Puisi-puisi Zian Armie Wahyufi
23.00 | Author: Forum Pena Pesantren


Oleh: Zian Armie Wahyufi

Atas Namamu


Aku hanya ingin bilang
Bahwa kabut ini telah habis ditelan musim
Memuntahkan rautan-rautan wajah segala harap
Serupa tangisan bayi di tengah malam

Aku hanya ingin bilang
Bahwa mungkin ucap ini tak akan keluar
Menjelma kata-kata yang penuh putus asa
Lewat segaris musim

Aku hanya ingin bilang
Bahwa jalan ini sepi sunyi
Dan aku lumpuh sebelum kau tekuk
Bahwa aku menangis atas namamu

April 2009
(Literasi edisi I)



Aku Ingin Tidur


Apa yang tertinggal darimu
selain jalan aspal yang semakin berpasir
serta atap kamarku yang bertambah bocor?
Sesudah isya ini
tak ingin lagi kubaca semua

Menghanyutkanmu dari mimpi
Telah membulat dalam dada
Menghentak kata yang merajam
Meski, pagi tadi wajahmu kembali menyeruak
Hingga perih
Belum juga membawa angin
Angin yang menyesak di sekujur tubuh
Angin yang melemparku sebelum aku shalat subuh!

Bernyanyilah…
Aku ingin tidur saja!

Mei 2009
(Literasi edisi II)


Doa Bersama Hujan


Aku tak pernah berdoa
Kau kirimkan butiran ebun dari subuhmu
Sebab lukisan wujudmu belum juga punah

Aku tak pernah berdoa
Kau kembali mengantar mimpi
Meski, kau telah hilang sebelum malam

Aku tak pernah berdoa
Namaku kau sebut bersama hujan
Setelah hari-hariku diisi badai

Biar…
Biar sepi menjerat tidurku
Siapa tahu, kau yang berdoa untukku

17 Juli 09
(Radar Banjarmasin, Minggu, 20 Desember 2009)


Batakan di Hati


Gulungan ombak
Menari bersama angin yang menderu
Hatiku pun terbawa, syahdu

Ada harapan
Pada pasir-pasir basah dan batu pantai
Ada mimpi
Pada kepiting dan kerang yang terdampar
Ada doa
Pada tambatan kapal-kapal nelayan

Kami berlari
Dalam siraman sinar matahari
Dibuai pesona laut dan indahnya kebersamaan ini

Jiwaku bergetar
Mimpiku berdendang
Semua ini, takkan tergantikan

Batakan, 9 oktober 2009
(Literasi edisi III)


Satu Senja di Tepian Barito


Bayang-bayang telah meregang
Menahan sesak sebelum malam
Ah, boleh aku bertanya?
Kala kulihat kebekuan luka
Masihkah kita mencicil duka?

Sungai Barito yang bisu
Yang menjingga serupa masa lalu
Sesal ditelan kenangan seperti jejak-jejak ilung
Aku menoreh harap, meski hati berwujud sendu

Sesal angin yang kuuntaikan dengan tasbih
Riak sungai merangkul jiwaku yang kecil
Kemana kau pergi?
Aku menggigil dalam sunyi

19 Nov 09
(Radar Banjarmasin, Minggu, 20 Desember 2009)


Aku Adalah…


Aku adalah kata-kata yang takkan selesai
Aku adalah deretan kalimat yang bertaburan laksana debu
Aku adalah sebuah cerita, di mana kau bersembunyi di sana,
di sudut-sudut yang mengantar mimpimu
Aku hanyalah tulisan pada sehelai kertas buram
Aku cuma mencoba membuat jembatan,
dalam pikiran-pikiranmu yang tak pernah kumengerti.

Kembang Habang, 13 Mei 2010
(Literasi edisi VI)


Tet Tet Tet


Sejadi siang tanpa hujan
Keranda mayat nan elok melukis mantra
Siapa yang berlari di tengah sawah
Di reruntuhan langit
Rokok mengepul, anak-anak melompat ke sungai
tet tet tet….
oh, sms yang itu lagi
“pagi layu, purnama mati”

Juli 2010
(Media Kalimantan, Minggu, 3 April 2011)


Piano


Biar waktu lebur sebagai debu
menganak sungai dan bekas rumah dari kertas
angin sore, menulis diary tentang kekasih
cuma radio dan kata
kita kan berjumpa juga
habis malam, habis kabut
menderu di atas aspal
Al fatihah sampai habis Yasin
suara kita sesak, tersengal dalam cerpen
kau menjudulinya Piano

September 2010
(Media Kalimantan, Minggu, 3 April 2011)


Senja


Senja buram di pelupuk mata
Sementara kuharap kita masih terbuai dalam bahasa kita
Meski, bahasamu hanya bisu, yang merekah dan tumpah
Di antara temaram lampu-lampu taman
Serta gerimis dan hujan
Merintik menjadi sajak
Bertingkah, pongah
Maka bait-bait kini kehilangan nafas
Walau yang paling vulgar sekalipun
Sebab senja tak memiliki kata
Sebab aku masih tersesat memburu makna!

November 2010
(Media Kalimantan, Minggu, 3 April 2011)


Secangkir Teh di Malam yang Berkabung


Biar kupinjam lelah penatmu yang tergulir pada paragraf-paragraf yang belum selesai
Tua menghitung waktu demi waktu berlumur teh
Karena giliranmu telah sampai di titik kulminasi paling rindu
Seperti kata dalam benakmu
Seperti bias senja, sebelum hujan satu persatu membasuh hatimu
Lantas, pertanyaan lama itu bisu kembali
Dan sungai menggiring senja ke muara
Kemudian, diam-diam aku melipat malam!

Mandastana, Februari 2011
(Media Kalimantan, Minggu, 3 April 2011)


Krak!


Kau tulis sajak
Kau tulis jejak
Kau tulis serak
Kau tulis berontak
Kau tulis gejolak
Kau tulis bentak
Kau tulis sorak
Kau tulis teriak
Kau tulis sesak
Kau tulis Bapak
Kau tulis Anak
Kau tulis sentak
Kau tulis gertak
Kau tulis benak
Kau tulis jarak
Kau tulis hentak
Kau tulis gerak
Kau tulis detak
Kau tulis retak
Kau tulis kelak
Kau tulis tebak
Kau tulis hendak
Kau tulis tidak

April 2011
(Radar Banjarmasin, Minggu, 10 Juli 2011)


Malam


Larut malam lagi aku pulang
Langit gelap
Gerimis beranak-pinak

Banjarmasin, 27 April 2011


Anak Sungai


Kita menyaksikannya setiap hari
Gunung-gunung hitam lewat perlahan menyisir di atas sungai kita
Mereka beriringan
Katamu, itu emas kita yang didonorkan ke dalam perut mereka
Katamu lagi, mereka kelaparan, maka kasianilah
Hati-hatilah, pesanku padamu
Rumah kayumu di bibir sungai bisa remuk kena serempet tongkang seperti itu
Atau jukungmu tenggelam ditindih gelombangnya
Tenanglah, aku bisa menuntutnya seharga sepeda motor, jawabmu lepas
(Aku beranjak pamit sehabis mendedah salam)
Aku sudah punya HP, nanti kau ku-SMS, senyummu lagi
(Dan kita pun lantas berpisah)

Handil Bakti, 11 Mei 2011
(Radar Banjarmasin, Minggu, 10 Juli 2011)


Tentang


Ini tentang keakanan
Pada waktu yang entah kapan
Tentang dongeng kesetiaan
Pada cinta yang kau lupa telah dedahkan

12 Mei 2011


Tentang Gelombang


Lalu tangis kita pecah
Pada laut, yang tertanam dalam pelarian kita
Sauh yang diangkat
Lengang panjang desir angin
Kita tercerabut, karena jatuh cinta terlalu cepat
Sekejap isapan sebatang rokok di siring sungai
Sungai itu kini bergelombang
Akan kau layari samudraku
Siang malam akan menjadi satu

Mandastana, 22 Mei 2011
(Radar Banjarmasin, Minggu, 10 Juli 2011)


Lelah


Tapi kehidupan telah jauh terlupakan
Dan aku bosan mengeja “setidaknya”
Dibawa kendaraan yang berlalu-lalang
Berlalu
Maka aku tergeragap
Kebisuan telah menjadi mimpi bagi kealpaan
Satu klausa yang dijanjikan
Lampu kota menyala
Menembus debu, sebutir debu
Nafas kentut yang diagung-muliakan
Lalu jalanan telah rata beralas aspal
Ah, lelah

Handil Bakti, 29 Mei 2011
(Media Kalimantan, Rabu, 15 Juni 2011)


Kampung Batu


Buat apa kau datang ke kampungku
Di sini orang-orang telah menjadi batu
Lantaran durhaka pada mama-abahnya
Batu-batu itu pun kini telah lebur jadi debu, terbang beserta angin yang ribut
Sisa aku di sini—yang juga telah durhaka, menunggu jadi batu dan debu
Mama-abah pergi umrah
Jadi, masih tertarik datang ke kampungku?

Juni 2011
(Radar Banjarmasin, Minggu, 10 Juli 2011)


Banjarbaru-Marabahan


Jalan pulang lebih panjang
Di sini musim tak mau berganti
Kami lahir, lalu mati
Sawah kami terbakar darah
Sawah kami tak juga berbuah

Jagaku tergopoh, ke hutan yang kosong
Ingin hujan lekas bertamu: aku rindu

Sepasang sepatu
Masih mengecap peluhku
Bagaimana dengan tanah dan lumpur yang menuakan kita?

Ada yang bergemeletuk
Ada langkah tersaruk
Lampu kota dinyalakan
Kugilas busuk di lembaran-lembaran koran
Aku keluar rumah
Ada pekat
Ada suara menyalak
Di lazuardi, batas kota semakin samar…

Mandastana, 17 Juli 2011
(Media Kalimantan, Sabtu, 23 Juli 2011)


Setahun Setamat Pesantren


Memangnya masih penting aku menyimpan peci?
Lalu jas siapa puluhan juta ini?
Dan paha-paha menganga di TV dan jalan, bukan?
Serta pantat yang menyembul itu, kawankukah?

Ohoi… Itukah eskapisme?
Sinetron-sinetron itu, iklan-iklan itu, Duta Mall itu?
Di mana aku?
Siapa aku?!

Mandastana, 24 Juli 2011


Seorang Wanita


Ia datang kepadaku
menggebu-gebu
“Terbitkan puisi ini!”

Ia datang lagi kepadaku
menggerutu
“Puisiku telah dirampas!”

Ia terus datang kepadaku
mengacung sebilah mandau
“Puisi berarti darah!”

Ia tak pernah datang lagi
meninggal sepucuk surat
“Aku hanyalah puisi… hanya puisi…”

Mandastana, 31 Juli 2011
_________________________________________________________________


Zian Armie Wahyufi

Lahir di Rantau (25 Juni 1991), menghabiskan masa bermain di Marabahan, lalu nyantri di Pon Pes Al Falah Putera Banjarbaru (ketika di Pon Pes Al Falah Putera itulah, ia bersama rekannya M. Noor membangun Forum Pena Pesantren). Tamat satu tahun yang lalu, kini telah semester III di STIKES Muhammadiyah Banjarmasin, jurusan S1 Keperawatan.
Hobi menulis sejak di SDN Tabing Rimbah 2, dan tulisan-tulisannya biasa dimuat di harian Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin, Media Kalimantan, dan buletin Serambi Ummah. Salah satu ceerpennya dibukukan dalam antologi cerpen Tembok Suci (MinggurayaPRESS, April 2011). Kebanyakan tulisannya juga diposting di blog pribadinya http://zianxfly.wordpress.com.
Bisa dihubungi melalui e-mail: zianxfly@gmail.com.

This entry was posted on 23.00 and is filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

1 komentar:

On 16 September 2013 pukul 21.54 , Cici mengatakan...

suka puisinya,, bagus :-)