain, tapi nanti kembali lagi. Dia memberiku sepasang sayap yang diambil dari dua helai bulu sayapnya. Dia juga sudah mengajariku cara menggunakannya.
*****
Syuhhh..., aku sudah capek berkeliling-keliling, melihat-lihat dan bermain-main di sini. Tidak terlalu menyenangkan. Lebih baik aku berisitirahat dulu sambil menuggu orang berpakaian serba putih tadi untuk mengetahui mau dibawa ke mana lagi aku.
Kupandangi planet-planet yang sedang sibuk bekerja. Mataku tertuju pada planet kecil hijau cerah tempat di mana beberapa jam yang lalu aku diangkat dari jasadku di dasar laut dan dibawa ke sini, indah sekali. Tapi sayang, ada lubang-lubang kecil di permukaannya yang mengurangi keindahan planet ini. Entah karena apa itu.
Pandanganku beralih ke atas. Aku dikejutkan oleh semacam bola api besar yang terjatuh. Kulihat ke bawah, kulihat lagi ke atas. Wah, gawat! Bola api itu akan menjatuhi planet hijau! Nyawa para penghuninya akan terancam. Dengan penuh kenekatan dan keberanian, segera kukepakkan sayapku menuju bola api. Kukerahkan tenaga dan kuterjang bola api itu. Tapi hanya bergeser sedikit, sekali lagi dan sekali lagi!
Dia jatuh mengenai sebuah planet yang dikelilingi cincin es. Apinya pun padam. Oh...., syukurlah.
*****
Akhirnya datang juga dia. Cahaya putihnya tampak dari kejauhan. Dia menyapaku halus dan....
“Ayo, cepat ikut aku! Sudah saatnya kau terjaga dari mimpimu ini.”
Aku tidak mengerti.
“Maksudmu apa?”
“Sudah, jangan banyak tanya. Ikuti saja aku!”
Dia menarikku.
“Hei, kita mau ke mana?!”
Dia diam saja.
*****
“Kita sudah sampai.”
“Kenapa aku dibawa ke sini lagi?”
“kau diam di sini dulu, aku akan ke dasar laut mengambil jasadmu yang tertinggal di sana.”
Dia pun meninggalkanku sendiri mengawang di atas perairan ini.
*****
Dia datang lagi.
“Sekarang, kau konsentrasikan pikiranmu. Aku akan menyatukanmu kembali dengan jasadmu ini. Bersiaplah!”
“Hei, tunggu dulu. Ka... kamu ini siapa?”
“Aku ini dari bangsa malaikat. Namaku Izrail.”
*****
Sinar mentari yang masuk dari kaca jendela yang sudah terbuka gordennya menyilaukan mata dan membangunkanku.
Saat aku duduk, aku pun sadar kalau aku telah mengalami mimpi panjang, amat panjang. Hmmm...., ternyata aku belum mati.[]
Baca lanjutannya......
Mengapa?
22.37
| Author:
Forum Pena Pesantren

(Cerpen ini pernah dimuat di harian Banjarmasin Post pada tanggal 30 Agustus 2009 dengan judul yang sama)
Oleh : Kamal FPP
Hangat mentari pagi mulai terasa. Kabutnya embun masih menghalangi pandangan mata, seolah-olah jelmaan jin yang menampakkan dirinya. Kokok ayam sudah mulai mereda, karena tenggelam oleh suara takbir yang menggema dari masjid-masjid di sekitar pasar Rantau pagi ini.
Hilir mudik pejalan kaki tak terlihat padat seperti hari biasanya. Begitu juga dengan mobil-mobil pembawa sayuran, tukang becak, dan tukang gerobak.
Rasanya hanya aku yang bangun di pagi ini. Teh hangat telah tersedia di hadapanku. Aku duduk di atas loteng rumahku sambil kebingungan melihat semuanya.
Tampaknya ada sesuatu yang mengubah semua ini. Kusiram mataku dengan air teh yang ada di depanku, seakan-akan tak percaya dengan apa yang terjadi.
Jangan-jangan aku cuma mimpi atau menghayal. Tapi ternyata, siramanku tadi hanya buang-buang waktu saja. Ini memang benar. Kejadian ini menyelamkan pikiranku ke dasar lautan imajinasiku untuk menemukan jawabannya.
Ah. Tampaknya pikiranku kehabisan oksigen kalau berlama-lama di lautan ini. Lebih baik aku mencari jawabannya ke langit sana. Mungkin di sana ada yang bisa menjawabnya. Pikiranku melesat dengan cepat menuju langit imajinasi, bagaikan cahaya laser yang bergerak menuju sasarannya.
Di langit pertama, aku bertemu laki-laki berjubah putih berambut panjang sedang berdiri, sambil menatap matahari yang berada di langit keempat. Ah… Mungkin ia tahu jawabannya.
“Pak! Apakah Anda tahu kenapa kota Rantau hari ini sangat sepi?”
“Saya saja masih bingung, mengapa matahari itu bernyala sendiri tanpa menggunakan bensin! Nah, menjawab pertanyaan saya saja saya tak bisa, apalagi menjawab pertanyaan Anda!”
Uh, menyebalkan. Mungkin di langit kedua dan seterusnya, penghuninya sama seperti dia. Lebih baik aku turun ke bumi. Mungkin di tengah hutan pegunungan Meratus sana, ada seorang petapa yang bisa menjawabnya.
Pikiranku turun ke hutan pegunungan Meratus dengan hati-hati supaya tidak tersangkut di dahan pohon ulin nantinya. Hutan pegunungan Meratus yang luas, ditumbuhi beraneka macam pepohonan. Kicauan burung dan deru angin sepoi-sepoi, begitu menyejukkan kalbu. Dedaunan yang tertiup angin, seolah melambai-lambai menyambut kedatanganku.
Aku terus menuju ke dalam hutan ini, menuju rumah tua yang ada di lereng gunung itu.
, suasana terasa semakin mencekam. Ditambah udara dingin yang membuat hutan ini seoalah mati tanpa ada kehidupan. Serigala-serigala hutan sedang bernyanyi-nyanyi dengan nyanyian dari alam kubur.
Rumah itu semakin dekat saja. Dinding-dindingnya yang terbuat dari kayu ulin, dihiasi lumut-lumut hijau yang tumbuh dengan tenang, tanpa takut dipindahkan oleh sang tuan rumah ke bebatuan. Begitu juga dengan atapnya, beberapa anggrek melekat di atasnya. Tanpa dirasa oleh panca indraku, ternyata aku sudah berdiri di depan pintu rumah tua ini.
Brak…
Tiba-tiba kedua daun pintunya terbuka tanpa dibuka. Kulihat di dalam ada seorang yang telah lapuk dimakan usia. Tangannya yang keriput bergetar dan bergerak ke kanan dan ke kiri, mengitari dupa yang dibakar di hadapannya.
Mulutnya komat-kamit mengucap mantra-mantra yang tak kumengerti apa artinya. Matanya terpejam penuh konsentrasi. Kedua kakinya saling merapat seolah-olah kedinginan.
Aku berdiri mematung semakin kebingungan. Apakah ia bisa menjawab kebingunganku ataukah kejadian di langit pertama tadi terulang kembali? Tapi aku rugi jika aku pulang tanpa jawaban. Perjalanan yang mengerikan ini harus mendapat imbalan yang sesuai.
“Kek, apakah Anda tahu mengapa kota Rantau hari ini sepi?” tanyaku memulai pembicaraan.
“Huahaha.... Huahaha.....”
Tawanya yang meyeringai membuatku tersentak ke belakang.
“Aku laparrr…. Sudah satu minggu aku tak makan daging,” ucapnya sambil mencabut parangnya yang sedari tadi melekat di pinggangnya.
“Jangan…!” teriakku sambil melarikan diri darinya. Aku merasa terbang ke udara. Ah, selamatlah diriku sudah.
Brak…
Aku menabrak ranting-ranting pohon ulin. Dan kini pikiranku terjatuh ke bawah menimpa bebatuan besar yang berlumut. Sepuluh meter dari rumah tua tadi, kakek itu mengejarku sambil mengacungkan parangnya. “Tidak…!”
Kularikan pikiran ini secepat kilat, karena tak mungkin bisa melesat ke udara di hutan yang serimbun ini. Lebih baik aku ke Pondok Pesantren Al Falah saja. Katanya disana itu banyak orang-orang jenius.
Dari luar aku memandang ke dalam. Pesantren ini terlihat sangat indah. Bank santri, balai kesehatan, kantor yayasan, perumahan guru-guru, dan pepohonan tersusun dengan rapi. Gapuranya yang megah, berhiaskan kaligrafi-kaligrafi Arab. Ditambah, air mancur yang tanpa lelah mengeluarkan airnya setiap waktu berada di kirinya. Bunga-bunga kecil yang indah mewarnai kanan dan kiri jalan. Ikan-ikan mas berenang dengan gembira di kolam yang ada di bawah air mancur. Warna putih dan biru melekat kuat di dinding bangunan-bangunannya, sehingga semuanya tampak seperti saudara kembar.
Burung-burung terbang dan kembali ke sarangnya yang bertumpu di dahan-dahan pohon akasia yang berumur paruh baya. Akasia itu tampaknya sangat senang hidup di pesantren ini. Itu tampak dari raut wajahnya. Walaupun wajahnya keriput, tapi senyuman tak pernah luntur dari bibir dan matanya.
Pikiranku terus berjalan ke dalam untuk mencari jawaban yang mebingungkan itu. Aroma bunga yang sedang bermekaran di samping jalan, senantiasa menemani penciumanku sedari tadi. Kumbang dan kupu-kupu berkompetisi untuk mencuri madunya. Tapi itu tidak terjadi pada bunga mawar yang sedang menikmati hangatnya matahari, karena ia menyimpan madunya dibantu oleh duri-duri badannya. Tapi tampaknya ia tak dapat mencegah semut-semut pencari madu yang telah mencium aromanya.
Begitu juga dengan burung-burung gereja. Mereka terbang bermain-main dengan bebas tanpa takut ditabrak oleh pesawat yang hilir mudik untuk menurunkan penumpang dan mengangkutnya kembali di bandara Syamsuddin Noor yang sangat
dekat dengan Pesantren Al Falah. Anak burung itu tampaknya cuma bermain-main saja dari tadi. Sedangkan ibu mereka mencarikan makan dari batang pohon akasia yang dihuni ulat-ulat pohon. Akasia tua itu berterima kasih pada induk-induk burung itu, karena rasa gatalnya akibat ulat-ulat itu berkurang. Sungguh sebuah kehidupan yang menakjubkan mata.
Pesanteren ini tampaknya ditinggal pergi penghuninya. Itu terlihat dari lengang dan kesunyian yang kurasakan saat ini. Kulanjutkan perjalananku mencari jawaban pertanyaanku. Kulihat di asrama-asrama yang dikunci ini dari jendela kacanya. Terlihat beberapa tikus sedang berpesta di kasur yang bergulung tanpa seprai. Di ujung-ujungnya, tampak kelelawar-kelelawar yang tidur dengan nyenyak sambil bergantung, tanpa takut terjatuh atau digigit oleh tikus-tikus nakal.
Tampaknya sudah berminggu-minggu asrama ini ditinggalkan. Sama halnya dengan asrama yang ada di sampingnya. Laba-laba hidup dengan tentram. Rumah-rumahnya bergantung-gantungan di dinding-dinding asrama. Sang betina sedang mengerami telurnya, sedangkan si jantan melekat santai di sarangnya sambil menunggu nyamuk atau serangga yang tersangkut.
Seekor cicak memandangnya dengan geram. Karena nyamuk dan serangga lainnya banyak yang tersangkut di rumah laba-laba itu, sehingga makanannya pun berkurang drastis. Saat seekor kupu-kupu yang tersesat ke dalam asrama, ia terjebak di rumah laba-laba itu. Sang cicak semakin geram, cicak itu melompat menerkam kupu-kupu yang tersangkut itu. Tapi celaka tak dapat ditolak, malahan ia sendiri yang tersangkut di jaring laba-laba yang kuat itu dan kupu-kupu terlepas dari jaring. Sepertinya sang laba-laba itu sudah tahu dengan apa yang akan terjadi. Ia pun tertawa dengan senangnya karena mendapat makanan yang besar. Memang betul asrama-asrama ini lebih dari tiga minggu ditinggal penghuninya.
Pikiranku kembali berjalan menuju perumahan yang ada di depan kelas bertingkat dua itu. Yang di sampingnya tumbuh lebat pohon-pohon kelapa yang menjulang tinggi ke angkasa raya. Rumah-rumah itu tampak sederhana saja. Dengan atapnya yang dibuat dari atap seng yang dipaku, dan dindingnya dari susunan papan yang bercat putih. Sederhana saja. Di pintu rumah-rumah itu terukir nama dalam bahasa Arab. Tampaknya itu nama pemilik rumah. Rumah itu ada lima buah, rumah yang pertama di daun pintunya terukir nama “Murjani”.
Kuketuk pintu itu dengan pelan-pelan sambil mengucapkan salam.
“Assalamu ‘alaikum.”
Suasana hening tanpa jawaban, tanpa sahutan dari dalam rumah. Mungkin rumah ini juga ditinggal penghuninya sama seperti asrama-asrama tadi.
Lima menit kemudian, habislah lima buah rumah itu kuketuk. Sama seperti rumah pertama, empat buah rumah lainnya juga tak menjawab salamku. Aku tak mau kembali dari sini dengan tangan hampa. Pikiranku kembali berjalan mencari jawaban itu.
Kini aku telah berada di belakang rumah tadi. Sebuah telaga yang tampak begitu anggun terletak disana. Tumbuhan-tumbuhan tampak gembira sekali ketika angin menggoyangkan tubuh-tubuh mereka. Sedangkan sekelompok ikan nila terlihat sedang beristirahat di pinggir-pinggir telaga. Pohon jambu muda menaungi mereka sambil berdiri di samping telaga itu.
Tiba-tiba ikan-ikan itu berlari-lari ketakutan. Tumbuhan-tumbuhan berdiam tanpa gerak. Air yang ada di tengah telaga itu bergolak-golak seperti air yang sedang mendidih. Burung-burung yang tadi berkicau, kini berubah menjadi ribut. Angin pun tak meneruskan perjalanannya melewati daun-daun pohon kelapa. Aku merasa heran dengan apa yang sedang terjadi. Suasana yang menenangkan hatiku tadi, serasa seperti mati suri.
“Wuahaha… Wuahaha…” Tiba-tiba muncul di tengah danau itu orang tua dari rimba Meratus tadi yang sedang kelaparan. “Aku laparrr… Aku mau makan daging.” Teriakan itu membuatku lari secepat kilat tanpa mempedulikannya.
Brak…
Pelarianku tampaknya tak berhasil. Kakiku tersandung batu bata tua yang tersusun rapi. Orang rimba itu telah berada di dekatku.
“Hyaa…” Ia mengayunkan parangnya. Tapi lima senti dari leherku, tongkat besi seseorang menahan laju tajamnya parang itu untuk menyentuh kulitku.
Kakek langit! Kakek yang kebingungan di langit tadi menghalangi laju parangnya si orang rimba. Aku menjauh dari mereka. Kududukkan pikiranku yang menggigil karena ketakutan di bawah pohon pepaya yang sedang berbuah. Pepaya ini tampaknya tegang juga melihat mereka berdua berkelahi.
Si orang rimba sangat marah karena mangsanya lolos. Ia keluarkan habis-habisan semua ilmunya. Lima puluh parang keluar dari mulutnya. Parang-parang itu sambung menyambung dan membentuk sebuah formasi naga yang menerjang perut kakek langit. Tapi itu tak mengapa bagi kakek langit yang sudah siap dari tadi. Tongkat besinya jadi banyak dan merapat, sehingga menjadi sebuah pagar yang kokoh. Mulutnya komat-kamit sambil menatap tajam ke matahari di langit.
Tiba-tiba langit berubah menyeramkan. Langit merongrong penuh murka. Kilat menyambar-nyambar mencari mangsa. Dari segala arah, angin berlari dengan cepat menuju si orang rimba. Tapi si orang rimba tetap tegar berdiri di pijakannya. Matanya bernyala-nyala dikuasai amarah. Ia menatap kepadaku. Parangnya langsung melayang ke arahku.
“Mal, cepat ganti baju!” panggil ibu membuyarkan lamunanku.
“Hari ini kita shalat Id di samping pasar,” kata Ayah menimpali.
Ya Ilahi. Hari ini kan hari Idul Fitri. Pantas saja kota Rantau hari ini sepi.[]
Baca lanjutannya......
Oleh : Kamal FPP
Saat Kiram membuka mata, cahaya matahari menyeruak memasuki kornea matanya. Ia ingin sekali bergerak, tapi sakit langsung menghinggapi badan dan saraf otaknya. Ia pun kembali memasuki dunia gelap yang menidurkan kesadarannya.
Sekarang tubuh Kiram dirawat di rumah sakit As-Syifa, 20 Km dari rumahnya. Karimlah yang membawanya, setelah sebelumnya terjadi percekcokan mulut, antara ia dengan beberapa anggota PM untuk membawa Kiram yang masih dirawat di markas PM ke rumah sakit. Karena mereka tahu, bahwa Kiram punya hubungan dekat dengan Jendral Qosim, seorang yang selama ini selalu mencari informasi tentang PM. Mereka juga mengkhawatirkan keamanan Karim ketika jauh dari anggota-anggota PM.
Tapi Karim tetap bersikeras pada pendiriannya untuk membawa Kiram ke rumah sakit, supaya Kiram lebih baik daripada sekarang, yang dirawat dengan segala kemampuan yang dimiliki PM. Dan akhirnya setelah Karim memberikan argumen yang benar-benar keluar dari lembah hatinya yang begitu sayang pada sang kakanda, Panglima PM, Jahir Khalid mengizinkannya untuk membawa Kiram ke rumah sakit. Jahir mengerti dengan perasaan Karim.
Dari dalam mobil PM, Karim mengirim SMS pada keluarganya dengan HP milik Kiram. Ia memberitahu bahwa Kiram sekarang ada di rumah sakit As-Syifa. Namun ia tak memberi kabar tentang dirinya.
Lima belas menit kemudian Ayah, Ibu, Yunus, dan seorang perempuan yang menggendong bayi datang dengan sebuah mobil. Ingin sekali tangannya sekarang memeluk mereka, melepas rindu yang selalu menggundahkan hatinya. Namun apa mau dikata, ia telah menyetujui perjanjian dengan Jahir Khalid bahwa ia tak boleh diketahui oleh siapa pun, apalagi dari keluarga. Dan sekarang 5 anggota PM senantiasa menjaga apa saja yang ia perbuat. Setelah itu ia pergi dengan membawa kerinduan yang semakin menjadi.
*****
Dokter yang menangani Kiram keluar dari kamar Kiram.
“Bagaimana, Dok?” DR. Musyarrafah langsung bertanya.
“Kiram telah mengalami benturan keras di kepalanya, sehingga sebagian sarafnya tak bisa berfungsi. Tapi kami akan berusaha sebisa kami,” jawab dokter itu singkat, kemudian berlalu meniggalkan keluarga Kiram yang menggenggam berjuta harapan.
“Ini semua salahku! Akulah penyebab semua ini! Kau tak adil Tuhan....! Kau ambil semuanya....!” DR. Musyarrafah berteriak-teriak sambil berlari di koridor rumah sakit.
Yunus dan Prof. Asyraf segera mengejarnya. Ia semakin berteriak, “Tuhan tak adil!”
Ia berlari dengan cepat dan keluar dari bangunan rumah sakit. Prof. Asyraf dan Yunus juga semakin cepat mengejarnya. Mereka sangat takut jika ia sampai ke jalan raya. Sambil mengayuh kakinya, Prof. Asyraf menelpon satpam yang menjaga pintu masuk rumah sakit.
“Pak, tolong tangkap seorang perempuan yang berlari sambil berteriak-teriak.”
“Baik, kami akan menjaga di pintu rumah sakit.”
“Tolong langsung siapkan ambulan untuk membawanya ke rumah sakit jiwa!”
“Baik, kami siapkan secepatnya.”
*****
Setelah sampai di markas PM, Karim duduk di depan markas, memandang bintang-bintang yang selalu tersenyum, tak punya banyak masalah seperti dirinya. Mereka cuma berdiam diri, tapi dapat memberikan sesuatu yang berharga bagi para nelayan, yaitu menuntun meeka kembali pulang ke rumah. Memberitahu para petani tentang waktu bercocok tanam yang baik dan lain-lain.
Andai aku adalah salah satu dari mereka, tentu Ayah, Ibu dan Kakak bangga melihatku yang sangat berguna, Karim membatin.
Jahir keluar markas dan kemudian duduk di sebelah Karim yang sedang melamun.
“Kau tahu Karim, sebentar lagi natal tiba, sekaligus pembukaan Pantai Malkan?”
“Ya, aku tahu itu. Lalu apa yang kau rencanakan?”
“Kau tahu, untuk apa PM didirikan?” tanya Jahir kembali.
“Untuk menggulingkan pemerintahan Hakim Abdah.”
“Hakim Abdah yang akan membuka Pantai Malkan pada 25 Desember nanti. Hari itulah semua anggota kita berbaur di antara hadirin, dan saat itulah kita harus menghabisi nyawanya. Untuk hal itu kuserahkan padamu Karim!”
“Kau saja. Kau kan panglima?!”
“Bukan masalah panglima atau anak buah. Yang saya pikirkan kejituan tembakanmu. Tembak bagian jantungnya. Setelah itu semua anggota mengiringi tembakanmu dengan tembakan membabi buta pada seluruh hadirin. Lalu kita melarikan diri masing-masing, dan berkumpul kembali di sini.”
“Baik, kuterima usulmu.”
*****
Setelah menyelesaikan administrasinya, Prof. Asyraf menengok kembali istrinya yang sedang berada di sebuah kamar berterali besi. Sungguh sedih hatinya melihat sang istri meracau tak karuan. Kadang teriak-teriak, kadang menangis. Malam itu juga ia pergi, kembali ke rumah sakit di mana Kiram dirawat sekarang, karena ia tak mungkin membagi tubuhnya untuk dua orang yang berlainan dan berjauhan tempat.
Ia berjalan menapaki jalan malam hari ini menuju rumah sakit As-Syifa. Malam yang sangat berbekas di hati, malam yang telah meruntuhkan benteng hatinya. Benteng yang selama ini telah banyak menahan cobaan yang datang bertubi-tubi, membabi buta, hingga akhirnya merobohkannya dengan paksa. Bahkan menjadi pasir yang beterbangan dilanda angin kemarau.
Angin malam sedikit mendinginkan suasana hatinya. Menjalani takdir Ilahi dengan tawakkal dan sabar. Takdir tak hanya untuk direnungi, tapi untuk diubah kepada keadaan yang lebih baik. Itulah yang diinginkan Prof. Asyraf sekarang, menyelesaikan segala masalah yang sedang ia hadapi.
Ia dilahirkan dalam keadaan yatim di dusun terpencil utara Kota Kabsyir. Ia tidak dibesarkan di antara orang-orang terpelajar, melainkan orang-orang desa yang hanya mempelajari agama dan bekerja menyambung hidup dalam rangka ibadah. Tapi cuma ia yang berkeinginan keras mencari pendidikan yang lebih tinggi. Sampai akhirnya ia memperoleh gelar doktor di Kabsyir University bidang teknologi, gelar yang ia dapatkan dengan susah payahnya menjadi kuli bangunan.
Seminggu setelah gelar doktor terpajang di depan namanya, Perusahaan Transfortasi Negara (PTN) memintanya bekerja. Dalam jeda waktu yang tak begitu lama, Kabsyir University memintanya menjadi dosen di sana karena ilmu yang ia miliki. Dua jabatan telah ia dapatkan, tapi rasanya ada satu yang kurang, keluarga!
Suatu ketika diadakanlah rapat antara para Peneliti Luar Angkasa Negara dengan PTN. Peneliti-peneliti itu meinta PTN membuatkan pesawat luar angkasa yang akan membawa mereka menjelajahi tata surya. Tentu saja petinggi-petinggi PTN banyak yang angkat tangan, mengingat pengetahuan anggota-anggota PTN tentang produksi pesawat luar angkasa sangat minim. Namun DR. Asyraf menyatakan kesanggupannya, asalkan pegawai PTN yang lain membantunya dalam bekerja.
DR. Musyarrafah yang tergabung dalam Peneliti Luar Angkasa Negara pun kagum memandangnya, pandangan kagum sekaligus cinta.
Dan akhirnya setelah empat tahun berselang, pesawat luar angkasa yang sangat dinanti-nanti semua orang di negri ini, apalagi para astronot, telah siap digunakan. Semua rakyat gembira, karena negri mereka tidak kalah dengan negara-negara lain.
Presiden Laqitullah Asrar memberikan gelar profesor pada DR. Asyraf. Namanya pun seketika mencuat di media-media massa.
Para astronot pun tak sabar lagi menaiki pesawat yang sangat mereka dambakan itu. Presiden akhirnya menyetujui acara penerbangan pertama pesawat tersebut, sehari setelah pesawat rangkum.
Sejak penerbangan para astronot pertama kali dengan pesawat hasil Prof. Asyraf, Prof. Asyraf semakin dekat dengan DR. Musyarrafah. Hingga pada akhirnya lamaran pada DR. Musyarrafah dikeluarkan mulut Prof. Asyraf pada kedua orang tua DR. Musyarrafah.
Gayung bersambut, pinangan itu diterima tanpa ada kendala. Kebahagiaan demi kebahagiaan mereka rangkul bersama.
Namun semua itu hanyalah slide masa lalu. Sekarang yang ada hanyalah keadaan-keadaan pahit yang meruntuhkan semua kebahagiaan yang ia dapatkan.
*****
Dini hari 25 Desember. Adzan subuh belum terdengar, kokok ayam baru satu dua yang terdengar membahana memecah kesunyian. Bintang-bintang pun masih memancarkan sinarnya. Melum terlihat aktivitas manusia, kecuali anggota PM. Mereka sibuk menyiapkan senjata api, peluru, bom, granat, dan lain-lain.
Bersambung...
Baca lanjutannya......
Oleh: Zian FPP
Bila edisi yang lalu kita telah membahas bagaimana caranya membuat blog dengan Blogspot (blogger.com), maka di edisi ini kita akan kupas tentang membuat blog dengan Wordpress (wordpress.com).
Dari cara pembuatan, Wordpress memang terbilang lebih rumit ketimbang Blogspot. Sebab aktifasi blog hanya bisa dilakukan lewat e-mail, karena itu, sebelumnya Anda harus punya e-mail (yang asli dan masih aktif). Namun dari segi sistem dan kecepatan loading, saya rasa Wordpress jauh lebih baik daripada Blogspot. Karena itu, wajarlah bila blogger-blogger senior lebih memilih Wordpress sebagai mesin blognya. Sedangkan Blogspot, biasanya lebih banyak digunakan oleh pemula.
Oke, tak perlu kita berpanjang lebar membahas soal itu. Sekarang mari ikuti langkah-langkah berikut ini:
1. Tentunya buka dulu http://www.wordpress.com dengan browser Anda baik itu Mozilla FireFox, Opera, Internet Explorer, Google Chrome, atau yang lain.
2. Klik tombol “Sign up now” yang ada di kanan.
3. Setelah itu Anda akan diminta mengisi data berupa username, password, konfirmasi password (isi dengan yang telah Anda isikan di kolom password, harus sama), dan alamat e-mail Anda yang aktif. Jangan lupa pula memberi tanda centang pada kolom “Legal flotsam”. Bila semua sudah, klik tombol “Signup>” yang ada di bawah.
Ingat baik-baik username dan password Anda, sebab dua hal tersebut nantinya akan selalu digunakan bila Anda ingin login (masuk).
4. Apabila data sebelumnya telah Anda isi dengan benar, maka selanjutnya Anda akan diminta mengisi domain atau alamat blog yang Anda inginkan (http://xxxxxxx.wordpress.com) serta judul blog Anda.
Bila sudah, klik tombol “Signup>”.
5. Sesudah itu, Anda akan menerima pemberitahuan bahwa konfirmasi untuk mengaktifkan blog Anda sudah dikirim ke alamat e-mail yang tadi Anda isikan. Anda juga diminta mengisi profil berupa nama depan, nama belakang dan gambaran tentang diri Anda. Sesudah Anda mengisinya, klik tombol “Save profile”.
6. Profil Anda sudah disimpan. Sekarang Anda harus membuka e-mail untuk mengaktifkan blog Anda.
Klik link yang diberikan oleh wordpress.
7. Akun sekaligus blog Anda sekarang telah aktif.
Kilk “View your site” bila Anda ingin melihat bagaimana hasilnya blog Anda tadi. Namun bila Anda ingin mengisinya atau mengatur tampilannya, klik “Login”.
8. Isi Username dan Password Anda, kemudian klik tombol “Log In”.
Untuk login yang berikutnya, Anda bisa mengetik pada browser Anda: http://alamatbloganda.wordpress.com/wp-admin
9. Bila username dan password Anda benar, maka akan terlihat halaman dashboard seperti di bawah ini.
10. Untuk mulai memposting, Anda bisa langsung mengisi postingan Anda pada kolom QuickPress yang ada di samping kanan. Klik tombol “Publish” bila sudah.
11. Postingan Anda sudah terbit. Sekarang coba lihat blog Anda dengan mengetikkan alamat blog Anda pada browser. Bagaimana?[]
Baca lanjutannya......
Oleh: Anshor FPP
http://anc4yimuet.blogspot.com
Sejak awal aku memang punya minat yang besar dalam hal tulis-menulis. Berawal dari membaca novel cinta My Heart, aku pun berkeinginan menciptakan sebuah novel cinta. Tapi sayang, sampai sekarang belum ada satu novel pun yang berhasil kuliris. Aku kekurangan ilmu olah bahasa, juga ilmu-ilmu pendorong lainnya yang bisa membantuku untuk menjadi seorang novelis. Aku terhenti.
Sampai kudengar di pesantrenku ini ada sebuah forum pembelajaran kepenulisan. Hatiku terpanggil untuk bergabung. Tapi belum jelas apa nama forum itu, juga dengan siapa aku bisa mengajukan diri untuk bergabung.
Aku terus mencari informasi. Semua teman-teman sudah kutanya. Tapi ternyata mereka sama sekali tak tahu menahu tentang forum itu. Ya wajar saja, waktu itu kami kan baru hendak naik ke kelas dua Tsanawiyah jadi masih belum terlalu terbiasa bergaul di pesantren ini. Apalagi aku yang orangnya terkesan cuek. Jadi susah untuk akrab dengan orang lain. Dan setelah mencari hampir setengah tahun lamanya, tepatnya tiga bulan tiga mingguan barang kali, akhirnya kutemukan juga apa yang kucari itu. Siang itu, kulihat temanku Aziz sedang asyik mencorat-coret bukunya. Aku jadi penasaran apa yang sebenarnya dia coret. Dan ternyata dia sedang menulis cerpen. Hah,cerpen..?! Iya, cerpen!
Saat kutanya untuk apa dia nulis cerpen, dia menjawab bahwa itu adalah tugas dari FPP. Oh ternyata nama Forum itu FPP. Aku langsung menanyakan banyak hal. Mulai dari apa FPP itu sebenarnya, apa saja kegiatannya, siapa pendirinya, ketuanya, dan pastinya tentang bagaimana caranya untuk bergabung di sana. Aziz bilang, sebenarnya aku bisa saja langsung ikut dalam pertemuan FPP yang diadakan malam itu dan langsung resmi menjadi anggota tanpa perlu mendaftar macam-macam. Tapi aku menolaknya, kurasa itu kurang berkesan. Kupinta Aziz menyampaikan niatku untuk bergabung kepada Zian selaku ketua dan pembimbing saat itu. Terpaksalah aku minta tolong kepada Aziz, karena dia memang seniorku jadinya lebih banyak tau tentang pesantren ini daripada aku.
Singkat cerita, sejak itu aku pun aktif dalam FPP. Dan setelah dua bulan aku bergabung, nama FPP sudah menyebar ke seantero pesantren. Ini semua adalah buah dari kejeniusan sang pembimbing FPP, ZIAN ARMIE WAHYUFI. Dapat dilihat di mading pesantren, setiap edisinya diisi oleh karya anak-anak FPP. Ditambah lagi dengan embel-embel FPP di belakang nama pencipta karya itu makin mengokohkan bahwa FPP telah berhasil menanamkan bibit-bibit penulis yang kelak mungkin bisa menjadi penulis nomor wahid Indonesia. Itu mungkin saja terjadi kalau melihat semangat sang pembimbing yang menggebu.
Sekarang FPP telah mampu menerbitkan majalah yang sepadan dengan majalah sastra luar. Namun kayaknya sang pembimbing akan merubah total FPP, yang asalnya adalah tempat pembelajaran kepenulisan menjadi sebuah komunitas penulis yang di dalamnya hanya ada orang yang benar-benar suka menulis. Menjadikan menulis sebagai keindahan, bukan suatu beban yang melelahkan.
Baca lanjutannya......